Image

Rating Naik, Sri Mulyani Harap Permintaan Surat Utang RI Meningkat

Dedy Afrianto, Jurnalis · Jum'at 19 Mei 2017, 20:20 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 05 19 20 1695576 rating-naik-sri-mulyani-harap-permintaan-surat-utang-ri-meningkat-G8b9Vk5b6t.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Indonesia mendapatkan peringkat layak investasi (investment grade) dari lembaga pemeringkat S&P. Peringkat ini menunjukkan adanya peningkatan peringkat utang indonesia oleh S&P.

Hal ini sekaligus melengkapi peringkat investment grade yang sebelumnya sudah diberikan oleh Iembaga pemeringkat internasional lain yaitu Japan Credit Rating Agency JCRA (July 2010), Fitch (Desember 2011), Moody’s (Januari 2012), dan Rating and Investment (Oktober 2012).

"Dengan adanya S&P yang sudah masukkan Indonesia dalam investment grade, maka seluruh tiga rating agency sudah konsisten. Dan ini berikan kesempatan lembaga investasi apa sovereign wealth fund yang mengelola dana investasi yang memiliki rambu-rambu atau persyaratan untuk menempatkan uangnya," tutur Menteri Keuangan Sri Mulyani di Kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat (19/5/2017).

Menurut Sri Mulyani, peningkatan rating ini nantinya juga diharapkan dapat berdampak pada peningkatan permintaan terhadap surat utang Indonesia. Dana yang diperoleh pun nantinya juga dapat digunakan sebagai modal untuk melakukan pembangunan.

"Kita berharap akan ada tambahan minat terhadap surat utang pemerintah. Karena ada beberapa investment agency bisa menempatkan dananya di surat berharga Indonesia," tuturnya.

Pemerintah pun berencana menerbitkan Samurai Bonds. Dengan adanya peringkat invesment grade ini, diharapkan akan berdampak positif terhadap surat utang pemerintah.

"Termasuk Samurai Bonds kita berharap akan berikan dampak positif terhadap Yield yang akan tercapai. Jadwal berapa jumlahnya itu sesuai kebutuhan APBN kita, apabila sudah diputuskan kami akan sampaikan kepada market," tuturnya.

Seperti diketahui, dalam laporan terkini, S&P menyatakan bahwa peningkatan peringkat utang lndonesia didukung antara Iain oleh efektivitas kebijakan fiskal dalam menciptakan stabilitas perekonomian di tengah ketidakpastian global.

Fokus pemerintah terkait penciptaan anggaran yang lebih realistis juga menjadi poin penting dalam laporan S&P, khususnya dalam mengurangi risiko penurunan penerimaan dan pelebaran defisit anggaran di masa depan. Namun demikian, S&P menyatakan bahwa masih terdapat ruang bagi Indonesia untuk memperbaiki tingkat PDB per kapita dan tax ratio.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini