Waduh! Pencabutan Subsidi Listrik Dinilai Lemahkan Daya Beli Masyarakat

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 10 Juli 2017 08:14 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 10 320 1732368 waduh-pencabutan-subsidi-listrik-dinilai-lemahkan-daya-beli-masyarakat-cnK97ijSUr.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah dianggap hanya bermain kata-kata dalam terkait naiknya tarif listrik. Pasalnya, pemerintah mengaku tidak menaikan tarif listrik, akan tetapi kenyataan di lapangan tarif tagihan listrik naik seiring pencabutan subsidi listrik untuk rumah tangga golongan 900 volt ampere (va).

Menurut Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, pencabutan subsidi rumah tangga golongan 900 va ternyata menyebabkan inflasi pada bulan Juni sebesar 0,69%. Hal ini disebabkan ada 82,2% pelanggan yang tarif listriknya naik pasca pencabutan subsidi.

"Itu yang membuat inflasi. Pada bulan Januari dan Juni masin-masing inflasinya adalah 0.97% dan 0.69%. Itu karena ada 82,2% pelanggan golongan 900 va yang naik tariflistriknya," ujarnya saat dihubungi Okezone di Jakarta

Menurut Bhima, meskipun pengeluaran tagihan listrik memang porsinya kecil dari total pengeluaran masyarakat miskin selama sebulan yaitu hanya 1,54% hingga 2,96%. Akan tetapi pengeluaran tersebut bersifat multiplier effect sehingga akan berpengaruh kepada daya beli masyarakat khususnya kalangan bawah.,

"Kenaikan tarif sebesar 30% tiap tiga bulan terbukti melemahkan daya beli," jelasnya

Bahkan menurut Bhima, jika hal itu dibiarkan maka angka kemiskinan akan berpotensi melonjak. Dan target untuk menurunkan angka kemiskinan akan sulit tercapai.

"Dari listrik yang naik, angka kemiskinan dikhawatirkan ikut melonjak. Efeknya target penurunan angka kemiskinan hingga 10,5% di tahun 2017 akan sulit tercapai," tukas Bhima.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini