nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Temui Jokowi, Gubernur Riau Buka-bukaan Proyek Infrastruktur Strategis

Dedy Afrianto, Jurnalis · Rabu 31 Mei 2017 19:52 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 05 31 320 1704762 temui-jokowi-gubernur-riau-buka-bukaan-proyek-infrastruktur-strategis-KVay3IbRTP.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman hari ini hadir di Kantor Presiden untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pertemuan tersebut dilakukan pada rapat terbatas bersama jajaran Menteri Kabinet Kerja. Terdapat beberapa hal dibahas dalam rapat terbatas ini, salah satunya pembangunan jalan tol.

"Jadi kalau proyek strategis di Riau itu ada pembangunan Tol Pekanbaru-Dumai, ada pembangunan kereta api Dumai-Dur-Pekanbaru-Baganbatu, dan ada sutet 500 KPA untuk Sumatera dan ada juga kawasan ekonomi khusus, kawasan industri, ada juga pembangkit listrik di Rokan Kiri, dan juga ada pengembangan pelabuhan-pelabuhan, dan juga di sisi SDM ada pengembangan rivenery di Dumai, dan ada juga pengembangan terhadap pertanian sagu, kelapa, dan jagung di Provinsi Riau," ujarnya di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Rabu (31/5/2017).

Gubernur Riau pun meminta dukungan kepada pemerintah pusat agar daerah ini dapat terus berkembang. Pasalnya, kontribusi Riau terhadap ekonomi nasional cukup besar.

"Jadi, saya menyampaikan kepada Pak Presiden memang perlu tambahan perhatian pemerintah pusat ke Provinsi Riau. Karena bukan apa-apa, potensi Provinsi Riau ini untuk mendukung, memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Riau itu masih sangat besar sekali. Dengan kondisi sekarang, Riau menyumbang product domestic bruto untuk nasional 5,3%, dan itu terbesar di luar Jawa. Ini baru dengan kondisi seperti sekarang ini," jelasnya.

Masih terdapat beberapa hal yang dapat dikembangkan di Provinsi Riau. Salah satunya adalah budi daya laut.

"Padahal, potensi lain masih banyak yang belum kita garap di pesisir. Misalnya, garis pantai, budi daya laut, dan meningkatkan produktivitas kelapa, terutama kelapa rakyat yang ada sekitar 430 ribu ha di Kabupaten Indragiri Hilir dan kabupaten lain, dan juga terhadap pengembangan jagung dan kelapa sawit. Ini potensi yang besar. Dan saya belum bicara soal pariwisata. Dan ini sayang kalau pemerintah tidak memerhatikan ini," jelasnya.

Riau pun mengalami kesulitan untuk mengembangkan potensi yang ada. Hal ini disebabkan karena keterbatasan anggaran belanja daerah.

"Kendalanya kita tidak sanggup, keterbatasan di APBD kita. Karena Riau terus terang, 2015 sejak harga crude oil turun, dana bagi hasil untuk pemerintah provinsi dan kabupaten kota menurun. Dan juga komoditi untuk perkebunan pada waktu itu juga turun, itu berpengaruh terhadap PAD, karena pendapatan petani berkurang, daya beli masyarakat berkurang, PAD berkurang. Jadi ada dua, bagi hasil turun, PAD turun. Sehingga ini masih berdampak sampai sekarang. Karena kita sama-sama tahu, harga crude oil kan belum ada perbaikan signifikan, begitu juga komoditi perkebunan. Dan ini kita harus mencoba untuk mencari solusi lain untuk tetap meningkatkan pendapatan daerah," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini