nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rugi Rp285 Miliar, Holcim Pilih Tak Bagi Dividen

Ulfa Arieza, Jurnalis · Rabu 24 Mei 2017 18:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 05 24 278 1699143 rugi-rp285-miliar-holcim-pilih-tak-bagi-dividen-evzWvvbYQJ.jpg RUPS Holcim. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) menyatakan tidak akan membagikan dividen kepada pemegang saham. Pasalnya, perseroan tercatat mengalami rugi bersih pada tahun 2016. Sepanjang kuartal I-2017 perseroan juga belum dapat membukukan laba.

Direktur Keuangan Holcim Indonesia Mark Anatol Schmidt mengatakan bahwa ada tekanan harga jual sehingga net sales tertekan dan laba perseroan turun.

"Kami memiliki program efisiensi untuk menekan biaya marketing, financing, dan karena merugi kami tidak bisa membagikan dividen," terangnya di Sheraton Hotel, Jakarta, Rabu (24/5/2017).

Selain itu, perseroan juga menerima dan menyetujui pengunduran diri Ian Thackwray sebagai Wakil Presiden Komisaris. Sekaligus mengangkat Martin Kriegner untuk menggantikan posisi Ian Thackwray sebagai Wakil Presiden Komisaris.

Perseroan mencatat kinerja yang tidak memuaskan. Pada 2016, Holcim Indonesia mengalami rugi bersih sebesar Rp285 miliar, sedangkan 2015 berhasil raih laba Rp175 Triliun.

Tetapi perusahaan berhasil mengantongi kenaikan pendapatan menjadi Rp9,4 Triliun naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp9,2 triliun. Adanya peningkatan biaya produksi terkait akuisisi PT Lafarge Cement Indonesia (LCI) menyebabkan perseroan belum dapat meraih laba tahun 2016.

"Pada 2016 ada tekanan dari harga jual semen sehingga berimbas pada penurunan penjualan, sedangkan biaya distribusi, administrasi, dan beban utang naik," terangnya.

Hingga kuartal I-2017, perseroan belum dapat memperbaiki kinerja. Holcim kembali mengalami rugi bersih sebesar Rp116 miliar, sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya Perseroan mampu mengantongi laba sebesar Rp67 miliar.

Kerugian ini disebabkan oleh penurunan penjualan sebanyak 12,1% menjadi Rp2,1 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,4 triliun. Perlambatan laju pertumbuhan ekonomi dan ketatnya persaingan pasar juga masih menjadi penyebab utama tertekannya harga jual di pasar.

Di samping itu, penurunan permintaan semen yang dipengaruhi oleh perubahan cuaca, tertundanya proyek infrastruktur dan perumahan juga turut memangkas penjualan perusahaan semen ini.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini