Image

Arcandra: Masalah Freeport untuk Sementara Selesai

Dedy Afrianto, Jurnalis · Kamis 20 April 2017, 22:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 04 20 320 1672905 arcandra-masalah-freeport-untuk-sementara-selesai-6QGB9iA0X5.jpg Ilustrasi: (Foto: Antara)

JAKARTA - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Michael Richard Pence hari ini telah melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam pertemuan ini, sempat disinggung tentang masalah Freeport antara Jokowi dengan Pence.

Menurut Arcandra Tahar, saat ini, untuk sementara waktu masalah antara pemerintah dengan Freeport telah selesai. Utamanya pada persoalan izin ekspor sementara.

"Sampai saat sekarang sudah selesai," tuturnya di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Kamis (20/4/2017).

Hanya saja, izin ekspor ini hanya berlaku sementara. Pemerintah pun akan melakukan evaluasi pada hingga kurun waktu 6 bulan ke depan.

"Untuk sementara waktu selesai, namun butuh waktu sekitar 6 bulan lagi hal-hal yang belum disepakati termasuk yang disebut tadi dalam 6 bulan ini kita bicarakan. (Saat ini) sedang dilaksanakan untuk yang hal-hal disepakati itu sedang dibicarakan," tuturnya.

Diharapkan, persoalan ini nantinya dapat segera terselesaikan. Dengan begitu, tak lagi ada kendala antara pemerintah dengan Freeport.

"Kementrian ESDM kan timnya sudah ada, antar Kementerian sudah ada, Kementerian ESDM juga terlibat aktif. Kita tunggu hasilnya seperti apa," ungkapnya.

Seperti diketahui, selain Freeport, Mike Pence hari ini juga membahas tentang kerjasama ekonomi dan investasi dengan pemerintah Indonesia.

Seperti diketahui, nilai kerjasama mencapai USD 8 miliar  atau sekira Rp106,4 triliun. Tercatat, perusahaan negara yang terlibat dalam kerjasama ini di antaranya adalah Perusahaan Listrik Negara, Pacific Infracapital, Pertamina hingga Exxon.

"Itu metering di oil and gas. Itu smart matering ya. Itu sistem di mana kan selama ini metering kita manual ya. Kalau smart matering itu kan seandainya ada energi misalnya solar PV (Photovoltaic) misalnya kita punya pembangkit tenaga surya yang ada di rumah, ada energi yang masuk ke rumah, kita pakai. Kalau kelebihannya juga kita jual ke PLN. In and out energi tersebut itu memerlukan misalnya smart metering," tutur Arcandra.

Diharapkan, kerjasama ini dapat terus dilanjutkan bersama AS. Utamanya kerjasama bilateral seperti yang diharapkan oleh AS.

"Deal deal bisnisnya semua di bidang energi. Dari maslah limbah menjadi energi, geothermal, kemudian mengenai advance service unit," imbuh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

(kmj)

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini