Ada Isolasi Qatar, Menkeu Sri Mulyani: Situasi Global Tetap Kondusif

Lidya Julita Sembiring, Jurnalis · Selasa 13 Juni 2017 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 13 20 1714814 ada-isolasi-qatar-menkeu-sri-mulyani-situasi-global-tetap-kondusif-QYkJwLA75Q.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI kembali menggelar rapat kerja (raker) bersama pemerintah. Adapun raker hari ini mendengar jawaban pemerintah atas tanggapan anggota Komisi XI mengenai Asumsi Dasar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018.

Raker kembali dipimpin oleh Ketua Komisi XI Melchias Marcus Mekeng yang dihadiri oleh sejumlah anggota Komisi XI. Sementara itu, dari pihak pemerintah telah hadir Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suharyanto, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, serta disusul oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo.

"Rapat saya buka dan terbuka untuk umum. Agenda raker hari ini adalah melanjutkan pembahasan asumsi makro dalam RAPBN 2018. Kemarin kita sudah menyampaikan pertanyaan-pertanyaan ke pemerintah dan kami persilakan kepada Menkeu, BI, Bappenas, dan BPS untuk memberi jawaban kepada anggota," ungkap Mekeng di Ruang Rapat Komisi XI, DPR RI, Jakarta, Selasa (13/6/2017).

Menanggapi pertanyaan mengenai asumsi pertumbuhan ekonomi di 2018 sekira 5,4%-6,1% yang disampaikan oleh anggota Komisi XI, Menkeu mengatakan pihaknya bisa optimis karena untuk ekonomi global, kondisi di 2017 hingga 2018 diperkirakan akan lebih baik.

"Meskipun tetap ada risiko, seperti di mid east, Qatar, ini akan memengaruhi harga dari migas. Kemudian kita juga melihat risiko dari RRC yaitu adjustment dan menghindari penyesuaian secara sangat hard lending oleh karena itu seberapa soft landing dan adjustment untuk menjaga RRT menggunakan debitur," tutur Menkeu.

Ia memaparkan, kondisi Republik Rakyat China (RRC) juga harus diperhatikan karena jika mereka menggunakan utang, hal itu dapat menyebabkan risiko di sektor keuangan mereka yang juga akan memengaruhi keuangan Indonesia.

"Tapi pertumbuhan ekonomi mereka kami lihat masih 7%, tapi studi-studi bilang 5%-6% mendingin. Meskipun sekarang ada kenaikan permintaan global, ekspor, impor, ekspor dari manufaktur, maka kita harus hati-hati bagaimana engine of export kita," jelasnya.

Menurutnya, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,4%-6,1% harus didorong oleh beberapa faktor, di antaranya momentum pertumbuhan ekonomi kuartal I ada pembalikan dari sebelumnya.

"Kuartal-I kita lihat (pertumbuhan ekonomi) 5,0% karena ada indikasi pembalikan sentimen dan tren. Juga Asian Games dan pertemuan Paralympic Games, dan IMF yang akan berlangsung di 2018. Investasi infrastruktur masuk tahun 3-4 persiapan sudah dimulai serta belanja modal BUMN baik BUMN maupun subnya," tukas Menkeu.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini