Image

Investment Grade dari S&P, Capital Inflow Malah Tak Akan Deras, Kok Bisa?

Donald Banjarnahor, Jurnalis · Sabtu 20 Mei 2017, 07:16 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 05 19 20 1695667 investment-grade-dari-s-p-capital-inflow-malah-tak-akan-deras-kok-bisa-ZM6biZl1F6.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Meskipun Indonesia mendapat rating layak investasi dari lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor's (S&P), namun arus modal asing ke pasar modal diperkirakan tidak akan sekencang lima bulan pertama 2017 yang telah mencapai Rp105 triliun.

"Kalau kita lihat sebenarnya asing sudah melakukan price in (antisipasi) untuk investment grade dari S&P. Hal itu terlihat capital inflow ke pasar modal mencapai Rp105 triliun dari awal tahun hingga bulan Mei, dua kali lipat dari tahun lalu," ujar Anggota Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Destry Damayanti kepada Okezone.

Menurutnya, setelah pengumuman investment grade tersebut modal asing akan terus masuk terutama dari perusahaan investasi dan negara yang konservatif. Mereka umumnya membatasi investasi ke negara yang belum mendapatkan rating layak investasi dari 3 lembaga, yakni Moodys, Fitch Ratings, dan S&P.

"Namun, karena sejak awal tahun mereka sudah price in, setelah ini mungkin capital inflow tidak akan sekencang 5 bulan pertama," ujarnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja memandang investor asing malah akan semakin gencar untuk masuk ke pasar Indonesia. "Positive outlook, akan lebih banyak investor masuk beli saham dan obligasi Indonesia," ujarnya kepada Okezone melalui pesan singkat.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya S&P menyematkan rating layak investasi alias investment grade kepada Indonesia. Hal ini seiring dengan stabilitas keuangan Indonesia yang terus terjaga.

S&P memandang pemerintah Indonesia telah mengambil langkah efektif untuk menstabilkan kondisi keuangan publik. Dengan demikian, S&P pun memperkirakan utang pemerintah secara umum akan stabil, mendekati tingkat terendah, sementara defisit anggaran berangsur-angsur mengalami penurunan.

"Oleh karena itu, kami meningkatkan peringkat kredit sovereign jangka panjang kami menjadi 'BBB-', Dari 'BB +'," tulis S&P.

Pasca pengumuman tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat rekor sepanjang sejarah pada penutupan perdagangan hari ini. Tercatat, IHSG menguat 174,79 poin atau 3,09% ke level 5.820.

IHSG mencatat 230 saham menguat, 98 saham melemah dan 113 saham stagnan. Pada penutupan sore ini telah terjadi transaksi sebesar Rp8 triliun dari 8,6 miliar lembar saham diperdagangkan.

Indeks LQ45 naik 36 poin atau 3,9% ke 978, Jakarta Islamic Index (JII) naik 22 poin atau 3,1% ke 742, indeks IDX30 naik 16 poin atau 3,1% ke 530 dan indeks MNC36 menguat 10 poin atau 3,2% ke 335. Hampir semua sektor menguat dengan sektor keuangan menjadi motor penggerak indeks dengan kenaikan 3,4%, disusul oleh sektor properti sebesar 2,8%.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini