Image

Ganti Rugi Lahan Bandara, Perbankan Panen Dana Murah

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 06 April 2017, 13:03 WIB
https img z okeinfo net content 2017 04 06 320 1660414 ganti rugi lahan bandara perbankan panen dana murah QMnGAXu2QP jpg Ilustrasi: Okezone

YOGYAKARTA – Pembayaran ganti untung lahan terdampak Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) membawa angin segar bagi kalangan perbankan. Di Kulonprogo, kini dana pihak ketiga (DPK) mengalami peningkatan signifikan, bahkan cenderung berlebih.

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Yogyakarta Ascar Setiyono mengakui jika dana ganti untung pembebasan lahan terdampak Bandara NYIA banyak yang mengalir ke perbankan, baik bank umum ataupun BPR. Meski belum mendapatkan data secara detail angka peningkatan tersebut, ia mengatakan ada peningkatan cukup signifikan. "Sekarang cenderung berlebih," tutur.

Di Kulonprogo, ada BPR yang memiliki kantor pusat di kabupaten ini, masing-masing Perusahaan Daerah (PD) Bank Pasar Kulonprogo, BPR Nusamba Temon, dan BPR Sinta Putra Pengasih. Namun, yang mendapat pasokan dana pihak ketiga cukup besar adalah PD Bank Pasar Kulonprogo dan BPR Nusamba Temon.

Ascar mengungkapkan, DPK berasal dari ganti untung lahan terdampak bandara ini termasuk berbiaya murah, karena masyarakat bersedia menyimpan uangnya di BPR dengan bunga di bawah 6%. Tentu hal ini menjadi sebuah peluang bagi kalangan BPR meski ada beban tertentu.

Menurut Ascar, dengan dana murah tersebut, BPR seharusnya bisa mengalokasikan dana tersebut dengan beban bunga yang murah pula. Alhasil, kredit yang mereka alokasikan bersumber dana murah tersebut semakin diminati oleh nasabah ataupun calon nasabah. Hanya, ada beban tersendiri bagi kalangan BPR itu sendiri.

Sebab, BPR harus sesegera mungkin bisa mengalokasikan dana murah tersebut dalam bentuk kredit. Meski dana murah, BPR tetap memiliki beban untuk membayar biaya bunga kepada nasabah yang tentunya jika dikalkulasi tidak sedikit. "Pekerjaan rumahnya tentu BPR harus bisa segera menyalurkannya. Kalau tidak, justru jadi bumerang," tuturnya.

Ada beberapa program yang sebenarnya bisa diterapkan oleh kalangan BPR untuk dana murah hasil dari simpanan ganti untung lahan terdampak Bandara NYIA. Selain kredit berbunga murah, BPR juga bisa memberikan program back to back atau bisa memberikan pembiayaan konsumtif dengan jaminan dari dana yang disimpan tersebut.

Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Fauzi Nugroho mengatakan, adanya dana ganti untung lahan terdampak Bandara NYIA tersebut memang membawa pengaruh positif bagi dunia perbankan. Dan, yang paling terasa adalah sektor konsumtif terutama pembelian kendaraan bermotor mengalami peningkatan. "Tetapi, peningkatannya berapa kami belum tahu angka pastinya. Karena, memang tidak ada kewajiban lembaga keuangan melaporkannya," ungkapnya.

Memang, selama ini ada kekhawatiran sebagian pihak jika dana tersebut digunakan hal yang bersifat konsumtif. Tetapi, pihaknya memaklumi hal tersebut mengingat pasokan dana yang cukup besar. Pihaknya tidak bisa mencegah masyarakat bersikap konsumtif karena tidak memiliki kewenangan.

Pihaknya hanya bisa mengimbau kepada masyarakat agar tidak berperilaku konsumtif.

Kepala Cabang Nasmoco Janti Agus Partono mengakui ada peningkatan penjualan unit mobil Toyota dari Nasmoco. Hanya, peningkatannya sekitar sebulan setelah pencairan dana ganti untung lahan terdampak bandara. Peningkatannya pun tidak begitu besar karena hanya di bawah 10%. "Peningkatannya kecil. Bahkan, ada kecenderungan pasar justru menurun," tuturnya.

Kenaikan penjualan hanya ada pada mobil kelas low multi purpose vehicle (MPV) seperti Avanza, Innova, Agya, ataupun Siagra. Sementara untuk kelas premium seperti Fortuner sangat kecil sekali, tak lebih dari 10% dari total penjualan Toyota di Kulonprogo. Pasar Kulonprogo selama ini memang dikenal masih kecil, kalah dibandingkan dengan tiga kabupaten Kota lainnya di DIY. Kulonprogo berada di urutan keempat setelah Sleman, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul.

Direktur PD Bank Pasar Kulonprogo Rita Purwanti Ernawati mengatakan pasca pembayaran kompensasi bagi warga terdampak bandara, pihaknya ikut mendapatkan dana segar. Setidaknya untuk dana pihak ketiga (DPK) dari masyarakat yang masuk sekitar Rp20 miliar.

“Sebagian besar berupa deposito jangka pendek maksimal tiga bulan,” jelas Rita. Diakuinya, untuk mendapatkan DPK dari masyarakat bukanlah perkara mudah bagi BPR. Mereka masih harus berjibaku dengan banyaknya perbankan yang menawarkan layanan yang fasilitasnya yang hampir sama. Belum lagi ada penawaran investasi, asuransi hingga peluang usaha. “Kebanyakan dana mereka masuk ke bank pemerintah yang ditunjuk. Kita juga harus bersaing dengan mereka,” tuturnya.

Bank Pasar mengincar dana kompensasi untuk tanah kas desa. Hanya saja sampai saat ini belum ada kepastian kapan kompensasi atas tanah kas desa, bengkok dan pelungguh akan dibayarkan. “Sebenarnya kita juga menawarkan kerjasama dengan pengembang sampai proses pembangunan bagi warga terdampak, tetapi belum ada yang deal,” jelasnya.

Direktur Bank BPD Cabang Wates Cristina Hariasih mengatakan, mereka tidak banyak mendapatkan dana pihak ketiga dari masyarakat terdampak bandara. Mereka hanya mampu menampung sekitar Rp50 miliar saja. Ini tidak lepas dari mekanisme pencairan yang menunjuk bank nasional, BNI, BRI dan Bank Mandiri. Mereka hanya dipercaya untuk menangani dana dari warga yang mengambil jatah relokasi.

Setidaknya ada sekitar Rp35 miliar yang sudah ditampung dalam rekening warga yang mengambil relokasi. Sedangkan mereka masih menunggu kepastian penyaluran kompensasi atas asset dan dana kas desa. “Kita akan sosialisasi warga terdampak untuk buka rekening yang akan mengambil relokasi,” ujar Ina, biasa dia disapa.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini