nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Proyek Tanggul Laut Pantai Jakarta Dipercepat

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 06 Juni 2017 11:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 06 470 1708661 catat-proyek-tanggul-laut-pantai-jakarta-dipercepat-5Lj9yJUEZ8.jpg Ilustrasi: Okezone

JAKARTA – Proyek pembangunan tanggul laut pengaman pantai Jakarta atau pengembangan terpadu pesisir ibu kota negara (National Capital Integrated Coastal Development/ NCICD) terus dikebut. NCICD fase A bertambah sejauh 2 km pada akhir 2017.

Kepala Badan Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa DKI Jakarta Blessmiyanda mengatakan, saat ini tender pembangunan tanggul laut fase A aliran timur dan barat yang menjadi tugas Pemprov DKI, sudah masuk tahap akhir pengecekan perusahaan pemenang lelang.

Penetapan dan pengumuman pemenang lelang diperkirakan pada 13 Juni dan penandatanganan kontrak dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta bisa diselesaikan pada 23 Juni. Artinya, ketika penandatanganan kontrak sudah dilakukan, pembangunan tanggul dengan nilai tender Rp78,2 miliar sudah dapat dikerjakan Dinas SDA DKI Jakarta.

“Ada 62 perusahaan yang ikut lelang dan saat ini dalam tahap akhir penentuan pemenang lelang,” ujar Bless.

Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Teguh Hendrawan menuturkan, pihaknya terus berupaya mempercepat pembangunan NCICD fase A. Dia berharap proses lelang pembangunan tidak mengalami kendala dan bisa langsung dikerjakan mengingat anggaran pembangunan sudah masuk dalam kegiatan anggaran murni 2017.

Untuk mendukung percepatan pembangunan tanggul laut, pihaknya telah mengusulkan anggaran pembebasan lahan sebesar Rp74 miliar yang awalnya dialokasikan guna membangun waduk di Ciawi dan Sukamahi, Bogor.

“Mekanisme pembebasan lahan diambil langsung oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), padahal kami sudah menganggarkannya. Jadi, kami matikan dan alihkan untuk pembebasan lahan NCICD,” ungkapnya.

Menurut dia, proyek pembangunan tanggul laut yang akan dikerjakan tahun ini sekira 2 km, meneruskan pengerjaan tanggul yang sudah dikerjakan pada tahun sebelumnya. Dia menargetkan pengerjaan tanggul akan rampung sesuai rencana, yakni pada 2018.

“Ada dua titik yang akan dibangun, yakni di Kamal Muara dan Marunda,” ucapnya.

Proyek tanggul laut dibagi dalam tiga tahap. Tahap A merupakan penguatan sistem tanggul laut dan sungai yang telah ada, di mana pembangunannya ditargetkan selesai pada 2018.

Sementara tahap B, pembangunan tanggul laut lepas pantai di bagian barat Teluk Jakarta mulai 2018 hingga 2025. Kemudian, tahap C pembangunan tanggul laut lepas pantai di bagian timur Teluk Jakarta yang dikerjakan setelah 2025. Pada tahap B dan C, rencananya akan ada reklamasi lahan dan pembangunan 17 pulau. Proyek NCICD fase A sepanjang 62,62 km.

Pemprov DKI dan pemerintah pusat memiliki kewajiban membangun masing-masing 8 km, sedangkan sisanya akan dibangun oleh pengembang pulau reklamasi. Pemprov DKI mendapat tugas mengerjakan tanggul laut raksasa di Cilincing, Jakarta Utara yang kini masih dalam tahapan lelang. BBWSCC mengerjakan tanggul sepanjang 4,5 km di Kalibaru dan Muara Baru yang kini tengah proses pengerjaan.

Kepala Satuan Kerja NCICD BBWSCC Sudarto mengatakan, untuk wilayah Kalibaru sepanjang 2.200 meter dan Muara Baru sepanjang 2.300 meter. Saat ini, di Kalibaru sudah rampung sepanjang 1.075 meter, sedangkan di Muara Baru telah dibangun sepanjang 1.040 meter.

“Kami berusaha menyelesaikan pengerjaan hingga akhir 2017 walaupun target sebenarnya selesai pada 2018. NCICD fase A merupakan bagian tanggul laut yang amat penting karena fungsinya memulihkan banjir rob di Jakarta agar tak banjir lagi. Makanya dikerjakan paling pertama,” ungkapnya.

Pembangunan tanggul laut di Kalibaru dan Muara Baru dikerjakan oleh empat kontraktor secara bersama (joint operation). Di Kalibaru dikerjakan oleh PT Wijaya Karya dan PT Sagna Nusantara, di Muara Baru dikerjakan oleh Waskita Karya dan Adhi Karya.

Nilai total proyek pembangunan tanggul laut di dua wilayah itu mencapai Rp820 miliar. Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan, tindakan Pemprov DKI yang mengizinkan pembangunan tanggul laut di atas peruntukan kawasan hijau seperti rawa dan hutan mangrove (bakau) adalah kesalahan besar.

Selain memerlukan biaya pembangunan dan pemeliharaan yang sangat mahal, proyek tanggul dan pompa tidak akan berkelanjutan untuk mengatasi banjir rob. Bahkan, dia menilai pembangunan tanggul justru merusak lingkungan. Dia menyarankan pesisir utara harus dalam tata ruang yang dibatasi hutan bakau rapat sepanjang tepi pantai Jakarta sebagai tanggul alami yang berfungsi menahan abrasi, meredam tsunami dan rob, serta menjaga keanekaragaman hayati.

Pembangunan tanggul laut justru menghancurkan hutan bakau yang sekarang tinggal sepanjang 3 km dari total 32 km. “Akibat berkurangnya hutan mangrove yang telah banyak berubah menjadi permukiman mewah, apartemen, dan mal mengakibatkan tidak ada lagi yang berfungsi alami. Akhirnya kawasan permukiman tersebut rawan rob, banjir, dan sebagainya,” kata Nirwono.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini