Penting! Makan Ikan Lebih Hemat Dibandingkan Daging Sapi

Dedy Afrianto, Jurnalis · Senin 03 Juli 2017 15:40 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 03 320 1727540 penting-makan-ikan-lebih-hemat-dibandingkan-daging-sapi-FaV4ucUVOY.jpg Foto: Dedy/Okezone

JAKARTA - Ketergantungan Indonesia pada daging sapi memaksa pemerintah untuk melakukan impor. Impor ini dilakukan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat dan menstabilkan harga daging.

Hanya saja, ketergantungan daging sapi ini dapat menjadi beban seiring dengan tingginya pertumbuhan ekonomi nasional. Impor daging sapi pun akan mengalami peningkatan jika ekonomi Indonesia dan konsumsi terus tumbuh.

"Semakin baik konsumsi kita semakin tinggi impor kita untuk daging sapi," kata Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Negara, Jakarta, Senin (3/7/2017).

Untuk itu, Indonesia perlu mencari substitusi dari daging sapi. Menurut Menteri Kesehatan Nila Moeloek, ikan dapat menjadi salah satu pilihan karena nilai gizi yang baik dan kadar lemak yang lebih rendah dibandingkan daging sapi.

"Ini juga semua halal. Kalau ikan kalau banyak enggak ada masalah. Saya kalau makan satu ikan itu bisa," jelasnya.

Menurutnya, konsumsi ikan perlu ditingkatkan untuk menjaga kualitas hidup masyarakat. Pasalnya, hingga saat ini jumlah anak di Indonesia yang mengalami masalah kekurangan gizi masih cukup tinggi.

"Ada 37,2% ada perkembangan tinggi berat badan yang tidak sesuai. Hampir 40%. Antara 4 anak 1 itu anak kita stunting. Kita coba untuk turunkan hingga jadi 27,5%. Bahkan salah satu provinsi di Indonesia timur sampai 50%. Artinya tidak punya kesehatan yang kita harapkan. Ada juga 35,7% di salah satu provinsi di Jawa Tengah. Angka WHO diharapkan di bawah 20%," kata Menkes.

Untuk itu, Menkes mengharapkan konsumsi ikan dapat ditingkatkan. Selain karena murah, ikan juga dapat memberikan dampak kesehatan yang sangat baik untuk masyarakat.

"Di daerah presiden tekankan kembali makanan bergizi. Lalu juga diperhatikan, ikan tidak hanya di laut, juga ada di darat termasuk ikan lele, ikan nila. Jadi saya dimakan juga enggak apa-apa. Ikan nila itu enak sekali dagingnya," kata Nila Moeloek sembari disambut gelak tawa.

Indonesia pun perlu mencontoh Jepang dalam hal peningkatan konsumsi ikan. Bahkan, Menkes memperkirakan bahwa ikan yang dikonsumsi oleh Jepang sebagian berasal dari Indonesia 

"Ibu Susi katakan akan ditenggelamkan kapal dan yang tidak makan ikan juga akan ditenggelamkan. Masyarakat harus mengerti bahwa ikan berprotein. Orang Jepang juga makan ikan, saya pikir ikannya juga dari Indonesia," ujarnya.

Menkes menambahkan, biaya produksi ikan juga lebih murah dibandingkan dengan ternak sapi. Untuk itu, kuliner ikan harus menjadi budaya bagi masyarakat pada berbagai daerah.

"Insya Allah dengan adanya ikan kita tidak lagi butuh daging. 1 ekor sapi butuh 2 ha bayangkan 250 juta jiwa, lebih banyak lahan yang dibutuhkan," tuturnya.

Namun, konsumsi ikan harus diikuti oleh konsumsi makanan lainnya dengan cara yang positif. Dengan begitu, target Jokowi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dapat tercapai.

"Kalau bisa dimasaknya yang benar. Ikan teri itu benar, tapi nasinya sebakul?" ungkap Menkes.

Ikan pun diharapkan dapat berkontribusi bagi pariwisata di Indonesia. Khususnya pada wisata kuliner yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan pada berbagai daerah.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini