Share

Menteri Bambang: Internet Lebih Penting Dibandingkan Masyarakat Punya Rekening Bank

Feby Novalius, Okezone · Rabu 09 Agustus 2017 19:06 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 09 320 1752873 menteri-bambang-internet-lebih-penting-dibandingkan-masyarakat-punya-rekening-bank-MTujktjXRU.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Era digitalisasi sekarang sudah memasuki seluruh sendi kehidupan masyarakat. Bahkan sudah menjadi suatu kebutuhan hidup sekarang ini.

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, di era digitalisasi ini penetrasi penggunaan internet di daerah lebih mudah ketimbang penetrasi keuangan.

Dari data Kementerian Komunikasi dan Informatika yang mengutip data Asosiasi Penyelenggara jasa Internet, penetrasi internet sepanjang 2016 sudah menjangkau 51,8% penduduk Indonesia.

"Jumlah ini kalau tidak salah lebih tinggi daripada penetrasi perbankan. Jadi internet sekarang lebih penting daripada masyarakat punya rekening bank," ujarnya di kantor BI, Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Baca Juga:

Ikat Perjanjian Hukum, BI Jamin Kerahasiaan Informasi Big Data

Revolusi Digital, BI Ingin Ciptakan Big Data yang Lengkap dan Cepat

Memang dari data tersebut, lanjut Bambang, pengguna internet 65% angkanya masih berada di Pulau Jawa. Tapi penetrasi ini menunjukan bahwa Indonesia memiliki potensi besar yang bisa dimanfaatkan dalam era digitalisasi ini.

"Sekarang kita bisa melihat perilaku pengguna internet ini dari segi usia 53,6% itu 25-44 tahun. Ini bagian bonus dari demografi Indonesia bahwa penduduk usia produktif kita," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, besarnya potensi era digital ini belum mampu dimanfaatkan dengan optimal pemerintah. BI mencatat ada sejumlah masalah yang mengakibatkan potensi era digitalisasi belum termanfaatkan, seperti rendahnya penetrasi internet di Indonesia.

"Indonesia dalam memanfaatkan era digital belum optimal karena penetrasi internet kita tergolong masih rendah yaitu 51% di 2016. Angka ini masih relatif jauh di bawah negara tetangga kita seperti Malaysia 71%, Thailand 67 %. Sebagai pembandingan angka penetrasi internet di negara maju seperti Inggris dan Jepang sudah di atas 90%," ujarnya.

Agus melanjutkan, persoalan lain yang belum teroptimalkan di era digitalisasi adalah kualitas layanan internet yang relatif masih rendah dari negara lain. Internet per pengguna dan kecepatan rata-rata koneksi menempati peringkat 18 dari 20 negara di bawah Thailand dan Malaysia yang menduduki peringkat 11 dan 15.

Selain itu, cakupan layanan 4G Indonesia baru mencakup 23% daerah Indonesia. Faktor lainnya masih kecilnya pengeluaran investasi di bidang teknologi dan informasi yang juga relatif tertinggal dibandingkan negara lain.

"Kalau kita masyarakat ke revolusi digital kita tidak boleh spending teknologi informasi itu tidak memadai, tapi kita juga harus yakin bahwa biaya yang dikeluarkan efektif. Tapi pesan kami ingin sampaikan bahwa kita perlu mengeluarkan biaya informasi dan teknologi yang memadai," ujarnya.

Agus mengakui bahwa investasi teknologi memang masih rendah kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi bila dibandingkan manufaktur dan pertambangan. Namun jika dilihat investasi Indonesia sekarang cukup tinggi tercatat di sektor tersier seperti e-commerce dan finansial teknologi pada 2016. Dengan nilai investasi sekira USD1,7 miliar.

Menurut dia, apabila hambatan-hambatan dalam teknologi informasi digital dapat diatasi maka diperkirakan digitalisasi ekonomi mampu memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar dari capaian 2016 yaitu USD1,7 miliar.

"Kita proyeksikan sebesar USD150 miliar bisa diberikan sektor digitalisasi terhadap PDB indonesia di 2025.

Jadi sekira 10% dari pada PDB di 2025. Yang dibarengi peningkatan penyerapan tenaga kerja mencapai hampir 4 juta orang," tukasnya.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini