Image

Kian Membaik, Ekonomi Indonesia Diprediksi Tembus 5,1% di Kuartal II

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 18 Juli 2017, 10:04 WIB
https img o okeinfo net content 2017 07 18 20 1738707 kian membaik ekonomi indonesia diprediksi tembus 5 1 di kuartal ii nsV1PaupCv jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2017 diproyeksikan mencapai 5,1%. Sejumlah indikator utama memberikan indikasi bahwa pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di kuartal kedua 2017 mungkin akan sedikit lebih baik dibandingkan kuartal pertama.


“Indikatornya antara lain terlihat dari perbaikan di pasar tenaga kerja, tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat pada saat angka pengangguran terus menurun,” kata Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) Adrian Panggabean dalam acara bertajuk ‘Diskusi Media Bersama Chief Economist CIMB Niaga: Meraih Pertumbuhan Ekonomi Nasional’ di Graha CIMB Niaga, Jakarta.

Jadi, lanjut dia, kemampuan ekonomi untuk menyerap tenaga kerja itu ada. “Kalau orang punya kerjaan, dia kan punya gaji, dia punya spending power dan harusnya konsumsi tidak turun,” katanya. Sementara itu, di pasar keuangan, arus masuk modal lebih tinggi dibandingkan 2016 sebagai respons dari valuasi aset yang menarik.

“Ini karena valuasi aset yang menarik dari Indonesia, surat utang yang dijual Indonesia lebih menarik dibanding negara-negara berkembang di kawasan,” ujarnya. Laju pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga perbankan juga terus meningkat. Terlihat, sepanjang tahun, pertumbuhan dana pihak ketiga terus meningkat hampir 10%.

Faktor lainnya yang mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal II yakni persepsi risiko investor asing terhadap Indonesia. “Ini ditunjukkan oleh angka credit default swap yang juga terus menurun dibandingkan dengan awal tahun,” ungkap dia. Menurut Adrian, kondisi ini juga didukung oleh pergerakan rupiah yang stabil di tengah fluktuasi pasar aset global.

Secara year-to-date, rupiah terapresiasi sekira 0,8% dibandingkan tahun lalu. “Pada 14 Juli 2017 rata-rata rupiah sekira Rp13.409, rupiah sudah apresiasi sekira 0,7%-0,8% bahkan pernah mendekati 1%. Mata uang kita, selama tiga tahun berturut- turut sebenarnya sudah terapresiasi terus,” papar dia.

Adapun faktor lain di sektor riil adalah surplus pada neraca perdagangan menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar pada awal tahun. “Ekspor terus tumbuh seiring dengan kenaikan harga komoditas,” sebut dia. Meski menunjukkan perbaikan, dia mengatakan, perekonomian Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan untuk mencapai pertumbuhan sebagaimana yang dicanangkan pemerintah.

Untuk meraihnya, setidaknya dibutuhkan tiga hal yang bisa diupayakan oleh semua pihak. Pertama, dibutuhkan tambahan pembiayaan sebesar 6%-8% dari PDB setiap tahunnya. Dia menuturkan, kebutuhan tersebut di bawah asumsi terjadinya perbaikan dalam efisiensi penggunaan modal. Tambahan pembiayaan sebesar itu bisa diperoleh dari beberapa sumber.

Apalagi, foreign direct investment (FDI) ke Indonesia, yang saat ini hanya berkisar 2% dari PDB, tergolong rendah dibandingkan negara pesaing, sehingga perlu dinaikkan menjadi paling sedikit 5% dari PDB. “Tax ratio yang saat ini hanya berkisar 11% dari PDB pun perlu dinaikkan menjadi paling tidak ke kisaran 15% dari PDB,” tuturnya. Pasar modal dan mobilisasi tabungan masyarakat adalah sumber berikutnya.

Tingkat kedalaman finansial (financial depth) di pasar modal dan sangat rendahnya penetrasi lembaga keuangan, harus segera ditingkatkan sehingga mobilisasi modal dan akumulasi tabungan nasional dapat dicapai secara lebih efektif.

Kedua, lanjut dia, dibutuhkan bid-institutions yang berperan sebagai jembatan antara tabungan nasional dengan investasi yang mampu berperan efektif dan sebagai pelengkap lembaga-lembaga asuransi sosial yang ada saat ini, seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan). Lalu ketiga, dibutuhkan fondasi hukum yang jauh lebih kukuh. “Maksud di sini adalah tingkat kepastian, penegakan, dan ketegasan hukum yang seharusnya sudah setara dengan negara-negara maju,” ungkap Adrian.

Fondasi hukum, menurutnya, prasyarat terpenting untuk bisa menciptakan regulasi yang berimbang, dinamis, serta hadirnya tata kelola yang baik (good governance) sehingga kepastian investasi dan usaha terjamin. Dengan demikian, sambung dia, mobilisasi pembiayaan bisa berjalan efektif dan akselerasi pertumbuhan ekonomi ke arah tren membaik bisa tercapai.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Hartati menuturkan, hingga kuartal II/2017 diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2017 terancam stagnan di level 5% atau sama dengan tahun lalu. Menurut dia, Ramadan dan Lebaran juga belum mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Ada dua indikator yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, yaitu konsumsi rumah tangga dan investasi dari swasta yang diperkirakan masih akan tetap stagnan seperti tahun lalu. “Konsumsi rumah tangga dipengaruhi retail, memang tumbuh 6% karena ada Ramadan dan Idul Fitri, untuk penjualan pangan ada kenaikan dibanding bulan sebelumnya, tapi dibanding Lebaran 2016, konsumsi rumah tangga hampir sama,” kata Enny.

Untuk investasi dari swasta dipengaruhi oleh pembiayaan dan penyaluran kredit. Hingga kuartal II/2017 pertumbuhan penyaluran kredit diproyeksikan berada di angka 7% atau masih stagnan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Melihat kedua hal tersebut, agak pesimis pertumbuhan ekonomi bisa lebih dari 5%, walau ada Ramadan dan Lebaran di kuartal II,” tukas dia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini