Image

Infrastruktur Kelistrikan Asia Butuh Kucuran Investasi USD14,7 Triliun

Dedy Afrianto, Jurnalis · Selasa 21 Maret 2017, 11:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 03 21 320 1647991 infrastruktur-kelistrikan-asia-butuh-kucuran-investasi-usd14-7-triliun-ieDjCewjR4.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

JAKARTA -  Asian Development Bank (ADB) mencatat bahwa kawasan Asia yang sedang berkembang perlu berinvestasi sebesar USD26 triliun selama 2016-2030. Angka ini setara dengan USD1,7 triliun per tahun.

Perkiraan kebutuhan investasi senilai USD1,7 triliun per tahun ini mencapai lebih dari dua kali lipat perkiraan ADB sebelumnya pada 2009, yaitu sebesar USD750 miliar. Dimasukkannya investasi yang berkaitan dengan iklim adalah faktor utama penyumbang kenaikan tersebut.

Faktor yang lebih penting adalah pertumbuhan pesat yang diperkirakan akan terus berlanjut di kawasan ini, sehingga mendorong kebutuhan infrastruktur baru. Dimasukkannya seluruh 45 negara anggota ADB di kawasan Asia yang sedang berkembang (dibandingkan dengan 39 negara pada laporan 2009), serta penggunaan harga 2015 (versus harga 2008) juga menjelaskan peningkatan tersebut. 

Dari kebutuhan total yang sudah disesuaikan untuk iklim selama 2016-2030 ini, diperlukan USD14,7 triliun untuk investasi di sektor listrik dan USD8,4 triiiun untuk sektor transportasi. 

Adapun Investasi untuk sektor telekomunikasi akan mencapai USD2,3 triliun. Sementara itu, investasi pada sektor air dan sanitasi akan memerlukan USD800 miliar selama periode tersebut. 

"Kita lihat investasi pada sektor infrastruktur di Asia terus tumbuh," kata Deputy Chief Economist, ADB Juzhong Zhuang di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Saat ini, kawasan Asia menginvestasikan sekitar USD 881 miliar per tahun pada infrastruktur. Hanya saja, tercatat terjadi perbedaan kesenjangan investasi infrastruktur, yaitu perbedaan antara kebutuhan investasi dan tingkat investasi saat ini-setara dengan 2,4% dari proyeksi PDB selama periode 5 tahun dari 2016 sampai 2020. 

Dalam skenario yang telah disesuaikan untuk iklim, China memiliki kesenjangan 1,2% dari PDB. Apabila China tidak dihitung, kesenjangan tersebut akan naik jauh lebih tinggi, yaitu menjadi 5% dari proyeksi PDB untuk 24 negara  lainnya.

"China masih diduduki peringkat tertinggi investasi. Yaitu 6,8% dari GDP, sedangkan Indonesia baru 2,6%," ungkapnya.

(kmj)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini