Image

Target Pertumbuhan Ekonomi 6,1% di 2018 Terlalu Over Optimis

Dedy Afrianto, Jurnalis · Minggu 21 Mei 2017, 00:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 05 20 20 1696039 target-pertumbuhan-ekonomi-6-1-di-2018-terlalu-over-optimis-w7h0tn1Bsq.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menyampaikan pengantar dan keterangan pemerintah atas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2018. Laporan ini disampaikan dalam Sidang Paripurna ke-25 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2016-2017 di Gedung Nusantara II DPR RI.

Dalam kesempatan ini, Sri Mulyani menyampaikan pokok-pokok dalam RAPBN 2018 yang sebelumnya telah dibahas bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi). Salah satu yang disampaikan adalah pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai 5,4% hingga 6,1% pada tahun 2018.

Target pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan target pada tahun ini sebesar 5,1%. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai pemerintah terlalu optimis dalam menetapkan target ekonomi pada tahun 2018 mendatang.

"Melihat perkembangan ekonomi saat ini sepertinya target itu terlalu over optimis," tuturnya kepada Okezone.

Menurutnya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam menetapkan target pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah keadaan ekonomi China hingga kebijakan ekonomi Amerika Serikat.

"Faktornya permintaan global memang membaik tapi belum signifikan. Ditunjukkan oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi China belum mampu tumbuh diatas 7% pada 2018. Sementara itu gejolak politik dan kebijakan ekonomi AS pasti akan berpengaruh ke negara berkembang termasuk Indonesia," ungkapnya.

Perkiraan tingginya inflasi pada tahun ini dibandingkan tahun lalu juga harus menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya, tingginya inflasi ini akan berdampak pada konsumsi rumah tangga sehingga memberikan efek kepada pertumbuhan ekonomi.

Tak hanya itu, dampak dari tingginya target pertumbuhan ekonomi juga harus diperhatikan oleh pemerintah. Salah satunya adalah pada sektor penerimaan pajak.

"Ekonomi di set terlalu tinggi nanti pengaruhnya ke penerimaan pajak yang tidak realistis. Kalau asumsinya overshoot maka defisit fiskal bisa bengkak. Apalagi di 2018 tidak ada tax amnesty. Berharap dari penyidikan data nasabah bank untk perpajakan prosesnya akan memakan waktu lama tidak dalam 2 tahun ke depan," tutupnya.

Sebelumnya, menurut Sri Mulyani, pemerintah akan bekerja keras untuk mencapai target ini. Pasalnya, pemerintah masih akan menghadapi ketidakpastian pada ekonomi global.

"Walaupun dihadapkan berbagai kendala dan ketidakpastian, Pemerintah tetap berupaya keras mewujudkan peningkatan pertumbuhan yang lebih berkualitas dan inklusif agar peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat lebih adil dan merata," kata Sri Mulyani di Gedung DPR RI, Jumat, 19 Mei 2017.

Untuk mencapai target ini, pemerintah juga akan mendorong sektor industri untuk terus tumbuh. Tak hanya di kota-kota besar, industri juga diharapkan dapat tumbuh secara merata di berbagai daerah.

"Pemerintah juga terus mendorong industri manufaktur, konstruksi serta industri jasa termasuk perkembangan industri berbasis digital yang sangat bertumpu pada kualitas sumber daya manusia yang produktif, inovatifdan regulasi yang kondusif," tutupnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini