Image

Lebaran 2017, BI: Waspadai Kejahatan Skimming, Phishing, dan Malware

ant, Jurnalis · Selasa 20 Juni 2017, 13:54 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 20 320 1720659 lebaran-2017-bi-waspadai-kejahatan-skimming-phishing-dan-malware-L5038J0KAn.jpg (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengingatkan masyarakat agar tetap berhati-hati dalam bertransaksi secara nontunai, khususnya saat perjalanan pulang kampung (mudik) menjelang Idul Fitri 1438 Hijriah.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI Tirta Segara dalam pesan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (20/6/2017), mengatakan saat ini fasilitas pembayaran nontunai sudah diperluas untuk merambah layanan saat kegiatan mudik. Seiring dengan itu, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kejahatan dalam sistem pembayaran.

"Beberapa kasus kejahatan sistem pembayaran yang mungkin terjadi antara lain berupa 'skimming', 'phishing', dan 'malware'," kata Tirta di Jakarta.

‘Skimming’ adalah tindakan mencuri data nasabah dengan memasang alat perekam data, yang umumnya dilakukan pada mesin perekam data (Electronic Data Capture/EDC) dan anjungan tunai mandiri (ATM). Sedangkan ‘phishing’ adalah tindakan ilegal untuk memperoleh informasi sensitif seperti nama pengguna dan sandi rahasia, detail kartu kredit, dan lain-lain. Sementara 'malware' merupakan perangkat lunak atau kode yang diciptakan seseorang dengan tujuan jahat.

Masyarakat, lanjut Tirta, harus berhati-hati dalam bertransaksi melalui layanan ‘internet banking’, ‘mobile banking’, ‘SMS banking’, transaksi melalui ATM dan EDC. Nasabah juga diminta untuk menjaga keamanan perangkat atau gawai, dengan tidak membuka situs-situs yang tidak aman serta senantiasa melakukan pemutakhiran (update) antivirus.

"Apabila masyarakat mencurigai adanya penipuan atau kejahatan notunai, masyarakat dapat melaporkan kepada pihak penerbit kartu serta kepolisian sebagai pihak penegak hukum," ujar Tirta.

BI juga meminta masyarakat untuk memilah informasi yang beredar mengenai penipuan atau kejahatan sistem pembayaran. Tirta menjamin otoritas dan penyelenggara sistem pembayaran akan meningkatkan pengamanan sistem pembayaran.

"Seluruh pihak juga terus berkoordinasi dalam mencegah dan menanggulangi kejahatan sistem pembayaran," ujarnya.

Seperti diketahui, pemerintah dan BI mulai menguji coba pembayaran jasa tol menggunakan uang elektronik dari seluruh bank penerbit di ruas-ruas tol di Pulau Jawa. Sebagai contoh, empat bank BUMN saja, yakni Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, dan Bank Tabungan Negara akan menyediakan sedikitnya 210 ribu keping uang elektronik baru untuk dibeli masyarakat guna membayar jasa tol.

BI mengestimasi tahun ini penggunaan transaksi nontunai di gerbang tol akan mencapai 50% dari total transaksi dibanding tahun lalu yang sebesar 23%.

Selain itu, saat Lebaran, masyarakat kerap meningkatkan konsumsinya, seperti berbelanja makanan dan pakaian. Penggunaan alat pembayaran nontunai untuk transaksi masyarakat sehari-hari, menurut BI, pun terus meningkat.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini