Ekonomi Lesu, Momentum Pencabutan Subsidi Listrik Dinilai Kurang Pas!

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 10 Juli 2017 09:31 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 10 320 1732373 ekonomi-lesu-momentum-pencabutan-subsidi-listrik-dinilai-kurang-pas-uxrxPDde0v.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Beberapa waktu lalu, pemerintah mencabut subsidi listrik rumah tangga untuk golongan 900 volt ampere (va). Hal tersebut ternyata berdampak kepada 18 juta rumah tangga yang dicabut subsidi listriknya, sehingga beban tagihan terhadap masyarakat tersebut juga ikut meningkat.

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai pencabutan subsidi listrik tidak tepat momentumnya. Karena kondisi ekonomi yang sedang lesu, sehingga pemerintah harusnya memberikan insentif bukannya malah mencabut subsidi.

"Momentumnya yang kurang tepat mas. Ekonomi kondisinya sedang lesu. Seharusnya kebijakan pemerintah sifatnya countercyclical. Jadi ketika ekonomi lesu justru rakyat diberi insentif bukan malah dicabut subsidinya," ujarnya saat dihubungi Okezone di Jakarta.

Bhima menambahkan, jika memang harus dicabut, seharusnya ada data yang valid mengenai siapa saja penerima subsidi yang layak dicabut. Pasalnya pemberian subsidi listrik yang tepat sasaran diperlukan untuk melindungi daya beli.

"Subsidi memang penting untuk melindungi daya beli. Jadi kalau dilakukan pencabutan harus valid datanya. Sekarang 18 juta orang dianggap tdak layak dapet subsidi tapi kenapa ada. Itu tanda kalau ada yang berhak dapet subsidi tapi dicabut haknya karena salah pendataan. Jadi intinya subsidi tepat sasaran harus didukung asal datanya bener dan momentumnya juga harus dilihat," tutupnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini