Image

Pentingnya Memupuk Jiwa Bisnis kepada Mahasiswa Sejak dari Kampus

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 16 April 2017, 14:25 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 04 16 320 1668695 pentingnya-memupuk-jiwa-bisnis-kepada-mahasiswa-sejak-dari-kampus-ItyJQxmtOi.jpg Foto: Koran SINDO

BANDUNGDigitalpreneur dapat sukses jika mampu memecahkan masalah lokal yang besar. Hal itu terbukti dengan kesuksesan Go-Jek yang terus berkembang setelah dinilai mampu membantu menyelesaikan masalah kemacetan dan perekonomian rakyat.

Namun, kesadaran digitalpreneur harus dibangun dengan bantuan perguruan tinggi. Apalagi banyak start up yang berasal dari kampus. “Seluruh mahasiswa harus menanamkan jiwa enterpreneur oleh kampusnya. Sehingga, mereka akan memiliki kompetensi dan keberanian untuk memulai dan mengelola usaha,” tutur Rektor Universitas Komputer (Unikom) Eddy S. Soegoto seusai Workshop Digital Start Up dan APTIKOMFest ke-1 Jawa Barat di Auditorium Gedung Baru Unikom Jalan Dipati Ukur, belum lama ini. Pembekalan jiwa enterpreneur itu bisa mendorong alumni untuk menjadi job creator.

Di Unikom, ada mata kuliah wajib yang membangun jiwa enterpreneur di semua program studi. Tugas-tugas kuliah pun diarahkan pada enterpreneur. “Tapi kami tidak ingin berhenti di tugas kuliah. Mereka harus mampu mengembangkannya menjadi sebuah bisnis,” sambungnya. Dia menyebutkan banyak usaha di berbagai bidang yang dapat dikembangkan menjadi e-business. Bisnis yang akan berkembang cepat adalah yang peka dengan masalah lokal. Hal senada pun dituturkan Ketua I APTIKOM Jawa Barat Yusuf Arifin.

Menurutnya kesempatan untuk berbisnis di dunia digital sangat terbuka. Dia menyebutkan bisnis digital banyak diinisiasi oleh perguruan tinggi. Namun perlu didorong agar mahasiswa mau melebarkan sayap bisnisnya tidak hanya di tingkatan lokal. Yusuf mencontohkan ada start up yang membuat aplikasi mencarikan warung terdekat. Aplikasi itu membantu pengguna mencari warung terdekat dengan barang yang dicari. Namun, untuk mencapai transaksi masih harus dikembangkan. Country Direktur STI Indonesia Dicky Tarmizi menambahkan digitalpreneur penting untuk fokus dengan pasar global. Saat ini telah banyak konglomerat yang membuka inkubator global dan regional.

“Kesempatan besar seperti ini jangan dibiarkan lolos begitu saja. Inkubator konglomerat memiliki jaringan dan pengalaman,” kata dia. Dirinya menyarankan digitalpreneur muda Indonesia lebih fokus menggarap pasar aplikasi. Namun dengan aplikasi yang mampu menyelesaikan masalah lokal yang besar. Saat ini Indonesia menempati peringkat 5 dalam hal mengunduh aplikasi di mana rata-rata orang Indonesia mengunduh 39 aplikasi dalam sebulan. “Pertumbuhannya pada 2016 mencapai 101%. Ini artinya separuh dari aplikasi diunduh oleh orang Indonesia,” pungkasnya.

(kmj)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini