Image

Beri Investment Grade, S&P Yakin Tax Amnesty Bawa Dampak Positif

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Jum'at 19 Mei 2017, 16:47 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 05 19 20 1695274 beri-investment-grade-s-p-yakin-tax-amnesty-bawa-dampak-positif-WcHL99TSXE.jpg Ilustrasi tax amnesty. (Foto: ANT)

JAKARTA - Pemerintah Indonesia memproyeksikan penerimaan pajak pada tahun ini akan lebih rendah dari proyeksi pada 2016. Meskipun terjadi peningkatan target lebih dari 15% dari realisasi pengumpulan pajak setahun sebelumnya, kenaikan tersebut secara signifikan lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) pun mengimbau agar pemerintah berhati-hati dalam melakukan penganggaran pendapatan fiskal, agar dapat bertahan dalam beberapa tahun ke depan.

"Pada saat yang sama, kami mengharapkan penerimaan akan lebih baik karena adanya program tax amnesty yang baru saja berakhir. Kami juga berharap adanya peningkatan kontrol atas pengeluaran fiskal dengan melakukan reformasi subsidi listrik yang dimulai 2017," jelas S&P dalam dalam keterangannya seperti dikutip dari Okezone, Jumat (19/5/2017),

Saat ini, harga komoditas yang lebih lemah telah membuat penerimaan pajak berada jauh di bawah proyeksi anggaran dalam tiga tahun terakhir. Akibatnya, pemerintah Indonesia pun harus memotong pengeluarannya guna menjaga defisit anggaran dalam batas 3% dari PDB.

Menurut S&P, pemerintah Indonesia harus terus memastikan bahwa defisit fiskal tetap berada di bawah 2,5% dari PDB dalam tiga sampai empat tahun ke depan, terlepas dari keinginan pemerintah untuk memperluas program infrastrukturnya guna mengatasi kekurangan infrastruktur dan layanan dasar yang ada.

"Kami percaya bahwa ini akan mengandung risiko fiskal, yang mengarah ke defisit fiskal yang lebih besar daripada yang saat ini kami proyeksikan. Terlepas dari kerentanan ekonomi yang lebih luas terhadap guncangan eksternal, kami menganggap keuangan yang kuat merupakan landasan peringkat investment grade kami di Indonesia," jelas S&P.

S&P menambahkan, defisit 3% yang tertuang dalam APBN telah membuat pemerintah Indonesia fokus pada keseimbangan fiskal. Karenanya, defisit pemerintah selama lima tahun terakhir ini telah bertahan di 2,2% dari PDB. "Meskipun kadang lingkungan eksternal begitu menantang," tulis lembaga pemeringkat tersebut.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini