nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Krisis Qatar, Sejauh Mana Dampaknya ke Perekonomian RI?

ant, Jurnalis · Rabu 19 Juli 2017 17:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 07 19 320 1740004 krisis-qatar-sejauh-mana-dampaknya-ke-perekonomian-ri-1WKNs0nFEb.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Berlarut-larutnya krisis politik di antara negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) di Timur Tengah akibat Arab Saudi dan sekutunya memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, dikhawatirkan akan berdampak ke negara-negara lain. Tidak terkecuali Indonesia yang memiliki hubungan erat dengan semua negara di Timur Tengah yang sedang berkonflik tersebut.

Bagaimana pengaruh krisis politik Qatar terhadap Indonesia? Chairman Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development (CISFED), Farouk Abdullah Alwyni mengatakan, posisi Indonesia dilematis dalam menghadapi krisis diplomatik terkait pengucilan Qatar oleh sejumlah negara Arab.

“Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki hubungan baik dan potensi kerja sama investasi serta perdagangan dengan seluruh negara-negara Muslim di kawasan Teluk, baik Qatar maupun Arab Saudi,” katanya di Jakarta, Rabu (19/7/2017).

Di Indonesia, Qatar memiliki sejumlah investasi seperti di bidang keuangan perbankan melalui Qatar National Bank (QNB). Di sektor komunikasi, investasi Qatar lewat kepemilikan saham di Indosat Ooredoo. Selain itu, lembaga sosial di Qatar juga aktif mengucurkan dana bantuan ke Indonesia, termasuk untuk bencana Tsunami di Aceh pada 2004. Dana bantuan dari lembaga sosial di Qatar disalurkan melalui Qatar Charity sejak 2005.

Sejatinya, Qatar juga menjadi salah satu negara tujuan bagi buruh migran Indonesia, terutama yang bekerja di sektor domestik, konstruksi, pertambangan, dan jasa. Berdasarkan data KBRI Doha, ada sekira 30.000 WNI di Qatar dengan sebaran sekira 9.600 domestik, sekira 13.500 lebih profesional, semi-skill, dan keluarga, sedangkan sisanya lain-lain (tidak mencantumkan pekerjaan). Data Migrant Care menyebutkan terdapat 75.000 orang buruh migran asal Indonesia di Qatar.

Dia menjelaskan, selama ini hubungan Indonesia dengan Qatar berjalan baik. Jika dibandingkan dengan negara Timur Tengah lainnya, investasi Qatar di Indonesia terbilang besar. Data Kementerian Perindustrian menyebutkan perdagangan Indonesia dan Qatar meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 3,8% per tahun. Pada 2011, nilai perdagangan kedua negara mencapai USD683 juta dan hingga September 2016 meningkat menjadi USD828 juta. Ekspor produk Indonesia ke Qatar di antaranya kayu, furnitur, automotif, dan tekstil.

Dengan kondisi demikian, dampak krisis politik di Qatar sedikit banyak berpengaruh terhadap Indonesia, meski untuk saat ini belum begitu signifikan. Perlu dicatat, Qatar memiliki komitmen investasi baru bersama Pemerintah RI senilai USD1 miliar di Indonesia lewat Qatar Investment Authority.

Baca juga: Gubernur Bank Sentral Qatar: Kita Punya Cadangan Devisa Lebih dari USD300 Miliar!

Untuk itu, pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis dalam menyikapi krisis Qatar. Chairman CISFED tersebut mengapresiasi kebijakan politik luar negeri pemerintah Indonesia yang menyatakan netral. Sikap ini sudah tepat karena posisi Indonesia yang bersahabat dengan semua negara Islam di Teluk. Bahkan, Indonesia harus berperan aktif dalam mendorong penyelesaian krisis Qatar agar segera berakhir.

Menurutnya, pemerintah harus mengantisipasi berbagai kemungkinan akibat krisis Qatar terutama menyangkut kepentingan tenaga kerja migran, keberlangsungan perdagangan, dan investasi yang sudah berlangsung. Di samping itu, dengan mempertimbangkan Qatar sebagai negara kaya sumber daya minyak dan gas, dan merupakan negara terkaya di dunia, dengan berperan aktif dalam penyelesaian krisis Qatar, secara langsung dan tidak langsung, Indonesia sebenarnya dapat membuka peluang menarik investasi yang lebih besar lagi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini