Image

ECONOMIC VIEWS: Menanti Pinjaman China hingga Pendatang Baru di Bursa

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Senin 15 Mei 2017, 07:11 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 05 12 320 1689589 economic-views-menanti-pinjaman-china-hingga-pendatang-baru-di-bursa-RmQmzBdRHh.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menekankan bahwa dana pinjaman untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang berasal dari China akan cair dalam waktu dekat. Dana pinjaman ini akan diberikan saat acara One Belt One Road (OBOR) di Beijing, China.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengatakan, wilayah perbatasan seharusnya bisa menjadi kantong ekonomi baru bagi masyarakat Papua. Hal itu dia sampaikan saat meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Republik Indonesia-Papua Nugini di Skouw Kota Jayapura.

Di sisi lain, PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU) resmi tercacat sebagai emiten keenam atau emiten ke 541 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada penawaran saham perdana di pasar modal, saham Pelayaran Tamarin Samudra mengalami kenaikan sebesar 77 poin atau sebesar 70% ke level Rp187.

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

Menanti Cairnya Pinjaman China Rp13 Triliun untuk Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Menurut Tom Lembong, hingga saat ini memang proses financial closing dari proyek senilai USD5,9 miliar tersebut belum terjadi. Namun dirinya memastikan dalam waktu dekat proses ini akan dilakukan sehingga dana tersebut bisa segera dicairkan.

"Proses financial closing, memang belum. Tapi dalam waktu dekat akan ada (financial closing) di Beijing. Investasi ini (OBOR), terdiri dari kucuran dana bagi kereta cepat Jakarta-Bandung sekira USD1 miliar atau setara Rp13 triliun (kurs Rp13.000 per USD)," ungkapnya di Gedung BKPM, Jakarta, Rabu (10/5/2017).

Dirinya pun berharap dana tersebut bisa segera cair agar pembangunan proyek kereta cepat ini tidak lagi terhambat. Pemerintah juga tengah menyelesaikan semua persyaratan agar dana tersebut bisa segera cair.

"Sementara itu hitungan saya di Indonesia total partisipasi dalam OBOR baru USD5-6 miliar atau Rp66-80 triliun, kelihatan sekali sangat ketinggalan (dengan negara lain)," tukasnya.

(kmj)

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini