Share

Saingi Airbus, China-Rusia Bangun Pesawat Jarak Jauh

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 23 Mei 2017 13:47 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 23 320 1697818 saingi-airbus-china-rusia-bangun-pesawat-jarak-jauh-cOsPXVSmzJ.jpg Foto: Yahoo

SHANGHAI – China dan Rusia meluncurkan proyek ambisius kemarin. Dua negara adidaya itu bergabung mengembangkan pesawat komersial jarak jauh C929 untuk menyaingi perusahaan raksasa milik Amerika Serikat (AS) Boeing dan Prancis Airbus di pasar global.


Langkah ini bisa disebut kelanjutan dari proyek pesawat middle range yang belum lama dirilis kedua negara. China meluncurkan C919 dan Rusia mengeluarkan MC-21. Kerja sama kedua negara yang masing-masing diwakili Commercial Aircraft Corporation of China (Comac) dan United Aircraft Corporation (UAC) secara resmi diteken di Shanghai kemarin. Kerja sama ini merupakan realisasi dari nota kesepahaman (MoU) yang dijembatani Presiden Xi Jinping dan Presiden Vladimir Putin di Beijing pada Juni 2016.

“Penetapan usaha gabungan ini merupakan lambang kemajuan yang penting dalam proyek pesawat terbang berbadan lebar dan jarak jauh made in China-Rusia,” ujar Chairman Comac Jin Zhuangdong, kemarin, dikutip dari AFP.

“Kami akan bekerja sungguh-sungguh dan bersatu dengan UAC untuk memuluskan proyek ini,” tambahnya.

Rencananya, C929 dapat menampung 280 penumpang dan memiliki daya jelajah 12.000 kilometer atau seperti dari Jakarta menuju London, Inggris. Namun, pesawat bermesin superjet tersebut dirancang lebih besar dengan banderol yang lebih murah dibandingkan pesaingnya Boeing 787 dan Airbus A350. Mereka menarget C929 lepas landas untuk pertama kali pada 2025 dan dijual pada 2027.

Mereka pun berharap pesawat antarbenua itu dapat memperoleh sertifikasi internasional sehingga bisa dijual di pasar global. Comac dan UAC tidak hanya bekerja sama untuk melakukan pengembangan, tapi juga produksi massal dan penjualan C929. Riset dan pengembangan pesawat yang hemat bahan bakar itu akan dilakukan di Moskow, sedangkan perakitan akhirnya di Shanghai.

UAC akan bertanggung jawab mengembangkan sayap dan ekor pesawat, sedangkan badan dan proses akhir akan dilakukan Comac. Material sayapnya akan dibuat dari bahan campuran. Adapun tangkinya dari aluminium. Proyek ini ditaksir akan memakan biaya USD20 miliar (Rp265,8 triliun). “Anggaran ini akan dibagi dua,” ungkap Presiden UAC Yury Slusar kepada surat kabar terkemuka China, Global Times, tahun lalu.

Asisten Presiden Comac Guo Bozhi mengatakan bahwa pasokan mesin akan dikirimkan akhir tahun ini, sedangkan komponen lainnya pada 2018. “Pemilihan pemasok akan didasarkan pada prinsip standar dan orientasi pasar. Pemasok harus mendorong pabrik lokal, baik dalam bentuk investasi ataupun usaha gabungan,” katanya.

Untuk mengawal proyek tersebut, Comac dan UAC membentuk badan pengawas Korporasi Internasional Pesawat Terbang Komersial China-Rusia (CRCAIC), kemarin. Kantor pusat CRCAIC akan ditempatkan di Shanghai. Badan yang dikepalai Vladislav Masolov yang juga eksekutif UAC itu akan mengaudit semua program proyek ini dari awal sampai pemasaran. Sebelumnya, Comac berhasil melakukan uji coba penerbangan pesawat komersial C919.

Pesawat yang lolos 118 uji coba mesin itu berkapasitas 168 penumpang dan memiliki daya jelajah hingga 5.555 kilometer. China bermimpi membangun pesawat sipil sendiri sejak 1970-an dan mulai merancang pesawat Shanghai Y-10. Potensi pasar di China tumbuh sangat cepat. Berdasarkan Asosiasi Transportasi Udara Internasional, pasar pariwisata di China akan mengalahkan Amerika Serikat pada 2024.

Airbus memperhitungkan China akan memerlukan hampir 6.000 pesawat baru dalam dua dekade ke depan, sedangkan menurut Boeing mencapai hingga 6.800. Pada tahun lalu, Comac sudah menerima 570 pesanan pesawat C919 dari 23 calon pembeli. Sebanyak 90% pesanan berasal dari perusahaan milik pemerintah seperti Air China, China Southern, dan China Eastern Airline, sedangkan sisanya dari Afrika, Jerman, dan Thailand.

“China luar biasa,” ujar CEO Qatar Airways Akbar Al Beker.

Beberapa hari setelah China meluncurkan C919, Rusia juga turut menantang Airbus dan Boeing dengan mengeluarkan Irkut MC-21. Pesawat jet dengan mesin kembar itu digadang-gadang akan lebih murah, efisien, dan cepat. Sampai saat ini, MC-21 masih dipersiapkan untuk melakukan penerbangan pertama pada Mei.

Boeing-737 dan Airbus A-320 memiliki kecepatan jelajah 828 kilometer per jam dan 842 kilometer per jam, sedangkan MC-21 870 kilometer per jam. Satu unit MC-21 dibanderol antara USD72 juta sampai USD85 juta, bergantung tipe dan model serta modifikasi. Adapun harga Boeing-737 dan Airbus A-320 lebih mahal USD10 juta. Pemeliharaannya juga 12–15% lebih murah.

Dari segi emisi, seluruh tipe MC-21 diyakini 20% lebih ramah lingkungan dibanding pesaingnya, Boeing dan Airbus. Berdasarkan Irkut Corporation, ada tiga jenis MC-21, yakni MC-21-200 berkapasitas 150 penumpang, MC-21-300 berkapasitas 180, dan MC-21-400 berkapasitas 210. MC-21 juga memiliki rancangan sayap komposit yang belum pernah ada di kelas ini sebelumnya. “Kami sudah menerima 175 pesanan,” ungkap Irkut Corporation.

Maskapai penerbangan lokal Aeroflot akan menjadi operator pertama yang membeli dan menggunakan MC-21. Perusahaan itu berencana membeli 50 unit pesawat. Irkut Corporation akan mulai mengirimkan MC-21 pada akhir 2018 atau awal 2019. Perusahaan induk Irkut, United Aircraft Corporation, menyatakan pemasaran MC-21 tidak hanya akan dilakukan di Rusia, tapi juga di India, China, Asia Tenggara, dan Amerika Latin mengingat potensi pasar yang besar dan hubungan yang baik.

MC-21 secara berangsur-angsur juga akan menggantikan pesawat-pesawat tua Rusia dari era-Uni Soviet seperti Tupolev, Yak, dan Antonov. Sejak Uni Soviet runtuh pada 1990-an, Rusia juga ikut mengalami kemunduran di bidang penerbangan. Dengan kondisi yang kurang mendukung, Rusia akhirnya membeli pesawat dari asing.

Berdasarkan laporan Allied Market Research (AMR), pasar pesawat komersial di dunia akan mencapai USD209 miliar pada 2022. Mayoritas penawaran akan datang dari negara Asia-Pasifik dengan angka 40%. Pertumbuhan ini didorong berbagai faktor seperti peningkatan jumlah penumpang, pariwisata, dan perkembangan ekonomi.

(kmj)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini