nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gubernur BI: Rupiah di Level Rp13.000 Cerminan Fundamental Ekonomi Indonesia

Lidya Julita Sembiring, Jurnalis · Selasa 13 Juni 2017 16:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 13 278 1715061 gubernur-bi-rupiah-di-level-rp13-000-cerminan-fundamental-ekonomi-indonesia-DcpEOnS1dR.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kembali melakukan rapat kerja dengan pemerintah terkait asumsi dasar RAPBN 2018.

Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu perwakilan pemerintah yang hadir turut memberikan penjelasan mengenai asumsi rupiah dalam RAPBN 2018 yang dipertanyakan oleh anggota dewan.

Dalam asumsi dasar RAPBN 2018, nilai tukar rupiah dari Bank Indonesia (BI) berada di kisaran Rp13.400 per USD hingga Rp13.700 per USD. Angka itu lebih baik dibandingkan dengan asumsi nilai tukar milik pemerintah yang berada pada kisaran Rp13.500 per USD-Rp13.800 per USD.

Gubernur BI Agus Martowardojo menanggapi pertanyaan mengenai asumsi nilai tukar rupiah yang diajukan oleh anggota dewan mengatakan bahwa rupiah mulai menguat saat ini sehingga pihaknya menetapkan asumsi di 2018 dikisaran tersebut. Pasalnya kini rupiah berada di kisaran Rp13.000 per USD.

"Rupiah sekarang di kisaran Rp13.000 cerminan fundamental ekonomi Indonesia. Sekarang market Indonesia jadi investment grade, sehingga banyak yang akan masuk capital inflow-nya," ungkapnya di Ruang Rapat Komisi XI, Jakarta, Selasa (13/6/2017).

Menurutnya, yang menyebabkan nilai tukar rupiah sering melemah yakni karena inflasi yang tinggi. Sehingga pihaknya akan berusaha untuk terus menjaga agar inflasi tidak semakin tinggi.

"Dua tahun terakhir inflasi kita 3,4% dan 3,02% pada 2016 itu adalah yang terbaik dalam 45 tahun terakhir. Kalau kita keluarkan tahun 1999 lebih parah saat krisis moneter," jelasnya.

Sementara itu, faktor yang memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS adalah faktor capital inflow yang disebabkan oleh kebijakan moneter quantative easing.

"Karena sejak 2012 transaksi berjalan kita dipengaruhi impor yang lebih besar, daripada ekspor. Semuanya defisit transaksi berjalan puncaknya 2013 ini enggak mungkin rupiah menguat," tukasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini