Hati-Hati, Peredaran Uang Palsu di Jatim Meningkat!

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 13 Juli 2017 11:42 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 13 20 1735212 hati-hati-peredaran-uang-palsu-di-jatim-meningkat-2vkPikKjnD.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

SURABAYA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Jawa Timur (Jatim) selama kuartal I/2017 menemukan sebanyak 7.441 lembar uang palsu (upal) dalam berbagai pecahan.


Jumlah itu naik dibanding kuartal sebelumnya mencapai 7.131 lembar. Upal terbanyak ditemukan di Jember dengan jumlah 2.324 lembar, naik dari kuartal sebelumnya sebanyak 1.672 lembar. Disusul Kediri sebanyak 1.343, naik dari kuartal sebelumnya 1.184 lembar. Sementara penurunan peredaran upal terjadi di wilayah Surabaya dan sekitar dari 3.180 lembar menjadi 2.700 lembar.

Penurunan juga terjadi di Malang dari 1.095 lembar menjadi 1.074 lembar. “Selama ini peredaran uang palsu tertinggi selalu terjadi di daerah Jember dan sekitarnya. Peredaran biasanya dilakukan di pusat-pusat perbelanjaan,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Jatim Difi Ahmad Johansyah di Surabaya.

Peningkatan temuan upal, lanjut dia, mengindikasikan tingkat pemahaman akan ciri-ciri upal semakin tinggi. Pihak aparat penegak hukum juga cukup responsif dengan laporan masyarakat terkait temuan upal. Adapun peredaran upal di Kediri, diperkirakan dipengaruhi kondisi wilayahnya yang berbatasan dengan Jawa Tengah (Jateng). Dengan demikian, peredarannya memungkinkan dari provinsi tersebut.

“Kami terus berupaya melakukan pencegahan peredaran uang palsu, baik dengan cara represif maupun preventif,” katanya. Di sisi lain, KPBI Jatim mendorong agar masyarakat meningkatkan elektronifikasi transaksi atau pembayaran nontunai. Hal ini dilakukan guna menghindari pembayaran dengan upal. Salah satu upaya yang sudah dilakukan adalah penggunaan uang elektronik pada pembayaran tol, seperti tol Surabaya-Gresik serta ruas jalan tol Simpang Susun Waru- Juanda.

Pada akhir 2016, telah dicanangkan pula pembayaran tol nontunai multibank. Hal ini berlaku untuk pembayaran jalan tol Surabaya-Gresik dan Surabaya-Mojokerto. “Untuk ruas jalan tol Surabaya-Gempol akan diimplementasikan semester ini,” imbuh Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi Daerah KPBI Jatim Taufik Saleh.

Taufik menyatakan, pihaknya juga mendukung diresmikannya kawasan nontunai di Pelabuhan Tanjung Perak. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk menyukseskan pelaksanaan e-parking. Dengan banyaknya transaksi nontunai tersebut, lanjut dia, tingkat keamanan dalam bertransaksi semakin terjaga. Selain itu, juga bisa menekan peredaran upal.

Pembayaran nontunai juga akan memudahkan masyarakat dalam bertransaksi. “Kami juga mendorong lembaga-lembaga, baik itu lembaga pemerintah maupun swasta untuk menerapkan transaksi nontunai. Kami juga sosialisasi ke pondok pesantren agar transaksi nontunai bisa diterapkan di lembaga pendidikan keagamaan tersebut,” papar dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini