Image

Bandara Baru Yogya, Begini Perkembangan Pembebasan Lahannya

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 06 April 2017, 13:31 WIB
https img z okeinfo net content 2017 04 06 320 1660442 bandara baru yogya begini perkembangan pembebasan lahannya WJ2exCSiX3 jpg Ilustrasi: Okezone

KULONPROGO– PT Angkasa Pura I tidak berani menjamin bisa melakukan appraisal ulang bangunan, tanah, dan tanaman milik warga. Pihaknya berdalih kewenangan tersebut ada di tangan Badan Pertanahan Nasional (BPN), sedangkan PT AP I hanya sebagai juru bayar.

“Kalau urusan itu menjadi ranah BPN selaku panitia pengadaan tanah,” kata Project Manager Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) Sujiastono.

Sujiastono mengakui bahwa mereka telah bertemu dengan tokoh Wahana Tri Tunggal (WTT) yang awalnya menolak bandara. Namun, dalam perkembangannya ada sekitar 35 kepala keluarga (KK) yang merelakan dan minta dilakukan pengecekan, khususnya menyangkut bangunan rumah dan tanaman. Sementara untuk data tanah sudah ada sejak tim awal melakukan pendataan.

Hasil pendataan yang di lakukan oleh tim di lapangan inilah yang akan menjadi bahan untuk mengajukan diskresi (permohonan keringanan) ke pusat. Jika nanti disetujui dan akan dilakukan appraisal independent , hasil dari itu baru akan dibayarkan oleh Angkasa Pura dan itu pun harus melalui persidangan di Pengadilan Wates.

Namun, PT AP I tetap akan mengupayakan dilakukan koordinasi untuk mendapatkan solusi terbaik. Apalagi, dari 35 warga yang mengajukan dengan jumlah 76 bidang luasannya mencapai 35 hektare. Warga ini sudah mengajukan diskresi kepada Kanwil BPN DIY dengan rekomendasi cap dari kepala desa setempat, camat, hingga bupati Kulonprogo. “Harapan kita semuanya bisa mengajukan diskresi, karena masih ada 40-an yang belum mau,” ujarnya.

Project Secretary Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) Didik Catur mengatakan, diskresi akan diajukan kepada Kementerian ATR/ BPN oleh Kanwil BPN DIY. Meski belum ada kepastian, hal ini tidak akan menghalangi proses pembangunan.

Semuanya akan dilakukan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Lahan bersengketa yang sudah dalam proses konsinyasi di pengadilan prosesnya juga akan berjalan terus. Saat ini ada 145 bidang tanah teregister dari 357 bidang tanah yang masuk data konsinyasi. Sebanyak 47 bidang sudah dilakukan penitipan nilai ganti rugi di PN Wates dan satu bidang sudah dilakukan pengambilan nominal yang dititipkan. “Bagi warga yang sudah menerima konsinyasi, segera mencairkan dananya,” tandasnya.

Untuk mempercepat proses pembangunan NYIA sejak Maret lalu dilakukan proses pembongkaran (demolish ) bangunan di lokasi calon bandara. Pembongkaran dilakukan Angkasa Pura Property (APP) atas bangunan di atas tanah PAG yang ada di Glagah.

Bangunan ini berupa hotel dan penginapan yang sudah dikosongkan pemiliknya setelah pembayaran kompensasi. Setidaknya ada 22 unit bangunan yang akan dibongkar dan hingga Selasa (4/4) ada tujuh bangunan yang sudah rata tanah. Pembongkaran ini dilakukan secara borongan oleh Primkopau di bawah Satradar Congot. Pembongkaran dilakukan secara manu al maupun dengan alat berat.

“Kami hanya merobohkan, menurunkan kayu dan genteng untuk diinventarisasi Angkasa Pura. Sementara pekerjaan merapikan nanti lain pihak lagi,” kata mandor lapangan pembongkaran Karyoto Suryo dari Primkopau.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini