Image

KATA MEREKA: Utang Jadi Gunung dan Penerimaan Pajak Rendah, Salah Siapa?

Trio Hamdani, Jurnalis · Senin 17 Juli 2017, 08:17 WIB
https img k okeinfo net content 2017 07 16 320 1737567 kata mereka utang jadi gunung dan penerimaan pajak rendah salah siapa FotOpjezdp jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Utang Indonesia hingga kini sudah menyentuh angka Rp3.672,33 triliun, terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2.943,73 triliun (80,2%) dan pinjaman sebesar Rp728,60 triliun (19,8%). Mengingat besarnya utang negara, pemerintah pun menyadari harus lebih cermat sebelum berutang. Apalagi di tengah kondisi global yang tak stabil.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Suahasil Nazara memaparkan risiko yang dapat diterima Indonesia akibat berutang ketika kondisi global sedang tidak cukup stabil.

"Jadi risikonya adalah begini, kalau misalkan kita mengeluarkan utang sekarang, kondisi dunianya lagi volatil, maka kita akan terpapar ke risiko yang lebih tinggi," jelasnya di Jakarta, 11 Juli 2017.

Jika kondisi global sedang tak cukup bersahabat, menurutnya pemerintah perlu melakukan penyesuaian dengan baik melalui pengelolaan manajemen. Sehingga terhindar dari risiko yang ada.

Namun tak disangka, pemerintah kembali mencari pinjaman. Pemerintah kembali menambah utang lewat penerbitan Surat Utang Negara (SUN). Dari lelang lima SUN tersebut, total nominal yang dimenangkan mencapai Rp17 triliun.

Tak sejalan dengan bertambahnya utang negara, penerimaan pajak oleh pemerintah hingga kini belum mencapai hasil memuaskan.

Direktorat Jenderal Pajak mencatat realisasi penerimaan perpajakan non-PPh migas semester I-2017 (hingga dengan 30 Juni 2017) mencapai Rp482,6 triliun atau 37,9% dari target APBN 2017 Rp1.307,6 triliun.

Sementara itu, penerimaan PPh nonmigas tercatat mencapai Rp286,76 triliun, PPN dan PPnBM sebesar Rp191,99 triliun, PBB sebesar Rp737,71 miliar, pajak lainnya sebesar Rp3,17 triliun dan PPh migas sebesar Rp27,58 triliun.

Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) optimistis dapat merealisasikan target penerimaan perpajakan dalam negeri pada satu semester terakhir tahun 2017.

Lantas bagaimana respons masyarakat menanggapi persoalan negara saat ini?

1. Alif Nur Hidayat (23) Freelance

Sebenarnya yang perlu dirombak sistemnya, tapi kalau si pemimpin pajak enggak bisa merombak sistem ya dia yang harus dirombak

Banyak faktor yang menyebabkan penghasilan pemerintah melalui pajak kurang maximal. Masih banyak pengusaha besar yang menutupi kekayaannya dan menyimpan hartanya diluar negeri, bahkan ketika ada tax amnesty pun masih banyak dari mereka yang tidak melaporkan kekayannya dan membayar pajak dengan nominal yang benar. Pemerintah kurang bersikap tegas kepada para pengusaha kelas kakap.

Soal utang Indonesia tentu sangat mengkhawatirkan. Utang yang meningkat dapat mengancam kedaulatan NKRI. Kok bisa? Kita lihat saja, Indonesia berutang ke negara seperti China. Ketika Indonesia berutang ke negara tersebut ada sejumlah deal-deal yang disepakati antara negara kita dengan China. Alhasil sejumlah proyek infrastruktur yang ada saat ini dipegang China, belum lagi kebijakan bebas visa bagi warga mereka, ditambah lagi power mereka untuk menyetir arah kebijakan pemerintah.

Ada dua opsi, yang pertama bubarkan NKRI. Yang kedua berhenti terobsesi dengan proyek-proyek Infrastruktur demi pencitraan yang hanya akan menambah besar utang negara.

2. Diani Desti (23) Karyawan Swasta

Menurut saya kurangnya sistem kinerja di dalam lingkungan kerja di pajak. Mungkin jajarannya perlu diganti, agar adanya perubahan dalam sistem perpajakan.

Ya wajib pajak juga kurang patuh, tentu karena sebagian besar dari mereka mengeluh atas pemikiran mereka, seperti mau di kemanakan uang pajak yang kita bayar jika fasilitan di lingkungan kita kurang memadai penduduk.

Untuk utang negara, ya menurut saya sangat menghawatirkan jika negara mempunyai utang banyak. Bagaimana keadaan rakyat kita yang berada di bawah.

Jika utang negara besar, tolong pergunakan dengan baik pinjaman itu untuk mensejahterakan masyarakat. Karena jika utang itu di pergunakan dengan baik untuk rakyat maka akan ada imbal balik untuk melunasi utang tersebut.

3. Patty Sam Rejeki (23) Karyawan Swasta

Hasil penerimaan pajak oleh pemerintah belum mencapai target menurut saya ya enggak kaget, karena tahu orang Indonesia dan pengusaha-pengusaha yang susah banget buat bayar pajak.

Pemimpin di perpajakan jangan di ganti dulu sih, kita lihat sampe 1 atau 2 tahun lagi gimana peningkataannya.

Bisa jadi pembayar pajak kurang patuh, tapi lebih banyak yang khwatir disalahgunakan, karena melihat aja banyak infrastruktur yang masih terbengkalai.

Kalo melihat utang negara saat ini tidak mengkhawatirkan sih, karena kan sekarang udah banyak ya investasi-investasi bahkan kerjasama-kerjasama pasti dapat berkurang.

Saran saya ya cepet di bayar ya untuk utang perlahan-lahan bayarnya, investasi-investasi dan kerjasama semkin ditingkatkan, pariwisata juga ditingkatkan terus.

4. Adiyatama Heru (21) Mahasiswa

Kalau penerimaan pajak masih rendah menurut saya mungkin pemerintah harus lebih numbuhin kepercayaan masyarakat buat bayar pajak. Pimpinan di Ditjen Pajak menurut saya perlu dikasih kesempatan buat buktiin kemampuannya.

Rendahnya penerimaan pajak kayak yang saya bilang itu, kepercayaan masyarakat masih minim, karena takut uang pajaknya disalahgunain atau dikorupsi.

Masalah utang Indonesia kayaknya dari dulu selalu nambah. Udah ganti presiden enggak pernah berkurang utangnya. Lama-lama khawatir juga sih dibebanin utang sebanyak itu.

Sarannya pemerintah harus mikir dulu sebelum ngutang. Pemerintah kan sekali ngutang enggak mungkin sedikit kan jumlahnya. Jadi harus hati-hati.

5. Yana (24) Freelance

Penerimaan pajak negara kayaknya emang susah buat capai target. Karena masyarakat mungkin mikir manfaat bayar pajak belum begitu kerasa.

Dulu kan pernah ada kasus uang pajak diselewengin ama petugas pajak, makanya sekarang masyarakat udah pada males buat bayar pajak.

Buat persoalan utang negara khawatir juga sih, emang pemerintah kita suka banget ngutang dari dulu sampe sekarang.

Ya mungkin pemerintah banyak ngutang gara-gara penerimaan pajaknya juga rendah jadi buat keperluan pembangunan dan yang lainnya enggak bisa cuma andalin dari uang negara. Jadi mau enggak mau ngutang.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini