Image

Banyak Dukungan, Tapi Masyarakat Masih Ngerem Investasi di Properti

Trio Hamdani, Jurnalis · Kamis 20 April 2017, 13:58 WIB
https img z okeinfo net content 2017 04 20 470 1672386 banyak dukungan tapi masyarakat masih ngerem investasi di properti rpyOzwsMLZ jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Industri di sektor properti mengalami fenomena yang cukup menarik. Sejak beberapa tahun belakangan masih tumbuh dengan lambat. Padahal inflasi, suku bunga, kurs Rupiah berada pada kondisi yang cukup baik.

"Perkembangan ekonomi pertama dari inflasi sudah setahun cukup rendah di bawah 4%. Satu sisi bagus, sisi lain sebenarnya ekonomi kita enggak tumbuh besar. Inflasi rendah enggak banyak pergerakan, harga relaitf stagnan," kata Kepala Departemen Riset dan Konsultasi Savills Indonesia Anton Sitorus di Kantor Savills Indonesia, Kamis (20/4/2017).

Tak hanya inflasi, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) disebutnya saat ini terbilang rendah. Mestinya dengan rendahnya suku bunga dapat memberikan stimulus terhadap sektor properti. Faktanya, suku bunga rendah tak banyak mendukung sektor tersebut.

"SBI sekarang masih sekitar 5%. Secara historis tergolong rendah. Kalau suku bunga rendah mendukung properti, tapi belakangan ini properti tak terlalu signifikan," jelasnya.

Tak sampai di situ, kurs Rupiah pun belakangan ini masih mampu menjaga stabilitasnya du kisaran Rp13 ribu per USD. Namun, hal itu tak cukup berarti untuk mengangkat geliat sektor properti yang saat ini tengah melemah.

"Dari pertumbuhan kurs Rupiah positif, stabil dikisaran Rp13 ribu enggak gonjang ganjing kayak 2015. Sekarang relatif stabil. Tapi memang belum benar-benar buat sektor properti bergerak," lanjutnya.

Menurutnya, yang menjadi persoalan penting adalah terkait fundamental ekonomi negara maupun global. Sehingga meski permintaan telah menekan suku bunga, menjaga kurs rupiah dan inflasi terjaga, hal itu tak berpengaruh banyak.

"Walaupun pemerintah tekan suku bunga, KPR sekarang menjadi lebih menarik. Tapi tetep belum sampai tarik orang bondong-bondong beli properti karena fundamental ekonomi dan harga properti yang cukup tinggi," tambahnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini