Image

Reklamasi Pulau G Belum Jelas, Rating Pefindo untuk Agung Podomoro Land Tak Berkutik

Ulfa Arieza, Jurnalis · Jum'at 19 Mei 2017, 20:51 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 05 19 278 1695599 reklamasi-pulau-g-belum-jelas-rating-pefindo-untuk-agung-podomoro-land-tak-berkutik-o0hX4AEzFY.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memutuskan untuk menahan peringkat PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) pada idA-. Hal serupa berlaku untuk obligasi PUB I 2013 serta obligasi II/2012 perusahaan sebesar Rp1,2 triliun. Pefindo menyampaikan bahwa peringkat idA- tersebut untuk periode 12 April 2017 hingga 1 April 2018.

APLN berencana melunasi obligasi yang akan jatuh tempo tersebut menggunakan perpaduan antara kas internal dan juga pinjaman bank baru.

Keputusan Pefindo untuk menahan peringkat APLN juga disebabkan ketidakpastian atas proyek reklamasi Pulau G.

Outlook atas peringkat perusahaan kami pertahankan pada negative untuk mengantisipasi dampak material yang dapat mempengaruhi prospek keuangan APLN terkait ketidakpastian proyek reklamasi pulau G dikarenakan permasalahan perizinan,” ujar Analis Pefindo Yogie Surya Perdana belum lama ini.

Status proyek untuk sementara ini ditangguhkan dan PT Muara Wisesa Samudra (WMS), anak perusahaan dari APLN dengan kepemilikan tidak langsung melalui PT Kencana Unggul Sukses (KUS) yang mengembangkan proyek sedang dalam proses penyempurnaan semua izin yang diperlukan. Termasuk analisis menganai dampak lingkungan (AMDAL) yang sudah diperoleh sebelumnya, hingga akhirnya dapat melanjutkan proses pengerjaan reklamasi.

Peringkat di atas mencerminkan posisi bisnis APLN yang kuat di industri properti, kualitas aset yang baik, dan pendapatan yang APLN yang terus tumbuh dapat memberikan ketahanan finansial saat kondisi pasar properti yang sulit.

“Sedangkan faktor-faktor yang membatasi peringkat adalah tingkat leverage keuangan yang cukup tinggi, yang menyebabkan proteksi arus kas perusahaan menjadi lemah, risiko eksekusi terkait dengan proyek reklamasi, dan karakteristik industri properti yang sensitif terhadap perubahan keadaan ekonomi makro,” tukas dia.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini