Krisis Qatar, Ekonomi Negara Teluk Terguncang

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 07 Juni 2017 09:34 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 07 320 1709558 krisis-qatar-ekonomi-negara-teluk-terguncang-eFV6cZwpdG.jpg Ilustrasi: Shutterstock

DOHA – Sehari setelah diisolasi tujuh negara, Qatar terancam mengalami krisis dan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar Amerika Serikat (AS).

Maskapai Qatar Airways akan kehilangan pelanggan dalam jumlah besar yang juga berdampak terhadap jumlah wisatawan. Kondisi pasar keuangan juga mengalami dilema dan ketidakpastian.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Mesir, Yaman, Pemerintah Libya di bagian timur, dan Maladewa memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, Senin (5/6). Arab Saudi, Bahrain, Yaman, Mesir, dan Lybia menuduh Qatar mendukung, mendanai, dan melindungi kelompok ekstremis yang mengancam stabilitas kawasan.

Dampak dari keretakan antara negara Teluk itu berdampak pada ekonomi kedua belah pihak. Arab Saudi dan Mesir memblokade akses menuju Qatar, baik darat, laut, ataupun udara. Begitu pun sebaliknya.

Penutupan itu berpotensi menimbulkan kekacauan bisnis perdagangan, jasa, investasi, dan keuangan. Kisaran pasti kerugian yang ditelan kedua belah pihak tidak diketahui pasti. Namun, penangguhan semua maskapai penerbangan Qatar menuju Arab Saudi membuat mereka pusing tujuh keliling, terutama Qatar Airways yang memiliki pangsa pasar terbesar.

Mereka setidaknya kehilangan 76 penerbangan per hari. Selain itu, Arab Saudi mencabut izin operasi Qatar Airways dan Al-Jazeera. Sama seperti para diplomat, mereka harus me ninggalkan Arab Saudi dalam tempo 48 jam.

Konsultan Frost & Sullivan menyatakan Qatar Airways akan mengalami kerugian hingga 30% dari total pendapatan. Faktanya, sebanyak 52 dari 76 penerbangan per hari yang terdampak di - tang gung Qatar Airways. Selain itu, mereka harus mengubah jalur penerbangan lama karena Arab Saudi dan negara Teluk menutup jalur udara.

“Dengan demikian, mereka harus mengeluarkan anggaran yang lebih tinggi untuk bahan bakar dengan waktu penerbangan yang lebih panjang,” ujar Kepala Martin Consulting, Mark Martin.

“Tujuan penerbangan ke Afrika dan Samudera Hindia kemungkinan tidak akan mampu dilanjutkan oleh Qatar Airways,” tambahnya.

Lebih dari 10% maskapai penerbangan asing yang masuk ke Qatar transit di empat negara Arab. Artinya, lalu lintas penerbangan akan terpengaruh cukup signifikan. Permintaan penerbangan di Qatar juga sedang lesu.

“Dampaknya akan semakin memburuk jika penutupan ini berlanjut dalam jangka panjang,” ungkap Frost & Sullivan.

Blokade akses juga mengancam Qatar mengalami krisis makanan. Pada 2015, impor pangan Qatar dari Arab Saudi dan UEA mencapai USD309 juta dari total impor USD1,05 miliar. Adapun impor Qatar dari Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir selama tahun 2016 mencapai 20,4 miliar riyal Qatar atau 85% dari total impor Qatar di negara Arab.

Para ahli menilai Qatar akan mengalami peningkatan inflasi secara signifikan akibat penutupan jalur darat, laut, dan udara oleh negara Arab. Qatar disarankan mencari alternatif pasar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Secara keseluruhan, Theodore Karasik dari Gulf State Analytics mengatakan ekonomi Qatar akan menderita. Namun, di atas kertas, perdagangan terbesar Qatar ialah dengan Asia, terutama untuk sektor gas dan minyak. Transaksi antara Qatar dan negara Teluk relatif besar untuk sektor pangan seperti gula putih, susu, ayam, dan keju.

Seorang pedagang dari Qatar mengaku pasokan pangan telah menipis, termasuk gula putih. Qatar telah mengimpor gula putih kurang lebih 100.000 ton per tahun dari Arab Saudi dan UEA. Konsumsi gula saat ini sedang meningkat di Qatar. “Pasokannya dihentikan dan saya tidak tahu kapan perdagangan akan pulih lagi,” tandasnya.

Ribuan truk yang mengangkut pasokan makanan juga dilaporkan tersendat di wilayah perbatasan karena akses menuju Qatar telah ditutup. Di Doha, masyarakat menyerbu supermarket dan membeli makanan dalam jumlah banyak.

“Situasinya benar-benar kacau. Saya tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya,” kata ekspat Eva Tobaji.

Otoritas Pelabuhan Arab Saudi juga melarang kapal berbendera Qatar atau dimiliki orang atau perusahaan Qatar me masuki Arab Saudi.

Keputusan serupa diambil UEA. Namun, Ketua Union of Exporter of Agricultural Product Iran Reza Nourani mengatakan siap mengekspor makanan menuju Qatar melalui jalur laut. Menlu Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menjamin kebutuhan sehari-hari masyarakat Qatar akan terpenuhi.

“Qatar sebelum nya juga pernah menghadapi krisis, yaitu selama kudeta pada 1996 dan krisis diplomasi dengan negara Teluk pada 2014. Tapi, kami mampu melaluinya,” tandas Al Thani, kepada Al-Jazeera. Para pemerhati menilai Qatar harus bersikap dewasa dan bertanggung jawab terhadap peningkatan ketegangan di antara negara Teluk.

Mereka juga diminta tidak memprovokasi negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi. “Situasinya bisa diperbaiki jika Doha mengakui kesalahan mereka,” kata Theodore Karasik dari Gulf State Analytics.

Ancam Pariwisata RI

Komunitas Indonesia di Qatar diimbau tetap tenang namun waspada serta terus mengikuti perkembangan situasi keamanan di sekitarnya melalui berbagai sarana. ”Tidak perlu mengambil langkah-langkah yang berlebihan mengingat situasi di Qatar masih aman dan terkendali,” kata Dubes RI untuk Qatar Marsekal Madya TNI (Purn) Muhamad Basri Side habi, saat pertemuan dengan ma - syarakat Indonesia di Kompleks Al Khor Community (AKC), Kota Alkhor, sekitar 60 km dari Doha, Senin (5/6).

Basri mengatakan, pihak nya tengah berkoordinasi dengan otoritas setempat guna me - mastikan keamanan dan keselamatan WNI di Qatar. Sampai kemarin kondisi politik dan keamanan di Qatar berjalan normal, tidak terdapat tandatanda meningkatnya eskalasi politik dan keamanan.

Hanya, diakui dia, terdapat peningkatan jumlah keamanan, khususnya kawasan yang dianggap pen ting dan ramai dikunjungi masyarakat. Menurut Dubes, KBRI telah mempersiapkan langkah antisi pasi.

Hal ini mengingat jumlah WNI di Qatar cukup besar. Berdasarkan informasi Inter national Organization for Migration (IOM), jumlah WNI pada 2015 sekitar 43.000 orang yang tersebar di seluruh Qatar, terutama di Al Khor, Dukhan, Umm Said, Al Shamal, Doha, dan daerah di sekitarnya.

Terkait situasi di kawasan, Basri menyampaikan posisi pemerintah bahwa Indonesia prihatin mengikuti secara dekat perkembangan situasi di Timur Tengah saat ini. ”Indonesia meng harapkan semua pihak dapat menahan diri dan mengedepankan dialog dan rekonsiliasi untuk menyelesaikan masalah ini,” paparnya.

Sementara itu, Indonesia diperkirakan kehilangan ribuan wisatawan mancanegara (wisman) dari Timur Tengah terutama para pengguna Maskapai Qatar Airways akibat aksi boikot Qatar tersebut.

“Sekitar 100.000 hilang, sebanyak 70 persennya wisman, impactnya, katakan pada 2017 ini tinggal tujuh bulan sekitar 50.000 wis - man hilang karena Qatar diboikot,” kata Menteri Pari wisata (Menpar) Arief Yahya, di Jakata, kemarin. Angka itu diperkirakan hanya mencakup mereka yang menggunakan Maskapai Qatar Airways, terutama dari negara-negara Timur Tengah yang memboikot.

Untuk mengantisipasi hal itu, Arief Yahya akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk mensubstitusi lisensi Maskapai Qatar Airways ke maskapai lain seperti Emirates dan Etihad. “Apa boleh buat, wong nggak bisa terbang dia. Kalau enggak, kita rugi 100.000 (wisman). Besar sekali,” katanya. Adapun Kemenhub mencabut sementara lisensi terbang Maskapai Qatar Airways.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, selama ini Qatar Airways banyak berkontribusi mengangkut jamaah umrah Indonesia. Jika kondisi di Timur Tengah telah membaik, lisensi tersebut akan diberikan kembali kepada maskapai tersebut.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini