Asing 'Borong' Properti Indonesia, Angka Backlog Bisa Meningkat

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 28 Mei 2017 20:23 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 28 470 1701797 asing-borong-properti-indonesia-angka-backlog-bisa-meningkat-M7HhM3PKJw.jpg Ilustrasi perumahan. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Semakin banyaknya pihak asing yang berminat untuk investasi properti di Indonesia, maka akan semakin banyak keuntungan untuk Indonesia. Namun ternyata di sisi lain, semakin banyak pihak asing yang tertarik dengan properti di Indonesia ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan dan dicermati.

Pengamat Institute for Development of Economics dan Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, selain dampak Positif, jika tidak diantisipasi makan banyaknya investor asing yang datang ke Indonesia juga akan menjadi boomerang tersendiri. Menurutnya, dengan masuknya Asing ke Industri properti Indonesia, maka akan ada banyak developer asing yang membangun hunian mewah.

"Tapi ini ada sisi negatifnya. Akan banyak developer asing yang membangun hunian mewah. Sementara hunian untuk kelas menengah ke bawah semakin ditinggalkan,' ujarnya saat dihubungi Okezone, Minggu (28/11/2017).

Menurut Bhima, jika hal-hal seperti itu tidak bisa diantisipasi oleh pemerintah, maka kita semua harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Kemungkinan terburuknya adalah dalam jangka panjang angka kekurangan rumah (backlog) di Indonesia makin membesar.

"Setiap tahun ada penambahan backlog kepemilikan rumah di Indonesia sebesar 400 ribu unit rumah per tahun. Apabila terus dibiarkan, maka pada tahun 2025, akan terjadi total backlog kepemilikan rumah sebesar 17,08 juta unit rumah. Ini yang disebut krisis hunia,"jelasnya

Menurutnya, sejak 2014 setiap tahunnya ada penambahan backlog sebesar 400 ribu unit rumah per tahun. Saat ini, sendiri angka backlog di Indonesia telah mencapai 13,88 juta unit rumah.

"Setiap tahun ada penambahan backlog kepemilikan rumah di Indonesia sebesar 400 ribu unit rumah per tahun. Tahun 2014 backlog kita hanya 12,68 juta unit rumah saat ini di angka 13,88 juta unit rumah," ujarnya.

Bhima melanjutkan, jika terus seperti ini, peningkatan backlog hingga tahun 2025 akan semakin tinggi. Diprediksi total backlog kepemilikan rumah pada tahun 2025 sebesar 17,08 juta unit rumah. "Apabila terus dibiarkan, maka pada tahun 2025, akan terjadi total backlog kepemilikan rumah sebesar 17,08 juta unit rumah. Ini yang disebut krisis hunian," jelasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini