Image

CEO Louis Vuitton Andalkan Ekspansi dan Loyalitas Pelanggan

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 21 April 2017, 10:43 WIB
https img okeinfo net content 2017 04 21 320 1673137 ceo louis vuitton andalkan ekspansi dan loyalitas pelanggan pwGH4UA929 jpg (Foto: Koran SINDO)

JAKARTA - CEO Louis Vuitton Michael Burke, selalu mengandalkan jangka panjang dalam memimpin perusahaannya, termasuk dalam hal ekspansi.

Dia melihat Asia, khususnya Asia Timur, merupakan pusat ekonomi sehingga ekspansi Louis Vuitton berkutat di Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, dan China. “Kita datang ke China karena situasi (ekonomi) yang sehat. Pertumbuhan kelas menengah sangat tinggi di China,” kata Burke, dilansir South China Morning Post.

“Untuk tren jangka panjang, fokus kita adalah perkotaan, sosial, dan garda ekonomi,” ungkapnya.

Dalam hal ekspansi, menurut Burke, industri fashion mewah sangat dinamis dan terus berubah. Industri itu juga semakin kompleks.

“Kalau dulu sekitar 20 hingga 30 tahun lalu, orang kaya lebih banyak terkonsentrasi di negara tertentu saja. Kini, kekayaan telah mengglobal. Indonesia, Australia, dan China merupakan pasar baru,” ungkap Burke.

Meskipun brand mewah yang sudah terkenal, dalam pandangan Burke, prinsip kepercayaan dengan pelanggan lokal harus terus dijaga. Menjaga kepercayaan akan berujung pada loyalitas. Parameter yang bisa dilihat seperti di China adalah para pelanggan tak mempersalahkan jika harus antre selama sejam di toko untuk membeli baju bermerek.

“Belanja orang kaya China juga semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya.

Bagaimana mengenai harga dengan Louis Vuitton yang semakin mengglobal? Burke mengungkapkan, Louis Vuitton tidak menerapkan satu harga. “Itu dianggap sebagai hal tak masuk akal bagi klien saya,” katanya.

Banyak orang memperkirakan kalau mereka bisa membeli produk di Paris dengan harga lebih murah dibandingkan di Chengdu, China. “Tapi, kita harus membayar pajak dan biaya pengiriman produk ke Chengdu,” imbuhnya. Menurut Burke, Louis Vuitton tidak mengikuti konsep harmonisasi harga global yang diterapkan brand lainnya. Kita tidak menerapkan harga tunggal,” ujarnya.

Dia mengatakan, Pemerintahan China juga telah mendukung iklim bisnis yang baik. Untuk menjaga kepercayaan pemerintah dan rakyat China, Louis Vuitton tetap akan terus berinvestasi di China. Model kepemimpinan Burke mendapat banyak kritik dan saran dari banyak pihak.

Vanessa Friedman dari New York Times mendeskripsikan Burke sebagai manajer yang personal dan dikenal mudah tersenyum. Gaya itu sama seperti pendahulunya, Yves Carcelle, yang pernah memimpin Louis Vuitton. Namun, Burke mengklaim tantangan yang dihadapinya sangat berbeda dengan Carcelle.

“Tantangan kita saat ini melanjutkan pengalaman yang tak terlupakan dan istimewa di setiap toko kita. Fokus kita adalah pengembangan kualitatif dalam jaringan ritel kita,” katanya, kepada WWD . Burke menjabat CEO Louis Vuitton sejak 2011.

Dia bukan orang baru di industri fashion . Selama 20 tahun, dia berpengalaman dalam manajemen dan bekerja di serangkaian posisi eksekutif beberapa brand ternama seperti Fendi, Bulgari, dan Christian Dior Couture.

Kehadiran Burke di jajaran eksekutif memang sudah diprediksi sejak lama. Pasalnya, diasudahbekerjadenganLouis Vuitton terbilang lama. Bahkan, sebelumnya, dia berpengalamandalamoperasional Vuitton di AS. Melansir Financial Times, awalnya Burke justru tidak menginginkan posisi CEO. “Saya harus pindah dari Roma ke Paris karena posisi CEO,” ujar Burke.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini