Image

Mudik Lebaran, Tol Bawen-Salatiga Gratis Mulai 7 Juni

Koran SINDO, Jurnalis · Sabtu 20 Mei 2017, 15:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 05 20 320 1695909 mudik-lebaran-tol-bawen-salatiga-gratis-mulai-7-juni-N3Mkeu3MIs.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

SEMARANG - Jalan tol Bawen-Salatiga akan dibuka secara cuma-cuma untuk melayani pemudik mulai 7 Juni mendatang. Jalan tol tersebut ditargetkan bisa dilintasi dua arah.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono mengatakan, fungsionalisasi jalan tol itu untuk menghadapi mudik Lebaran 2017. Meskipun akan difungsionalkan, pengguna jalan itu belum akan dikenai tarif.

“Saya tekankan mulai 7 Juni 2017, Bawen-Salatiga sudah dilalui dua arah. Salatiga-Bawen dan Bawen-Salatiga dan belum bayar. Truk sama bus tidak boleh. Ini hanya untuk kendaraan kecil,” kata dia kemarin.

Menurut Puryono, ruas tol Bawen-Salatiga terdiri atas empat lajur, yaitu dua lajur kanan dan dua lajur kiri. Jalan itu sudah didirikan pembatas.

Puryono mengatakan, tidak semua ruas tol Trans Jawa sudah bisa fungsional menjelang mudik Lebaran tahun ini. Pemudik dari tol Brebes dapat keluar di Gringsing Batang. Setelah itu, pemudik disarankan menempuh jalan transnasional pantura dan baru kembali masuk ke Tol Salatiga melalui Mangkang.

“Secara fungsional nanti dari Brebes akan keluar di Gring sing (Batang). Gringsing sampai ke Mangkang masih melalui jalan pantura. Dari Brebes sampai Gringsing kalau mau masuk (tol) lagi di Mangkang sampai Salatiga. Di Salatiga pengendara keluar ke jalan raya,” beber Puryono.

Setelah keluar di pintu tol Salatiga, kata Puryono, bagi pemudik yang akan menuju ke arah Boyolali bisa keluar di Tingkir. Sementara itu, pemudik yang akan menuju Jawa Timur dapat keluar di Gemolong, Sragen.

“Gemolong Sragen sudah dikebut perbaikan jalannya. Kemarin sudah saya cek, sudah dicor sampai Pungkruk-Sragen,” ucapnya.

Khusus untuk tol Batang, Puryono mengimbau pemudik harus ekstra hati-hati. Sebab, ada sejumlah tikungan dan tan jakan yang belum memenuhi standar jalan tol.

“Untuk Batang juga saya minta nanti diidentifikasikan karena di sana ada beberapa daerah yang sementara ini tikungan dan tanjakan belum sesuai standar jalan tol. Ada beberapa yang mestinya lurus jadi menggok (belok) karena pembangunannya belum selesai,” paparnya.

Anggota Komisi D DPRD Jateng, Muhammad Ngainirrichardl menyambut baik rencana difungsionalkannya tol Bawen-Salatiga, meski rencana itu melewati target dari sebelumnya yakni April 2017.

“Kita juga meminta, sebelum dioperasikan sebaiknya untuk uji kelayakan dilakukan dengan cermat. Sehingga ketika dilalui pemudik benar-benar memberi jaminan keselamatan bagi pengendara,” katanya.

Angkutan Berat lewat Tol

Pada bagian lain, Pemkab Semarang tengah mengkaji wacana pelarangan angkutan berat melintasi jalur Ungaran- Bawen dan sebaliknya. Koordinasi dengan instansi terkait telah dilakukan agar angkutan berat diarahkan langsung masuk tol dari Semarang menuju Bawen atau sebaliknya.

“Terkait dengan rencana pengalihan arus kendaraan berat ke jalan tol tersebut, saya sudah koordinasi dengan Dinas Perhubungan Jawa Tengah serta BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol),” kata Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Semarang Djoko Nuryanto kemarin.

Menurut Djoko, idealnya angkutan berat tidak melintasi jalur dalam kota. Sebab, potensi kecelakaan lalu lintas dengan korban jiwa akan sangat besar mengingat bercampur dengan aktivitas masyarakat. Pihaknya sudah kerap bicara dengan pengemudi angkutan berat agar mereka bisa memanfaatkan jalan tol. Namun, mereka merasa keberatan dengan tarif tol, utamanya di pintu Bawen, yang dinilai mahal.

“Karenanya, mereka lebih memilih masuk jalan reguler untuk menekan ongkos perjalanan,” ucapnya.

Di sisi lain, keberatan para sopir juga sudah disampaikan ke BPJT. Namun, sampai sekarang belum ada keputusan menyikapi aspirasi tersebut. “BPJT juga masih mengkaji apa kah relevan untuk tarif kendaraan golongan dua dan tiga. Sebab, jika terlalu murah, nanti jalan tol juga bisa semakin padat,” ujar dia.

Disinggung upaya pembatasan jam operasional bagi ang - kutan berat di jalur Bawen- Ungaran dan sebaliknya, Djoko mengaku belum berani menerapkannya. Itu karena saranaprasarana pendukung belum tersedia. “Kalau jam operasionalnya dibatasi maka konse - kuensinya harus tersedia kantong parkir atau terminal ang - kutan berat yang memadai. Nah, itu belum tersedia,” kata - nya.

Wakil Ketua Forum Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno menyatakan, idealnya angkutan berat masuk ke jalan tol lantaran semakin padatnya jalan raya Bawen-Ungaran dan sebaliknya. Kepadatan terjadi salah satunya karena tidak ada jalan lingkar dan banyaknya kantor pemerintahan hingga perbelanjaan di sepanjang jalan nasional penghubung Kota Semarang-Yogyakarta/Solo tersebut. Kondisi demikian membuat aktivitas warga meningkat sehingga rentan menjadi korban kecelakaan lalu lintas.

“Kebijakan pengalihan kendaraan angkutan berat sudah diterapkan di Kota Semarang sejak lama. Ini bisa menjadi solusi mengurangi kepadatan sekaligus meminimalisir kecelakaan lalu lintas yang melibatkan angkutan berat,” ujarnya.

Sebelumnya, data dari Satlantas Polres Semarang menyebutkan angka kecelakaan di Kabupaten Semarang pada kuartal pertama 2017 ini mencapai 176 kasus.

Rinciannya, 98 kecelakaan terjadi di jalur Semarang-Bawen, 22 di jalur Bawen-Ambarawa, dan 26 kasus di jalur Bawen-Salatiga. Akibat kejadian tersebut, 48 orang meninggal dunia, 186 luka ringan, dan kerugian materiil mencapai Rp89,4 juta.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini