Image

Biang Kerok Kemacetan, Proyek di Tol Cikampek Harus Dipercepat

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 18 Juli 2017, 10:15 WIB
https img okeinfo net content 2017 07 18 320 1738715 biang kerok kemacetan proyek di tol cikampek harus dipercepat VrHUcLyeh2 jpg Foto: Koran SINDO

JAKARTA – Empat proyek besar yang dikerjakan bersamaan di ruas tol Jakarta-Cikampek membuat kemacetan akan berlarut-larut.

Sejumlah pengusaha mendesak pemerintah bisa mempercepat penyelesaian megaproyek tersebut sebelum 2019 agar mereka tidak menanggung kerugian yang lebih banyak. Para pengusaha memahami bahwa pengerjaan sejumlah proyek di ruas tol terpadat di Indonesia tersebut bagian untuk melancarkan distribusi barang maupun jasa ke depan.

Namun, mereka mendorong agar dampak negatif selama pengerjaan proyek ini bisa diminimalisasi. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan setiap kemacetan bisa berdampak dua hal bagi pelaku retail.

Pertama, terhambatnya distribusi barang dari pemasok ke pusat distribusi. Kedua, terhambat atau batalnya konsumen untuk datang berbelanja ke toko retail lantaran menghindari macet.

“Karena itu, kami berharap pemerintah cepat menyelesaikan karena makin cepat makin baik untuk industri dan semua sektor,” ujarnya kemarin menanggapi proyek tol layang (elevated) di ruas Jakarta-Cikampek yang memicu kemacetan parah akhir-akhir ini. Selain jalan tol layang, di ruas ini juga dikerjakan proyek light rail transit (LRT), kereta cepat Jakarta-Bandung, dan tol Cibitung-Cilincing.

Lalu lintas di ruas tol Jakarta-Cikampek cukup tinggi. Pada hari biasa, jumlah kendaraan yang melintas mencapai 80.000 unit, sedangkan akhir pekan mencapai 100.000 unit. Lalu, arus mudik dan balik Lebaran bisa mencapai 120.000 unit kendaraan. Menurut Roy, penanggulangan kemacetan antara lain dengan mengatur arus lalu lintas, menambah jalan, dan mengatur jam operasional kendaraan. Pada tataran ini harus ada keterlibatan pemerintah daerah.

Tak Harus Bersamaan


Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Logistik Rico Rustambi menilai pemerintah tidak membuat perencanaan secara matang atas proyek di tol Cikampek. “Dengan adanya tambahan pembangunan infrastruktur besar yang bersamaan, jelas menambah macet. Menambah macet, bagi pengusaha berarti menambah cost,” ujarnya. Kadin memandang pembangunan infrastruktur yang dilakukan bersamaan dan serentak memiliki dampak yang besar terhadap pengguna tol.

Menurutnya, pemerintah harus berhitung terkait perencanaan pembangunan yang lebih matang dan dampaknya terhadap masyarakat luas. Menurutnya, kalangan usaha sektor logistik tidak anti terhadap pembangunan infrastruktur. Namun, pemerintah seharusnya mampu mengantisipasi potensi-potensi kerugian yang dialami sektor usaha angkutan logistik. Hal yang sama diungkapkan Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Kyatmaja Lookman.

Dia mengatakan kemacetan yang terjadi di jalan tol, terutama jalan tol Cikampek, kian parah. Akibatnya pengusaha logistik yang menggunakan angkutan truk kehilangan utilisasi. “Pengemudi juga kasihan bekerja lebih lama. Otomatis tambah cost,” ungkapnya. Menurutnya, pemerintah seharusnya menyelesaikan infrastruktur pendukung sebelum beralih ke infrastruktur lain.

“Misalnya ada pembangunan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu yang harusnya diselesaikan dulu, karena jalur itu adalah jalur menuju Bekasi tanpa harus melalui tol arah Bandung,” jelasnya. Dia mengkhawatirkan banyak pengusaha truk yang gagal bayar leasing karena pengiriman menjadi terlambat ke daerah-daerah tujuan yang melintasi jalur tol. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariadi Sukamdani mengatakan aktivitas pembangunan infrastruktur di jalur tol Jakarta-Cikampek sudah pasti berpengaruh terhadap dunia usaha, termasuk juga industri-industri di sekitar Cibitung dan Cikarang.

Namun, Hariadi memahami kondisi tersebut harus diterima sementara ini demi perbaikan infrastruktur ke depannya. “Memang merepotkan. Tapi kalau tidak dibangun juga, menunda masalah saja kan,” ujarnya. Dengan kondisi kemacetan yang diproyeksikan akan meningkat, Hariadi berharap semua pihak saling mengerti dan membantu, bukannya mempersulit.

Untuk menghindari kemacetan lebih lanjut, selain jalan alternatif, juga diperlukan pengaturan waktu atau jadwal pengangkut an dan pengiriman barang. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Herry Trisaputra Zuna mengatakan, pihaknya telah melakukan langkah antisipasi kemacetan di jalur tol Jakarta-Cikampek.

Solusi tersebut, ungkap Herry, dengan memanfaatkan contra-flow, memberikan informasi kepadatan jalan tol sedini mungkin serta memanfaatkan jalur alternatif dan jalur kawasan. Solusi-solusi tersebut diakui belum mampu mengatasi kemacetan yang ada. Karena itu, dibutuhkan solusi yang komprehensif dengan melibatkan semua stakeholder yang ada.

PT Jasa Marga (persero) menyatakan contra-flow sulit dilakukan dalam kondisi saat ini. “Kami tidak bisa berlakukan rekayasa lalu lintas seperti contra-flow, karena jalur dari arah Jakarta dan Cikampek juga dalam kondisi ramai,” ujar Kepala Humas Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek Handoyono.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini