3 Bully Paling Menyakiti Uang Rupiah Baru: Dari Palu Arit hingga Mirip Yuan

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Rabu 19 Juli 2017 17:51 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 19 20 1740052 3-bully-paling-menyakiti-uang-rupiah-baru-dari-palu-arit-hingga-mirip-yuan-MfsMbN2UfY.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Mata uang Rupiah tahun emisi 2016 kembali jadi pembicaraan, bahkan menjadi viral hingga di-bully di media sosial. Padahal, uang Rupiah baru ini belum genap setahun beredar di Republik ini.

Kali ini, banyak pihak mempertanyakan kenapa uang Rupiah baru ada frasa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Tanda Tangan Menteri Keuangan. Selain itu, Rupiah baru TE 2016 tersebut diklaim sulit ditukarkan di luar negeri.

Perlu diingat, pembicaraan soal Rupiah baru ini pernah langsung dipermasalahkan ketika pertama kali diluncurkan pada akhir 2016. Bahkan, Rupiah baru ini melibatkan FPI hingga pihak Kepolisian RI. Tercatat, ada empat informasi tidak benar terkait dengan uang rupiah tahun edar 2016 yang beredar di masyarakat saat ini.

Informasi itu yakni adanya gambar palu arit di uang kertas, warna uang kertas yang mirip mata uang China yakni Yuan, pemilihan gambar pahlawan nasional non-Muslim dan pencetakan uang dilakukan di perusahaan swasta yaitu PT Pura Barutama.

Padahal, kita sebagai WNI membutuhkan mata uang Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah seperti diatur dalam Undang-Undang nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang.

Okezone.com coba merangkum masalah yang dihadapi uang Rupiah baru untuk berdiri tegak di Tanah Air. Berikut ulasannya:

Soal Palu Arit, Pemerintah Berikan Penjelasan di Sosmed

Pemerintah kembali meluruskan soal isu palu arit yang terdapat pada uang rupiah Tahun Emisi 2016. Penjelasan kali ini dilakukan melalui Twitter milik Sekretariat Kabinet.

Lewat akun @setkabgoid, dijelaskan bahwa yang terdapat di uang rupiah adalah logo BI. Namun dicetak menggunakan teknik rectoverso sebagai salah satu unsur pengaman uang rupiah.

Dengan adanya unsur pengaman tersebut, uang kertas bisa terlindungi dari praktik pemalsuan. Hal tersebut dijelaskan dalam video milik Bank Indonesia berdurasi satu menit.

Pada video tersebut, Bank Indonesia menjelaskan, bagaimana proses logo BI dicetak dalam teknik rectoverso di setiap uang kertas. Rectoverso sendiri terdapat pada uang kertas pecahan Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, dan Rp1.000.

Sekadar mengingatkan saja, pasca-diluncurkan Bank Indonesia, uang rupiah tahun emisi 2016 menuai banyak komentar. Sayangnya, komentar bernada negatif lebih banyak beredar di sejumlah media sosial.

Rupiah dituduh mirip Yuan, mengandung lambang palu arit yang melekat dengan Partai Komunis hingga rupiah dicetak oleh perusahaan swasta milik Taipan.

Namun, keseluruhan isu tersebut telah diluruskan oleh pemerintah. Terutama logo palu arit yang sebenarnya adalah logo BI dengan teknik rectoverso sebagai salah satu unsur pengaman.

Uang Rupiah Baru Mirip Yuan, Begini Pembelaan Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) secara resmi meluncurkan dan mengedarkan uang rupiah tahun emisi 2016. Sayangnya peluncuran ini dinodai nada negatif yang muncul di media sosial.

Netizen menilai uang Rupiah yang baru saja diterbitkan ini sangat mirip dengan mata uang Negeri Tirai Bambu, China.

Menanggapi komentar netizen, Bank Indonesia (BI) menjelaskan, sejatinya bank sentral di suatu negara menggunakan warna sebagai pembeda masing-masing pecahan mata uang.

Dalam menentukan warna-warna tersebut, ada semacam aturan skema warna yang digunakan oleh seluruh bank sentral dunia. Aturan tersebut menunjukkan gradasi warna dan ini digunakan untuk membedakan setiap pecahan.

"Kita tidak berniat memirip-miripkan karena masing-masing negara punya karakteristik, kebanggaan tersendiri, kebudayaannya, seperti diketahui kita menonjolkan kepahlawanan dan tempat pariwisata," papar Deputi Direktur Departemen Pengelolaan Uang Yudi Hary Mukti di Gedung BI, Jakarta, Rabu, (21/12/2016).

Namun jika diteliti mata uang rupiah dibandingkan mata uang yuan atau euro tetap berbeda. Terlebih ada gambar-gambar pahlawan yang membedakan mata uang satu dan lainnya.

"Karena pahlawan berbeda-beda, toh warnanya juga," tukasnya.

Viral Rupiah Baru Di-Bully di Medsos, Ini Penjelasan BI

Berdasarkan Undang-Undang nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang, Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan dan mengedarkan rupiah tahun emisi terbaru yang sesuai ciri-cirinya dengan ketentuan yang diamanatkan Undang-undang. Mengapa harus ada frasa ‘Negara Kesatuan Republik Indonesia’ dan Tanda Tangan Menteri Keuangan?

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menjelaskan, peluncuran dan pengedaran uang Rupiah tahun emisi 2016 harus memenuhi syarat dan merupakan pemenuhan mandat Undang-undang nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang. Undang-undang tersebut antara lain mengatur mengenai syarat-syarat dan ciri uang Rupiah.

“Beberapa ciri umum uang Rupiah kertas adalah adanya gambar lambang negara Garuda Pancasila, frasa Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta tanda tangan pihak Pemerintah dan Bank Indonesia. Selain itu, Uang Rupiah juga memiliki ciri khusus sebagai pengaman uang, serta memuat gambar pahlawan nasional dan atau presiden sebagai gambar utama pada bagian depan,” ungkap Mirza dalam penjelasannya seperti dikutip, Rabu (19/7/2017).

Lalu mengapa Menteri Keuangan RI turut membubuhkan tanda tangan pada Uang Rupiah TE 2016, Bersama Gubernur Bank Indonesia?

Mirza menegaskan, hal tersebut juga sesuai amanat UU No.7 Tahun 2011, uang Rupiah harus memuat tanda tangan pihak pemerintah dan Bank Indonesia.

“Dalam hal ini, Menteri Keuangan bertindak sebagai perwakilan Pemerintah. Pencantuman tanda tangan Menteri Keuangan tersebut adalah yang kedua kalinya, setelah pertama kali dilakukan pada Uang Rupiah Pecahan Rp100.000 tahun 2014,” katanya.

Uang Rupiah Desain Baru Tahun Emisi (TE) 2016 telah diluncurkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo pada Desember 2016. Bank Indonesia meluncurkan 11 pecahan Uang Rupiah Tahun Emisi (TE) 2016. Pecahan uang yang dikeluarkan, yaitu: 7 (tujuh) pecahan uang kertas, Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, Rp1.000, serta 4 (empat) pecahan uang logam Rp1.000, Rp500, Rp200, dan Rp100.

Sebagai informasi, beberapa ciri uang kertas Rupiah yang diatur dalam Pasal 5 Ayat 1 UU tentang Mata Uang antara lain gambar lambang negara ‘Garuda Pancasila’, frasa ‘Negara Kesatuan Republik Indonesia’, sebutan pecahan dalam angka dan huruf sebagai nilai nominalnya, serta tanda tangan pihak pemerintah dan Bank Indonesia.

Anggota DPR Komisi XI dari Fraksi Gerindra Sadar Subagyo mengatakan, UU Mata Uang merupakan acuan baru bagi bank sentral dalam mengelola rupiah. Hal tersebut telah dibahas dan disetujui DPR pada 2011.

"Memang betul rupiah lambang negara dan tidak boleh diragukan kredibilitasnya, kalau ada orang yang mempertanyakan, ya berarti dia tidak paham akan prosesnya, pembentukan UU mengenai mata uangnya seperti apa. Di banyak negara juga seperti itu, dan ada yang gubernur bank sentralnya saja yang tanda tangan, kan tergantung kesepakatan saja," kata dia.

Untuk diketahui lebih jauh, Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah serta mencabut, menarik, dan memusnahkan uang dari peredaran.

Dalam pelaksanaan mengeluarkan dan mengedarkan uang, Bank Indonesia senantiasa berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat baik dalam nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu, dan dalam kondisi yang layak edar (clean money policy).

Untuk mewujudkan clean money policy tersebut, pengelolaan pengedaran uang yang dilakukan oleh Bank Indonesia dilakukan mulai dari pengeluaran uang, pengedaran uang, pencabutan, dan penarikan uang sampai dengan pemusnahan uang.

Berdasarkan berita yang beredar, rupiah baru TE 2016 tersebut diklaim sulit ditukarkan di luar negeri. Mirza Adityaswara pun angkat bicara soal hal tersebut. Ia menerangkan, sebagai salah satu simbol kedaulatan negara, Rupiah wajib digunakan dalam setiap transaksi di dalam wilayah NKRI.

“Bank Indonesia tidak memiliki wewenang untuk mengatur mengenai penggunaan Rupiah di luar wilayah NKRI. Namun demikian, BI akan terus berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait dalam sosialisasi uang Rupiah TE 2016 hingga ke luar wilayah NKRI,” tutup Mirza.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini