Share

Ramayana: E-Commerce Bukan Biang Keladi Anjloknya Penjualan Retail

Ulfa Arieza, Okezone · Rabu 09 Agustus 2017 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 09 278 1752810 ramayana-e-commerce-bukan-biang-keladi-anjloknya-penjualan-retail-h6kNyfHUVk.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Menjamurnya e-commerce bukanlah biang keladi penurunan penjualan sektor retail. Tergerusnya penjualan retail lebih disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat.

Direktur PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) Suryanto mengungkapkan bahwa tren ini berlangsung sejak tiga tahun terakhir. Lesunya daya beli masyarakat, menurut Suryanto, merupakan imbas dari perlambatan pertumbuhan ekonomi.

"Kami lebih percaya terjadi perlambatan ekonomi, ini bukan karena persaingan dengan e-commerce," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (9/8/2017).

Baca Juga:

Simak! Cerita Kepala Bappenas soal Pengusaha Retail yang Remehkan Bisnis Online di RI

Oleh karena itu, angka penjualan Ramayana tahun 2015 turun 0,2% dari 2014. Memasuki 2016, Ramayana melakukan transformasi toko atau gerai. Sehingga, meskipun ada perlambatan ekonomi, Ramayana masih membuka pertumbuhan 5,7%, serta menaikan laba bersih menjadi Rp408 miliar.

Memasuki kuartal I 2017, same-store sales growth (SSSG) emiten dengan kode RALS ini masih minus 0,2%. Namun, angka SSSG semakin membaik. Pada April SSSG tercatat naik 3,1%, lalu menjadi 4,1% pada bulan Mei, ditopang dari peningkatan penjualan selama periode lebaran sebesar 14,5%.

"Naiknya penjualan di semester pertama ini tidak lepas dari lebaran di Bulan Juni itu. Karena tahun lalu lebaran di bulan Juni tahun ini di akhir bulan Juli. Nah, pertumbuhan daya beli ini tidak terlepas dari perlambatan ekonomi," terang dia.

Jelang semester II ini, Suryanto mengatakan bahwa masih ada optimisme dalam perekonomian Indonesia. Sehingga, dia meyakini bisnis retail tidak tergerus ke bawah lagi.

Optimisme ini ditopang oleh belanja pemerintah yang semakin meningkat khususnya di infrastruktur, sehingga menyerap tenaga kerja.

Selain itu, kata dia, optimisme perekonomian ini juga didorong oleh tingkat inflasi yang masih terkendali. Pertumbuhan eksport dikatakan Suryanto, juga lebih tinggi seiring perbaikan harga komoditas di pasar global serta kondisi politik yang membaik.

Kendati demikian, dia lebih memilih untuk mengambil langkah aman, dengan mematok pertumbuhan datar. Targetnya, tidak jauh berbeda dengan perolehan Ramayana tahun sebelumnya.

"Kami untuk tahun ini flat saja artinya tahun lalu Rp8,2 triliun, tahun ini Rp8,2 - Rp9 triliun," tutup dia.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini