Share

Wih, Pemerintah Minta Kenaikan Subsidi Listrik pada 2018 Jadi Rp52 Triliun

Feby Novalius, Jurnalis · Kamis 15 Juni 2017 14:11 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 15 320 1716891 wih-pemerintah-minta-kenaikan-subsidi-listrik-pada-2018-jadi-rp52-triliun-KvNAU1w7kF.jpg Foto: Feby/Okezone

JAKARTA - Pemerintah lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengajukan kenaikan subsidi listrik dalam asumsi makro RAPBN 2018 yang sedang dibahas dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Subsidi yang diajukan untuk 2018 sebesar Rp52 triliun atau naik sekira Rp3 triliun dibandingkan subsidi listrik 2017 sebesar Rp49 triliun. Namun, ada yang janggal dari kenaikan subsidi listrik ini, di mana pada tahun ini pemerintah memutuskan untuk mencabut subsidi listrik 19 juta pelanggan listrik 900 va.

Lantas untuk apa kenaikan subsidi listrik yang diajukan sekira Rp52 triliun tersebut?

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, ada beberapa hal yang membuat pemerintah mengajukan kenaikan subsidi. Pertama soal kurs Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

"Subsidi dulu Rp49 triliun itu dengan kurs Rp13.500 per USD, sementara sekarang kurs yang diajukan Rp13.800. Jadi kami menyesuaikan apa yang sudah diproyeksikan, sehingga kira-kira subsidi di 2018 dari Rp49 triliun menjadi Rp52 triliun," tuturnya di P2B JB, Gandung, Depok, Kamis (15/6/2017).

Menurut Jonan, kenaikan subsidi yang diajukan tidak sepenuhnya akan digunakan. Pasalnya, bergantung dengan energi primer seperti gas dan batu bara.

"Jadi kalau turun harga gas dan batu bara pasti tarif turun juga, sehingga subsidi tidak pakai semua. Lagian sekarang  PLN juga tidak berlomba untuk menghabiskan subsidi," tuturnya.

Selain itu, kenaikan subsidi diajukan juga untuk menambah rasio elektrifikasi baru di daerah-daerah terpencil. Oleh sebab itu, diajukan kenaikan subsidi dalam asumsi makro RAPBN 2018.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini