Image

Penting, Waspadai Investasi Keuntungan Tinggi

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 10 April 2017, 11:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 04 10 320 1663234 penting-waspadai-investasi-keuntungan-tinggi-xMAdKolzWE.jpg Ilustrasi: Okezone

TAHUN 2014 lalu, masyarakat dibuat heboh kehadiran arisan Mavrodi Mondial Moneybox dari Rusia. Di Indonesia, arisan ini diadopsi menjadi Manusia Membantu Manusia (MMM). Arisan MMM adalah bentuk investasi keuangan yang menawarkan bunga 30% setiap bulannya tanpa melakukan usaha apa pun.

Sistemnya, setiap anggota membuat akun di website MMM dengan paket dana sesuai keinginan, yakni minimal Rp1 juta dan maksimal Rp10 juta. Transaksi dilakukan langsung antar anggota. Setelah mendaftar dalam waktu tigalima hari, anggota diminta mentransfer uang sesuai pilihan paket.

Akan tetapi, uang ditransfer ke dalam rekening anggota lain yang telah ditentukan dalam sistem MMM. Satu bulan kemudian, pendaftar tersebut dijanjikan mendapat bunga 30% dari uang yang disetor.

Setelah sekian bulan beroperasi, di tahun yang sama, OJK menyatakan MMM bukan produk investasi. OJK telah menerima 28 laporan dari 117 peserta MMM. Pertanyaan yang paling banyak disampaikan adalah mengenai aspek legalitas dan mekanisme pengawasan MMM.

OJK menyatakan MMM bukanlah Lembaga Jasa Keuangan (LJK) yang melakukan kegiatan usaha di sektor keuangan sebagaimana diatur dan diawasi oleh OJK, sehingga program MMM Indonesia tidak mendapatkan izin usaha.

Setelah MMM tenggelam, kini muncul E-Dinar Coin (EDC). EDC merupakan cryptocurrency (uang elektronik) yang dapat digunakan untuk membayar produk, barang dan jasa. EDC adalah mata uang crypto seperti halnya Bitcoin. Bedanya, EDC dikembangkan melalui sistem jaringan. Jenis investasi ini secara sistematis merupakan suatu model rumit yang unik dalam perkembangannya.

“Ketika ingin memiliki rekening EDC, kita harus membeli dalam bentuk rupiah dan nanti dapat koin EDC. Satu koin setara dengan Rp13.000,” kata Gatot (bukan nama sebenarnya), salah satu pemilik rekening EDC di Surabaya.

Menurut dia, investasi di EDC sangat menggiurkan. Pasalnya, dalam rentang satu bulan imbal hasil yang diperoleh bisa mencapai 20% dari modal awal. Dia sendiri sudah satu bulan ikut EDC. Awalnya dia memiliki 64 koin dan saat ini sudah berkembang menjadi 80 koin. Mengingat imbal hasil yang menjanjikan, dia mengajak sejumlah teman-temannya untuk ikut bergabung.

“Imbal hasil yang tinggi didapat karena semua transaksi masih dikendalikan oleh komunitas. Beda lagi kalau sudah dilepas ke pasar uang secara bebas, hasilnya tidak begitu tinggi,” ujarnya.

Mohammd Mahmud, mengaku pernah kehilangan uang pemilik rekening EDC Rp10 juta ketika ikut produk investasi dari Dream 4 Freedom. Pria asal Lamongan ini mengaku tertarik karena keuntungan yang ditawarkan 20% setiap bulan dari modal yang disetor. Lantaran tergiur dengan keuntungan, diapun mengabaikan legalitas dari arisan berantai sistem yang bernaung di bawah PT Promo Indonesia Mandiri tersebut. “Tapi, menginjak bulan ketiga dan keempat, sistem error terus dan hilanglah uang saya,” katanya.

Investasi dalam bentuk ragam dan jenisnya, kian akrab di masyarakat seiring tingkat pendapatan yang diperoleh. Investasi, terutama di pasar modal sangat menarik lantaran menawarkan return yang tinggi jika dibanding investasi jenis lain seperti emas dan properti. Namun begitu, nasabah harus cermat dan cerdas dalam memilih investasi jika tidak ingin rugi besar.

Pasalnya, dalam keuntungan yang tinggi, tersimpan risiko yang tinggi pula (high risk, high return). Biasanya, perusahaan investasi menawarkan produknya di saat dunia perbankan menawarkan suku bunga simpanan yang rendah. Perusahaan sekuritas itu akan menawarkan suku bunga tinggi. Bisa sampai diatas 10% hingga 20%. Perusahaan investasi ilegal alias bodong memiliki banyak modus.

Diantaranya model future trading,reksadana, obligasi, saham, properti hingga agrobisnis. Pelaku investasi bodong biasanya tetap berjalan meski sebelumnya perusahaannya ditutup lantaran tidak berizin dan merugikan nasabah. Biasanya mereka bergonta ganti nama perusahaan atau koperasi dan berpindah wilayah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional (KR) 4 Jatim meminta masyarakat meneliti setiap penawaran investasi saham dengan imbalan pengembalian dana yang menggiurkan.

Pasalnya, banyak ditemukan perusahaan investasi yang bodong atau melakukan penipuan dengan tawaran imbal hasil tinggi. “Kami di OJK telah mencatat hampir sekitar 80 perusahaan yang menawarkan investasi adalah bodong. Jumlah itu naik dari 2015 hanya ada 30 perusahaan,” kata Ketua Bidang Pengawasan Penanaman Modal Investasi OJK KR 4 Jatim, Deddy Herlambang.

Saat ini, pihaknya mendeteksi satu perusahaan investasi ilegal di Jatim. Namanya PT Cipta Multi Bisnis Grup di Sidoarjo. Perusahaan ini memberi imbal hasil yang di luar batas kewajaran. Sayangnya, hingga saat ini pihaknya belum sempat bertemu dengan pemilik perusahaan tersebut. Pihaknya juga belum menerima laporan resmi dari masyarakat terkait investasi bodong.

“Kami baru dapat menyelidiki adanya perusahaan investasi ilegal setelah menerima laporan resmi dari masyarakat,” katanya.

Dia berpendapat, ada masyarakat yang menjadi korban investasi ilegal di Jatim. Namun, mereka merasa malu dan takut untuk melaporkan. Tidak menutup kemungkinan pula, masyarakat tidak melapor karena masih berharap uangnya bisa kembali. Deddy berharap masyarakat yang menjadi korban investasi bodong ini berani melapor ke pihak berwenang.

Dengan adanya laporan resmi, maka OJK bersama pihak berwenang lainnya dapat segera menindak perusahaan yang merugikan masyarakat tersebut. “Kalau ada laporan ya kami tindak. Persoalannya nasabah tidak ada yang mau melapor,” keluhnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Surabaya, Dewi Sriana Rihantyasni mengakui, maraknya investasi bodong mengakibatkan rendahnya pertumbuhan jumlah investor di pasar modal.

Padahal bursa menargetkan pertumbuhan jumlah investor sekitar 12.000 nasabah hingga akhir 2017. Menurut Ana, panggilan Dewi Sriana Rihantyasni, maraknya investasi bodong yang menjanjikan keuntungan besar membuat masyarakat tertipu.

Padahal di satu sisi masyarakat ketika mendapat tawaran investasi selalu berorientasi pada keuntungan. “Karena ada banyak pemberitaan terkait investasi ilegal yang merugikan, sebagian masayarakat akhirnya takut berinvestasi, meskipun itu perusahaan resmi,” katanya.

OJK Kesulitan Tindak Investasi Ilegal

Akhir tahun 2016, OJK Jatim membentuk Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi. Satgas yang terdiri dari sejumlah instansi seperti kepolisian dan kejaksaan ini dibentuk untuk mencegah praktek investasi ilegal. OJK memperkuat satgas ini dengan membentuk beberapa perwakilan daerah. Satgas Waspada Investasi ini diharapkan bisa bertindak secara cepat ketika ada temuan perusahaan investasi bodong.

“Sehingga, kerugian masyarakat bisa diminimalisir sekaligus pelakunya bisa lebih mudah diproses hukum,” kata Kepala OJK Kantor Regional (KR) 4 Jatim, Soekamto. Menurut dia, model penawaran investasi ilegal atau yang diindikasikan investasi bodong menggunakan banyak modus. Mulai koperasi, bank gelap, asuransi bodong penawaran haji dan umroh yang memanfaatkan tokoh agama termasuk para ulama.

Karena itu, pihaknya merasa perlu bekerjasama dengan banyak pihak agar semakin banyak masyarakat yang sadar akan ancaman penawaran investasi seperti ini. “Satgas Waspada Investasi akan lebih fokus pada pencegahan dan penanganan penawaran investasi yang diindikasikan bodong,” ujarnya.

Satgas Waspada Investasi, lanjut Soekamto, masih sulit melakukan penindakan terhadap lembaga-lembaga yang menawarkan investasi ilegal karena minimnya korban yang melapor secara resmi ke aparat penegak hukum.

“Jarang yang bersedia melapor. Karena mungkin korban malu karena berinvestasi pada lembaga yang ilegal. Kemudian terkadang korban merasa, ketika melapor uang mereka tidak akan bisa kembali,” pungkas Sukamto.

Head of Research and Customer Supports Monex Investindo Futures mengingatkan tentang banyaknya perusahaan investasi bodong. Kehadiran perusahaan abal-abal yang menipu itu tentu dapat merugikan nasabah. Untuk itu, dia mengingatkan, sebelum bertransaksi ada baiknya memeriksa ijin dari perusahaan yang bersangkutan.

“Ingat, bukan hanya ijin usaha saja tetapi juga ijin dari otoritas yang berwenang seperti OJK atau Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi),” tegasnya.

Hal lain yang juga patut dicek adalah iming-iming soal keuntungan. Dia mengakui bahwa, setiap bisnis ada risiko. Jika ada yang menawarkan bisnis dengan untung besar dan tanpa risiko, patut diduga itu hanya penipuan berkedok investasi. Misalnya ada yang menawarkan investasi dengan imbal balik sebulan sekitar 20% dari modal awal. Jumlah itu sangat tidak wajar dan tidak masuk akal. “Kalau ingin berinvestasi di perusahaan berjangka, juga harus dilihat bagaimana strategi perusahaan tersebut,” jelasnya.

Data dari OJK menyebutkan, 80 perusahaan investasi ilegal diantaranya, PT Cakra Pelita Investa, PT East Cape Mining Corporation (ECMC), PT Eka Pioneer Assetindo, PT Exist Assetindo, PT Glory Golden Indonesia, PT Golden Bird (Index Golden Bird), PT Golden Traders Indonesia Syariah. Kemudian ada PT Gracia Invexindo, PT Indoboclub, PT Indoglobal Samrey International, PT Investasi Mandiri, PT Legion Artha Mulia, Aset Profit, Best Link, Bisnis Cermat Anda, BJ City, Blak Blakan 2, BMA21 dan CV Kebun Mas Indonesia.

Selanjutnya GNR Coin, Platinum Resign, PT Alsi Investindo Utama, PT Virgin Gold Mining Corporation, PT Wein Group, Bina Usaha Mitra Sehat Sejahtera (BUMSS), Rapid Gold and Currency Exchange, Saranciptaonline, Mayagold. Ada pula Ruame, Amoeba Internasional, Talk Fusion, 2 Dollars Clubs, Number One Community, PT Inti Benua Indonesia, PT Compact Sejahtera Group (Compact 500), PT Inlife Indonesia, Koperasi Segitiga Bermuda (ProfitWin 77), PT Cipta Multi Bisnis Group dan PT Mi One Global Indonesia.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini