Image

TREN BISNIS: Aturan National Payment Gateway hingga Wacana Mobil Listrik

Donald Banjarnahor, Jurnalis · Selasa 18 Juli 2017, 06:36 WIB
https img okeinfo net content 2017 07 17 320 1738472 tren bisnis aturan national payment gateway hingga wacana mobil listrik KdkpTEOhfw jpg Ilustrasi (foto: Okezone.com)

JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia menggandeng Bursa Efek Malaysia Berhad dalam menggodok produk saham syariah yang dapat ditransaksikan di dua bursa tersebut, yang akhirnya bisa meningkatkan likuiditas pasar. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 23 Mei 2017, terdapat 351 saham yang masuk Daftar Efek Syariah (DES) dari 554 saham yang tercatat di BEI. Baca selengkapnya: Gaet Bursa Efek Malaysia, BEI Bikin Proyek Apa?

Sementara itu, Bank Indonesia merilis Peraturan Bank Indonesia (PBI) teranyar tentang pelaksanaan national payment gateway (NPG) atau gerbang pembayaran nasional. Aturan ini dikeluarkan bank sentral untuk mempermudah masyarakat dalam bertransaksi.Baca selengkapnya: BI Keluarkan Aturan NPG, Sistem Pembayaran Jadi Efisien?

Selanjutnya ada informasi dari Menteri  Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yang mewacanakan pengembangan mobil listrik. Dia mengatakan tidak tertutup kemungkinan dalam 10 tahun mendatang, teknologi mobil listrik banyak digunakan di Amerika Serikat menggantikan mobil konvensional yang menggunakan BBM. Serapannya diramalkan Luhut hingga 20%. Baca selengkapnya: Menko Luhut: Kita Harus Punya Pabrik Mobil Listrik!

Terakhir ada berita dari Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) yang menyiapkan strategi untuk mengejar tambahan target Rp20 triliun. Selain pemeriksaan, upaya yang akan dilakukan untuk capai extra effort sebesar Rp20 triliun tersebut adalah menelusuri seluruh KPP untuk melihat siapa saja WP yang belum melaporkan hartanya atau belum mengikuti tax amnesty. Baca selengkapnya: Kejar Rp20 Triliun, Ditjen Pajak Incar 5.000 WP yang Tak Ikut Tax Amnesty

Ketiga berita tersebut, menjadi berita-berita yang banyak menarik minat para pembaca di kanal bisnis Okezone.com. Untuk itu, berita-berita tersebut kembali disajikan secara lengkap.

Gaet Bursa Efek Malaysia, BEI Bikin Proyek Apa?

Gandeng Bursa Efek Malaysia Berhad, PT Bursa Efek Indonesia tengah menyiapkan produk saham syariah yang dapat ditransaksikan di dua bursa tersebut, sehingga bisa meningkatkan likuiditas pasar.

“Tahun ini kami targetkan ada satu produk saham syariah yang akan diluncurkan. Kami sedang kerjakan," ujar Direktur Utama BEI, Tito Sulistio di Jakarta.

Menurut dia, saham-saham yang masuk kategori syariah memiliki kinerja yang positif, bahkan dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan saham-saham konvensional. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 23 Mei 2017, terdapat 351 saham yang masuk Daftar Efek Syariah (DES) dari 554 saham yang tercatat di BEI.

“Kalau bisa Indonesia dan Malaysia menjadi global hub untuk transaksi syariah, itu yang sedang kami bicarakan," katanya.

Sebelumnya, pada 2 Agustus 2016, BEI bersama dengan Bursa Malaysia Berhad telah menandatangani nota kesepahaman kerja sama pembentukan Pusat Pasar Modal Syariah Dunia yang bertujuan menjadi gerbang utama penerbitan efek syariah di pasar global.

"Melalui kerja sama ini, kami berharap BEI dan Bursa Malaysia dapat terus mengembangkan instrumen dan produk pasar modal syariah secara bersama-sama sehingga dapat menjadi acuan di tingkat global," ujar Tito Sulistio.

Sementara Direktur Pengembangan BEI, Nicky Hogan menambahkan, rencananya investor Indonesia bisa membeli saham syariah yang diperdagangkan di Bursa Malaysia, begitu pun sebaliknya.

"Konteksnya kerja sama antardua bursa, saat ini sedang finalisasi dan belum berjalan. Sistem perdagangannya akan menggunakan sistem perdagangan saham syariah seperti yang ada di anggota bursa," katanya.

Dia mengemukakan bahwa perjanjian kerja sama antar-kedua bursa efek itu telah dilakukan pada 2016. Namun, teknis dan mekanismenya masih dalam proses finalisasi yang ditargetkan pada tahun ini akan selesai.

1 / 4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini