Image

Louis Vuitton, Simbol Status Sosial dan Kemewahan

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 21 April 2017, 10:41 WIB
https img k okeinfo net content 2017 04 21 320 1673135 louis vuitton simbol status sosial dan kemewahan Cc4T6qEolQ jpg (Foto: Koran SINDO)

JAKARTA - Pada abad ke-20, Louis Vuitton (LV) bukan lagi sekadar merek, tapi sudah menjadi simbol status sosial kelas atas dan kemewahan.

Dengan kuantitas produksi yang terbatas dan sedikit, produk LV hanya dikenakan orang-orang tertentu. Dengan demikian, tak heran jika banderol produk rumah modis asal Prancis itu sangat mahal. Sebagai brand kelas atas, LV membuktikan hal itu dengan banyak menggandeng model, musisi, dan aktor terkenal untuk mempromosikan produknya.

Mereka antara lain Keith Richards, Madonna, Sean Connery, Michelle Williams, Matthias Schoenaerts, Jennifer Connelly, Hayden Christensen, Angelina Jolie, Gisele Bundchen, dan David Bowie.

Rapper Bohemia, Kanye West, Juicy J, dan Wiz Khalifa juga menyebutkan LV di lagu mereka. Beberapa selebritis yang tidak berasosiasi langsung dengan LV juga banyak menggemari produk-produk inovatif dan unik LV. Mereka di antaranya penyanyi internasional Rihanna, Selena Gomez, Kylie Jenner, Chiara Ferragni, Sarah Jessica Parker, Lilly Collins, Kourtney Kardashian, Jessica Biel, Miranda Kerr, dan Reese Witherspoon. Apa sih yang membuat prestise LV begitu tinggi? Sejak awal berdirinya pada tahun 1854, LV sudah sukses melambungkan reputasinya di lingkungan masyarakat Prancis berkat tangan kreatif Louis Vuitton.

Dia banyak kebanjiran order menyusul dirilisnya sebuah koper dengan sudut melengkung. Kualitasnya juga dipuji para ahli mode. Setelah Napoleon III menguasai Kekaisaran Prancis, Vuitton direkrut menjadi pembuat koper pribadi Permaisuri Eugenie de Montijo. “Dia merancang pakaian paling indah dengan cara yang indah,” kata De Montijo.

Sejak saat itu, Vuitton mulai berkenalan dan bekerja untuk anggota kerajaan dan orang elite lainnya sampai akhir hayat. Dalam sebuah acara besar pada 1867 dan 1889, Vuitton pernah menerima medali perak dan emas dari para petinggi kerajaan. Beberapa produk Vuitton sebenarnya baru dipasarkan secara luas pada tahun 1892.

Dengan membawa pangkat kehormatan di dunia mode, pamor Vuitton meroket hingga keluar Prancis dan menyebar ke kawasan. Sampai saat ini LV banyak dihormati dan dijadikan acuan, baik oleh pencinta mode ataupun perusahaan sejenis. Semua produk asli LV tahan lama dan dibuat dengan tangan, bukan mesin.

Kendati begitu, detail motifnya sangat mencolok dan jahitannya sangat rapi dan kuat. Biasanya, satu produk tas LV dibuat dalam waktu satu pekan. Selain warnanya tidak mudah luntur dan lapisannya tidak gampang sobek, produk LV juga rata-rata tahan air dan api. Kekuatannya sudah teruji dalam beberapa uji coba ekstrem, kendati kenyataannya memang tidak sempurna.

“Bahan yang digunakan berasal dari bahan-bahan terpilih dan asli,” ungkap induk perusahaan LV, LVHM.

Nilai produk-produk LV juga tidak akan cepat lekang. Produk LV yang dibeli pada tahun ini diyakini akan tetap memiliki nilai yang sama dalam 20 tahun ke depan. Bahkan, nilai produk itu bisa jadi lebih tinggi dan lebih mahal jika dijual kembali. Saat ini, banyak orang yang juga mengenakan tas LV tahun 1980-an dengan penuh percaya diri. Selama enam tahun berturut-turut (2006-2012), LV dinobatkan sebagai merek mewah paling berharga di dunia. Valuasi LV pada 2012 mencapai USD 25,9 miliar.

Setahun kemudian, nilainya meningkat menjadi USD28,4 miliar dengan pendapatan tahunan mencapai USD9,4 miliar. LV juga menjadi merek paling berharga ke-19 di dunia. Namun, dengan ketenaran itu, LV menjadi merek fashion yang paling banyak tiruannya di dunia.

Bahkan, angkanya mencapai 99%. Artinya, produk asli LV hanya 1%. Pada 2004, produk palsu LV mencapai 18% dari aksesori tiruan yang disita di Uni Eropa (UE). LV mencoba menggugurkan isu ini dengan meminta bantuan penegak hukum. LV sangat mengawasi ketat distribusi produk mereka. Di samping itu, mereka membentuk tim pengacara dan lembaga khusus investigasi.

“Sebanyak 60 orang dari LV bekerja penuh dalam melawan pemalsuan produk LV. Mereka bekerja sama dengan tim pengacara dan investigator di luar Prancis,” ungkap LVHM, dikutip The Times .

Di balik kesuksesan ini, Vuitton juga menyimpan kenangan getir. Faktanya, dia terlahir di Anchay pada 1821 dari keluarga buruh. Uyut Vuitton merupakan tukang kayu, petani, dan pembuat atau penjual topi perempuan (milliners). Ayahnya, Xavier Vuitton, juga merupakan petani dan ibunya, Corinne Gaillard, juga seorang milliners.

Vuitton kemudian menjadi anak yatim piatu di usia 10 tahun. Pada awal musim semi 1835, dia memutuskan meninggalkan kampungnya dan pergi menuju Paris dengan berjalan kaki. Waktu perjalanannya mencapai dua tahun lebih. Selama di perjalanan, dia bekerja apa saja dan terhadap siapa saja serta tidur di mana saja.

Setiba di kota impiannya, Paris sedang dilanda kemiskinan, juga sedang mengalami revolusi industri. Vuitton lalu direkrut menjadi buruh pabrik di sebuah perusahaan pembuat koper Monsieur Marechal. Saat itu, koper menjadi kebutuhan pokok di kota-kota besar di luar Paris. Pengalaman, relasi, dan skill Vuitton pun meningkat.

Pada 1854 atau di usia 33 tahun, Vuitton menikahi perempuan berusia 17 tahun Clemence-Emilie Parriaux. Tidak lama setelah pernikahannya itu, dia keluar dari Marechal dan membuka toko koper sendiri. Kini, LV menjadi salah satu rumah mode internasional paling terkemuka di dunia dan dibuka di 50 negara dengan 460 toko.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini