Share

Tantang Boeing dan Airbus, Jet Buatan China Miliki 2 Kelemahan

Kurniasih Miftakhul Jannah, Okezone · Selasa 09 Mei 2017 12:04 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 09 320 1686783 tantang-boeing-dan-airbus-jet-buatan-china-miliki-2-kelemahan-y6NKU45il8.jpg Foto: Reuters

JAKARTA - Maskapai domestik China telah menjadi pembeli utama pesawat penumpang dari Airbus dan Boeing. Namun, produsen Barat tidak boleh lengah dengan ambisi China yang mulai memasuki industri ini.

Pekan lalu, sebuah pesawat jet dengan 158 kursi yang dibangun oleh Commercial Aircraft Corporation milik China melakukan penerbangan perdananya dari Shanghai. Pers China memuji penerbangan pesawat penumpang C919 yang disebut sebagai berkembangnya industri manufaktur di China. Meskipun para ahli mengaku masih menghadapi sejumlah rintangan yang signifikan.


C919 adalah twinjet dengan bodi ramping yang serupa dengan Boeing 737 atau Airbus A320. Jet penumpang China telah dikembangkan sejak 2008 dan penerbangan perdananya sekira tiga tahun. C919 akan dirakit di China dengan beberapa teknologi dari mitra Barat, termasuk afiliasi Honeywell dan General Electric.

Setidaknya, ini adalah usaha ketiga orang Tionghoa dalam membangun pesawat penumpang komersial yang berhasil bersaing dengan produsen Barat.

"Ini seperti melihat pesaing merayap kepada Anda dengan kecepatan lambat dan tidak harus bergerak sejalan," kata Analis Industru Teal Group Richard Aboulafia, dilansir CNBC, Selasa (9/5/2017).

China mengembangkan jet bodi ramping yang dikenal sebagai Y-10 pada 1970-an, meskipun dianggap sebagai tiruan Boeing 707. Kemudian pada 2008, jet regional China yang dikenal sebagai ARJ21 yang berisi 90 kursi melakukan penerbangan perdananya dan mulai beroperasi secara komersial pada Juni 2016.

"Mereka mengambil pendekatan yang rumit dan kadang-kadang menjadi kontraproduktif untuk mengembangkan industri ini,” kata Aboulafia.

Dia meyakini ada dua kesalahan fundamental yang dilakukan orang China dalam mengembangkan C919.

Pertama, dia yakin tangan berat perusahaan milik negara adalah pendekatan yang salah dalam menerobos bisnis pesawat komersial global. Kedua, dia berpendapat bahwa bermitra dengan produsen peralatan Barat di bawah standar seperti persyaratan manufaktur China akan menambah risiko dan pada akhirnya tidak membawa teknologi terkini karena masalah intelektual.

Menurut laporan, C919 mendapatkan setidaknya 570 pesanan dari China Air dan beberapa operator China lainnya serta maskapai asing. Sebelumnya, China menyatakan bahwa mereka bermaksud menjual lebih dari 2.000 pesawat selama dua dekade setelah pesawat tersebut mulai beroperasi.

Menurut Analis Moody Jonathan Root, maskapai besar cenderung ragu untuk beralih ke pesawat China jika alasannya semata-mata untuk menghemat biaya.

"Jika saya menjalankan armada untuk maskapai AS atau maskapai penerbangan Eropa, saya ingin melihat keandalan pesawat terbang, profil operasinya, keandalannya, dan sebagainya saya pikir itu harus memakan waktu beberapa tahun untuk melayani agar saya mempertimbangkan untuk memasukkan pesawat ke maskapai,” kata Root.

C919 menerima izin terbang pada bulan lalu dari Administrasi Penerbangan Sipil China. Namun, mereka masih memerlukan sertifikasi dari badan keamanan AS dan EU untuk terbang di pasar tersebut. Meski begitu, dalam waktu lima sampai 10 tahun ke depan, Root meyakini, maskapai besar akan tetap menggunakan Boeing dan Airbus daripada C919.

(kmj)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini