Share

Menkeu Qatar: Sanksi dan Isolasi Negara Arab Tak Hancurkan Perekonomian!

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 13 Juni 2017 13:03 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 13 20 1714701 menkeu-qatar-sanksi-dan-isolasi-negara-arab-tak-hancurkan-perekonomian-Q2ROZIiARD.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

DOHA – Menteri Keuangan Qatar Ali Sherif al-Emadi menegaskan, sanksi dan isolasi negara-negara Arab tidak akan berdampak serius dan menghancurkan ekonomi negara tersebut.

Penegasan Emadi itu diungkapkan dalam wawancara dengan stasiun televisi CNBC yang disiarkan kemarin, Senin 12 Juni 2017. Dia mengungkapkan negara yang memberlakukan sanksi kepada Qatar justru akan kehilangan banyak uang karena kerugian bisnis di Timur Tengah. “Banyak orang berpikir kita hanya bergantung pada mereka (negara-negara Arab). Jika kita kehilangan dolar, mereka juga akan kehilangan dolar juga,” ujar Emadi.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir telah memutuskan hubungan diplomatik dan transportasi sepekan lalu. Mereka menuding Doha mendukung terorisme, tetapi Qatar membantahnya. Namun demikian, Emadi mengungkapkan sektor energi dan ekonomi Qatar tidak akan terkena dampak sama sekali. Ekspor minyak dan gas tetap berlangsung normal. “Kita juga tidak menghadapi dampak serius dalam operasional bank dan suplai makanan serta produk lainnya,” tuturnya. Emadi mengatakan bisnis di Qatar tetap berjalan normal.

“Kita juga terbuka untuk bisnis dan investasi,” ungkapnya. Dia menambahkan, Qatar tetap aman untuk berbisnis meskipun ada isolasi. “Qatar bisa mengimpor barang dari Turki, Asia, atau Eropa. Krisis akan membuat diversifikasi ekonomi lebih beragam,” katanya. Meski demikian, mata uang rial Qatar mengalami tekanan dalam pasar valas. Namun, Emadi menegaskan cadangan mata uang asing dan dana investasi Qatar lebih dari 250% dari produk domestik bruto. “Saya tidak berpikir ada alasan bahwa orang harus khawatir dengan spekulasi terhadap mata uang riyal Qatar,” ujar Emadi. Ketika ditanya apakah Qatar ingin menjual saham di perusahaan Barat, Emadi menjelaskan hal itu tak perlu dilakukan.

“Kita sangat percaya diri dengan posisi, investasi, dan likuiditas kita,” ujarnya. Faktanya, harga obligasi Qatar di pasar internasional menurun drastis. “Kita melihat akan kembali normal secepatnya. Itu hanya respons sesaat setelah pengumuman 5 Juni tentang isolasi,” tambahnya. Kemudian ditambahkan oleh Mutlaq al-Qahtani, penasihat kontraterorisme menteri luar negeri Qatar, upaya diplomatik terus digalakkan untuk menyelesaikan ketegangan. “Peranan Qatar akan memfasilitasi perundingan, memediasi, dan mewujudkan perdamaian,” ujar Qahtani dilansir Al Jazeera.

Upaya isolasi yang dilakukan Saudi dan aliansi, menurut dia, itu sebagai upaya dominasi dan kontrol terhadap negara yang berbeda pandangan. Chief Executive Officer (CEO) Qatar Airways Akbar Al Baker mendesak badan penerbangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan tindakan penutupan lalu lintas udara dari Qatar oleh negaranegara Arab Teluk sebagai aksi ilegal. Pernyataan Akbar itu muncul dalam komentar pada CNN yang diterbitkan kemarin, setelah negara-negara Arab memutus hubungan diplomatik dengan Qatar.

Akbar mengkritik Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain yang menutup wilayah udara mereka untuk penerbangan Qatar sepekan lalu. Dia mengajukan desakan itu pada Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), badan PBB yang menangani konvensi Chicago untuk menjamin penerbangan sipil. “Kami memiliki saluran hukum untuk keberatan pada ini,” tegas Akbar, dikutip kantor berita Reuters. “ICAO harus terlibat, menegaskan sikap mereka untuk mendeklarasikan ini aksi ilegal,” ujar Akbar. UEA dan Bahrain telah menandatangani Konvensi 1944.

Arab Saudi tidak menandatanganinya. Akbar menjelaskan, 18 tujuan sekarang tak dapat dilayani maskapai Qatar. Dia juga mengkritik Arab Saudi dan UEA yang menutup kantor-kantor maskapai mereka. “Ini benar-benar parodi perilaku beradab untuk menutup kantor maskapai. Kantor maskapai bukan sayap politik,” paparnya. “Kami disegel seperti ini organisasi kriminal. Kami tidak diizinkan mengembalikan dana pada para penumpang kami,” ujarnya. Akbar juga mengaku kecewa dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

“AS harus menjadi pemimpin untuk mencoba memecah blokade ini dan tidak duduk sambil menonton apa yang terjadi serta menuangkan bahan bakar ke api,” katanya. Trump pekan lalu memuji langkah Arab Saudi, UEA, dan Bahrain yang menekan Qatar dan menuduh Qatar mendukung Iran serta mendanai kelompok militan. Tuduhan itu pun disangkal oleh Qatar. Dalam wawancara terpisah dengan Wall Street Journal, Akbar menjelaskan tidak akan menunda satu pun pesanan pesawat atau melanjutkan rencana ekspansi di negara-negara lain seperti India.

Minggu (11/6) lalu, Qatar Airways melaporkan kenaikan laba bersih 21,7% tahun lalu yang berakhir Maret. Peningkatan laba bersih itu karena strategi investasi dan ekspansi yang tepat.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini