Image

Penambahan Tak Terkontrol, 20% Ruang Perkantoran Terancam Kosong

Trio Hamdani, Jurnalis · Kamis 20 April 2017, 14:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 04 20 470 1672441 penambahan-tak-terkontrol-20-ruang-perkantoran-terancam-kosong-W1uvK3dnXh.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Tingkat penyerapan ruang kantor di kawasan Centeral Business District (CBD) terus mengalami penyusutan. Hal itu didukung dengan bermunculannya kantor-kantor baru. Sayangnya hal itu tak berimbang dengan tingkat permintaan.

"Menurut survei kami di CBD atau segitiga emas tahun lalu minim, penyerapan ruang kantor sekitar 20 ribuan meter persegi (meter persegi). Tahun ini sangat kecil, angkanya kurang lebih sekitar 7ribu meter persegi atau 9 ribu meter persegi di bawah 10 ribu meter persegi yang jelas," kata Kepala Departemen Riset dan Konsultasi Savills Indonesia Anton Sitorus di Kantor Savills Indonesia, Kamis (20/4/2017).

Ia pun menyebutkan, bahwa kurun waktu 2 tahun belakangan, tingkat permintaan ruang kantor, khususnya di CBD tak terlalu mengalami pertumbuhan yang berarti. Sementara, pasokan ketersediaan ruang kantor tak terbendung.

"Kalo dilihat memang 2 tahun ini pertumbuhan permintaan ruang kantor terbatas sekali. Padahal disisi lain kita lihat pasokan sangat banyak, 2015 lebih dari 500 ribu meter persegi, tahun lalu (2016) sekitar 250 ribu meter persegi," ujarnya.

Bahkan, hingga kuartal pertama di 2017, jumlah ruang kantor di CBD mengalami pertambahan cukup signifikan. Ruang kantor di CBD hingga Maret ini, sudah mengalami pertambahan lebih dari

"Tahun ini kuartal 1 ada 70 ribu meter persegi (tambahan ruang kantor). Kondisi ini sangat berbanding terbaik dengan penyerapan yang ada dan ini sangat kecil sekali. Membuat pemilik gedung ada pada posisi sulit, di mana tingkat hunian menurun, gedung-gedung baru masuk pasar kesulitan cari penyewa berdampak ke harga sewa," jelasnya.

Berdasarkan survei, ia menyebutkan tingkat vacancy atau kekosongan ruang kantor di CBD telah menyentuh angka 17% pada kuartal 1 ini. Menurutnya, penurunan penyerapan ruang kantor di angka tersebut terbilang signifikan.

"Jadi memang kalau (misalnya) kita lihat 1-2 dekade (tingkat vacancy) 15% masih dibilang rata-rata. Tapi proyeksi kita ke depan naik 20% dan itu menjadi kekhawatiran," terangnya.

Ia pun mengimbau pengembang lebih bijak sebelum membangun properti perkantoran. "Yang jelas boleh dibilang sektor perkantoran, kalau misal kita bilang memang untuk mulai gedung baru di CBD belum lah, belum waktunya lagi, stop dulu," tambahnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini