Timur Tengah Terguncang, Bagaimana dengan Minat Investor?

ant, Jurnalis · Kamis 08 Juni 2017 06:49 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 08 320 1710577 timur-tengah-terguncang-bagaimana-dengan-minat-investor-6nA2PU7JAV.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur Emma Sri Martini menilai investor pembiayaan syariah dari luar negeri tidak akan terganggu dengan persoalan geopolitik yang saat ini sedang melanda di kawasan Timur Tengah.

"Uang biasanya mengalir kepada yang memberikan return tinggi dan Indonesia yang baru mendapat upgrade sebagai layak investasi malah mendapatkan keuntungan," kata Emma dalam pemaparan di Jakarta, Rabu malam.

Emma memastikan investor pembiayaan syariah yang kebanyakan berasal dari Timur Tengah justru akan melihat Indonesia sebagai salah satu tempat yang ideal untuk melakukan investasi.

Ia mengatakan minat investor tidak akan berkurang karena potensi risiko yang dimiliki Indonesia sangat rendah dibandingkan situasi di wilayah Timur Tengah yang sedang memanas.

"Investor mengharapkan return tinggi dan kita tidak bisa memberikan return itu, hanya commercial return. Tapi minat dan segala macam tidak terpengaruh, karena dana mencari potensi risk sangat rendah dan Indonesia punya posisi itu," kata Emma.

Meski demikian, ia mengakui minat investor pembiayaan syariah dari luar negeri ke Indonesia masih kecil karena pasar industri keuangan syariah yang belum begitu besar.

Untuk itu, PT SMI sejak Maret 2017 telah membentuk Unit Usaha Syariah yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada dana syariah jangka panjang untuk disalurkan ke pembangunan infrastruktur.

Pendirian unit ini juga bertujuan untuk memberikan pilihan alternatif pendanaan bagi entitas-entitas seperti developer, kontraktor maupun manufaktur yang ingin memanfaatkan pembiayaan syariah.

"Kita mulai merangkul pemain lama perbankan syariah, dan karena masih dinilai high risk, kita saling melengkapi mulai dari sisi size, risiko, hingga pengetahuan, agar mereka nyaman masuk infrastruktur," kata Emma.

Meski baru terbentuk, unit usaha ini sudah mengincar pembiayaan syariah untuk tiga proyek pembangunan infrastruktur dasar yaitu jalan tol, kilang migas dan ketenagalistrikan.

"Yang sudah maju proses persiapan dan koordinasi teman-teman di lapangan dengan pemilik proyek, diantaranya tiga proyek ini. Untuk komitmen dan 'disburst' nanti kita sesuaikan dengan kemajuan proyek," ungkap Emma.

Saat ini industri keuangan syariah di Indonesia berpotensi makin berkembang, dengan total aset pada akhir 2016 telah mencapai Rp891,86 triliun serta tingkat pertumbuhan aset rata-rata sebesar 23% per tahun.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini