nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Indonesia Harus Buat Keputusan Produksi atau Beli Bioavtur

Agregasi Rabu 12 April 2017 11:48 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 04 12 320 1665302 indonesia-harus-buat-keputusan-produksi-atau-beli-bioavtur-QeqhpMKovD.jpg Ilustrasi: Reuters

JAKARTA - Indonesia harus membuat keputusan untuk memilih memproduksi sendiri atau membeli bio-avtur sebagai produk bahan bakar pesawat terbang yang ramah lingkungan, kata pakar penerbangan Wendy Aritenang.

"Bahan bakar bio-avtur itu sebuah keniscayaan. Ke depan tinggal memilih, mau produksi atau membeli," kata pakar penerbangan dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) Wendy Aritonang di Jakarta, disalin dari Antara.

Penggunaan bio-avtur sebagai bahan bakar penerbangan cepat atau lambat akan diterapkan, mengingat ICAO telah menetapkan target penurunan emisi dari penerbangan internasional yaitu kesepakatan "Carbon Neutral Growth" pada 2020 dan penurunan emisi dari penerbangan hingga 50% pada 2050 dibandingkan 2005.

Wendy menjelaskan bila ingin memproduksi sendiri produk bio-avtur, maka Indonesia harus mempersiapkan berbagai hal mulai saat ini. Dia menilai Indonesia memiliki beragam keanekaragaman hayati yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pengembangan bio-avtur. Namun, apabila tidak mempersiapkan diri sejak dini, maka pilihannya ialah membeli bio-avtur dari negara lain dengan biaya yang lebih tinggi dibandingkan produksi sendiri.

Bio-avtur untuk penerbangan memang bisa diproduksi melalui beberapa metoda dan dari berbagai bahan baku. Namun, kelayakan bahan bakunya harus sesuai kategori seperti bahan baku yang keberlanjutan, tingkat kesiapan teknologi yang dipakai, dan kelayakan dari sisi ekonomi.

Oleh karena itu Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui Direktorat Lembaga Penelitian dan Pengembangan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, dan melibatkan ICAO, perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri penerbangan melakukan konsolidasi dan koordinasi guna membahas pengembangan bio-avtur.

Terlebih untuk saat ini riset tentang pengembangan bio-avtur masih terbilang sedikit di Indonesia. Dengan adanya pertemuan tersebut diharapkan mendapatkan dukungan kebijakan pemerintah dalam pengembangan bio-avtur, mengidentifikasi pengembangan penelitian terkait bahan baku dan teknis produksi bio-avtur, serta membentuk satuan tugas riset pengembangan bio-avtur.

Indonesia siap mengurangi gas karbon pada penerbangan internasional sebagai tindak lanjut kebijakan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) dalam hal perlindungan lingkungan dalam kerangka perubahan iklim dan skema Global Market-Based Measure (GMBM).

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso dalam konferensi pers ICAO Regional Seminar on States' Action Plans and Carbon Off setting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) mengatakan Indonesia sudah mempunyai peta jalan (roadmap) untuk mereduksi emisi udara dari dunia penerbangan. "Hal ini mencerminkan bahwa Indonesia di bidang Indonesia sangat memperhatikan dampak terhadap lingkungan di dunia penerbangan," katanya.

Beberapa upaya mitigasi yang telah dilakukan Indonesia, di antaranya adalah penyusunan kebijakan, prosedur, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM), efisiensi prosedur operasional pesawat udara dan pemanfaatan bahan bakar terbarukan untuk pesawat udara dan energi terbarukan di bandara dengan target penggunaan bahan bakar ramah lingkungan sebesar dua persen pada akhir 2016.

Kemudian, penggunaan armada pesawat yang lebih baru dan ramah lingkungan, peningkatan manajeman lalu lintas udara dengan Performance Based Navigation (PBN), implementasi bandar udara ramah lingkungan (green airport) dan penyiapan infrastruktur implementasi "market-based measures" "Kita tahu beberapa aktivitas transportasi ada banyak dampak baik, tapi beberapa hal perlu dipertimbangkan karena berdampak terhadap lingkungan, ya paling besar ya karbondioksida," katanya.

Sejak ditetapkan dalam ICAO Assembly Resolusi A37-19, Indonesia melalui Ditjen Perhubungan Udara mulai menyusun Indonesia Action Plans yang disampaikan ke ICAO tahun 2013. "Sesuai rekomendasi ICAO di mana Action Plans harus di-update setiap tiga tahun, kami kembali menyampaikan update State Action Plans pada Juni 2015," katanya.

Secara nasional, lanjut dia Indonesia Action Plans terus di-update setiap tahun untuk memonitor progres implementasi dari setiap upaya mitigasi. Agus menambahkan saat ini Indonesia juga sedang memperbarui Action Plans dan berharap dapat segera disampaikan ke ICAO lagi. "Jadi kita punya kontribusi yang nyata untuk eliminasi emisi udara dari penerbangan," ujarnya.

Dia menjelaskan untuk mereduksi pencemaran dimulai dari pesawat terbang baik itu bahan bakar yang menyumbang pencemaran udara dari avtur juga dari material badan pesawat. "Action plan yang kita lakukan adalah untuk mereduksi pengotoran udara dari avtur, kemudian badan pesawat, struktur yang kita kombinasikan dengan material yang ringan, sehingga menghemat bahan bakar," katanya.

Terkait navigasi, Agus menuturkan pihaknya juga akan melakukan optimalisasi rute dengan menyederhanakan rencana terbang serta jalur langsung yang lebih pendek, sehingga lebih efisien. "Kemudian bandara, kita juga tengah mengembangkan konsep 'green airport' dengan desain supaya ada pengurangan energi," katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini