Image

Arcandra: Impor Energi Tak Terpengaruh Suhu Politik Timur Tengah

Dedy Afrianto, Jurnalis · Selasa 06 Juni 2017, 17:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 06 06 320 1709152 arcandra-impor-energi-tak-terpengaruh-suhu-politik-timur-tengah-W7uStcLm5w.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Qatar dituding mendukung Ikhwanul Muslimin dan kelompok militan yang disokong Iran. Akibatnya, beberapa negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Yaman memutuskan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Qatar.

Indonesia sendiri memiliki hubungan kerjasama dengan Qatar dan Iran. Salah satunya adalah pada impor LPG dan minyak mentah.

Hanya saja, menurut Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, panasnya situasi politik di Timur Tengah ini tidak berdampak negatif bagi hubungan kerjasama Indonesia. Utamanya pada impor sektor energi yang diyakini dapat terus berjalan.

"Saya rasa sih enggak ada ya. Kita sama semua negara (di Timur Tengah) masih berhubungan secara diplomatik ya dan tidak tergantung dari apa yang terjadi sekarang," kata Arcandra di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/6/2017)

Seperti diketahui, panasnya hubungan politik di Timur Tengah ini turut berdampak pada turunnya harga minyak dunia hingga 1,6%. Alhasil, dalam penutupan perdagangan minyak pada Senin 5 Juni malam, harga minyak mentah berjangka Brent International turun 48 sen atau 0,96% ke level USD49,47 per barel. Sementara itu, minyak berjangka AS, West Texas Intermediate turun 26 sen atau 0,55% ke level USD47,40 per barel.

Pemerintah pun sebelumnya telah berencana untuk menaikkan asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017. Namun, belum diketahui apakah nantinya asumsi harga minyak dalam APBN juga akan diubah oleh pemerintah melihat situasi politik di Timur Tengah yang semakin memanas.

"Nah coba lihat harganya (minyak) sekarang gimana nih trennya? USD50 (per barel) turun lagi, UDD50 (per barel) turun lagi. Harga yang kita submit adalah harga yang terbaik lah karena enggak bisa, enggak ada satupun manusia, organisasi yang mampu memprediksi itu. Kalau itu bisa kecuali deviasinya terlalu jauh baru (direvisi)," tutup Arcandra.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini