Image

Mau Koleksi Saham BUMN? Perhatikan Tips Berikut

Ulfa Arieza, Jurnalis · Rabu 03 Mei 2017, 05:59 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 05 02 278 1681622 mau-koleksi-saham-bumn-perhatikan-tips-berikut-rOqIXoDZxi.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Saham-saham perusahaan milik negara cenderung menjadi saham yang defensif, lantaran lebih terjamin karena milik negara. Namun, pada kuartal I-2017 tercatat ada puluhan perusahaan BUMN yang mengalami kerugian dengan total diperkirakan mencapai Rp3,4 triliun.

Analis pasar modal Satrio Utomo mengatakan, para investor dan trader harus berhati-hati dalam membeli saham BUMN. Terlebih, saat ini, kondisi pasar sedang tidak stabil.

"Para investor sebaiknya menghindari saham BUMN lapis ketiga yang Price Earning Ratio (P/E Ratio) di atas 30 kali. Alasannya kalau P/E Ratio di atas 30 kali berarti itu sudah mahal sekali harganya," kata dia saat dihubungi Okezone.

Menurutnya, saham BUMN yang memiliki P/E Ratio lebih tinggi dari 30 kali, memberikan risiko yang sangat tinggi kepada investor. Pasalnya, selama 10 tahun terakhir ini, rata-rata P/E Ratio berada di angka 16,5 kali. "Sehingga risikonya sangat tinggi. Karena tidak ada coroporate action yang terlalu besar, harusnya tidak mungkin sampai ke angka tersebut," tambahnya.

Sekadar informasi, kerugian terbesar yang diperoleh BUMN, ada pada Perum Bulog yang merugi hingga Rp913 miliar. Sementara PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatat kerugian sebesar USD99,1 juta atau Rp1,32 triliun (kurs Rp13.327 per USD) pada kuartal I-2017.

Sementara, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) masih mencatatkan rugi pada periode kuartal I-2017. BUMN produsen baja ini mencatatkan rugi USD20,7 juta atau Rp275,5 miliar (kurs Rp13.308 per USD). Walau begitu, angka ini membaik 66,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), tidak mencatatkan kerugian. Namun, laba bersih PLN turun signifikan sebesar Rp4,5 triliun atau sekira 89,9% dibandingkan periode yang sama pada 2016. Laba bersih PLN merosot menjadi Rp506 miliar dari sebelumnya Rp5,01 triliun di kuartal I-2016.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini