Image

Selain Usia, Inilah Faktor Kunci agar Pengajuan KPR Bisa Lolos

Agregasi Minggu 13 Agustus 2017, 22:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 08 11 320 1754295 selain-usia-inilah-faktor-kunci-agar-pengajuan-kpr-bisa-lolos-byVcDGii3O.jpg Ilustrasi (shutterstock)

SUDAH jadi solusi terpopuler kiranya mengambil Kredit Pemilikan Rumah atau KPR agar bisa memiliki rumah. Maklum saja, mengumpulkan dana sebanyak ratusan juta rupiah bukanlah perkara mudah. Kalaupun memilih opsi mengumpulkan dana supaya bisa beli rumah secara cash, mau tak mau mesti menghitung ulang apa saja kebutuhan atau pengeluaran yang harus dieliminasi.

Belum lagi mempertimbangkan lamanya mengumpulkan. Ingat, harga rumah juga mengikuti inflasi. Jadi, tiap tahun pasti naik. Dan kenaikannya lebih besar dari kenaikan rata-rata UMR, yaitu 10% per tahun. Tentunya tidak mau kan? Sudah susah payah mengumpulkan dana, tapi malah kurang.

Satu lagi yang perlu diingat, usia saat mengajukan KPR. Bank enggan meloloskan KPR ketika yang mengajukan berusia lebih dari 40 tahun. Logisnya, bagaimana mungkin nasabah yang berusia 42 tahun melunasi KPR dengan tenor 30 tahun jika pada umur 65 tahun, ia sudah pensiun? Karena itu, mumpung masih dalam usia produktif, terutama 20-an, segeralah ambil KPR.

Selain usia, masih ada faktor kunci lain yang menentukan sukses atau gagalnya pengajuan KPR. Apa saja itu? Berikut ini ulasannya.

1. Punya Penghasilan di Atas UMR Setidaknya Lebih Menjamin

Kenapa bisa demikian? Katakanlah rumah yang ingin dimiliki berada di kawasan Jabodetabek yang paling murah sekitar Rp480 juta dengan tipe 38/72. Bank akan memberikan plafon kredit sekitar Rp384 juta atas KPR yang diajukan dengan tenor 25 tahun.

Dihitung-hitung dengan kalkulator KPR, tiap bulannya, KPR yang harus dibayar sebesar Rp3.192.100. Jika penghasilan yang dimiliki Rp13.400.000 per bulan atau 4 x UMR sekarang (Rp3.350.000), peluang Anda sangat besar untuk mendapatkan KPR.

Jika hal yang satu ini dirasa-rasa berat untuk dipenuhi, bagi Anda yang sudah menikah, bisa memenuhinya dengan menggabungkan penghasilan Anda dengan penghasilan istri/suami. Mengambil rumah subsidi bisa juga dijadikan solusi untuk memecahkan persoalan penghasilan ini.

2. Ingat, Rasio Kredit yang Diperbolehkan Hanya 30% 

Sebagai pemberi pinjaman, bank selalu berhati-hati atas setiap pengajuan kredit dari masyarakat. Ada batas aman yang jadi ketetapan bank untuk yang mau mengajukan kredit yang disebut rasio kredit. Setidaknya, sekitar 30% dari penghasilan adalah batas aman dari rasio kredit yang mesti dipenuhi jika ingin pengajuan kreditnya lolos.

Inilah kenapa dengan penghasilan di atas UMR akan lebih memungkinkan untuk mendapatkan kredit, khususnya KPR. Dengan penghasilan yang disebutkan di atas Rp13.400.000, Anda dimungkinkan untuk membayar cicilan sebesar Rp3.192.100 untuk rumah seharga Rp480 juta.

Baca juga:
Jangan Tergoda Promo Murah, Inilah Cara Jitu Memilih Agen Perjalanan untuk Liburan Anda
Mau Bisnis Kafe Sukses? Siapkan 7 Hal Ini Terlebih Dahulu

Baca juga:

Jangan Tergoda Promo Murah, Inilah Cara Jitu Memilih Agen Perjalanan untuk Liburan Anda

Mau Bisnis Kafe Sukses? Siapkan 7 Hal Ini Terlebih Dahulu

3. Persiapkan DP Rumah yang Besar

Benar adanya kalau memberikan DP yang besar, kredit yang dibayarkan jadi murah. DP yang besar juga bisa membantu dalam memuluskan permintaan KPR. Sebab plafon kredit yang diminta ke bank tidaklah sebesar jika membayar DP sesuai ketentuan.

Misalnya, Anda membayar DP untuk rumah seharga Rp480 juta sebesar Rp120 juta. Dihitung-hitung di kalkulator KPR maka kredit yang ingin Anda pinjam di bank sebesar Rp360 juta. Ini artinya Anda membayar cicilan per bulan seandainya tenornya 25 tahun hanya Rp2.992.600. Berbeda jika Anda membayar DP sebesar Rp96 juta. Anda akan dibebankan cicilan sebesar Rp3.192.100.

Memang DP yang dipersiapkan supaya terjamin lolos tampaknya besar. Namun, bukanlah hal yang mustahil untuk mempersiapkannya. Lebih mudah dilakukan apabila Anda telah menikah. Bersama istri/suami, cukup menyisihkan Rp5.000.000 dari penghasilan Anda ditambah Rp5.000.000 dari penghasilan istri/suami maka dana untuk DP rumah Rp120 juta dapat terkumpul dalam waktu satu tahun.

Di samping itu, Anda bisa mencari penghasilan tambahan. Jadi, tak melulu mengandalkan penghasilan bulanan dari pekerjaan tetap.

4. BI Checking Masuk Kategori Aman

Jangan sampai poin-poin yang disebutkan di atas telah terpenuhi, tapi gagal mendapatkan KPR karena BI Checking negatif. Mengapa bisa begitu? Dari BI Checking, riwayat kredit Anda dapat dilacak dan diketahui. Apabila statusnya buruk, buanglah harapan Anda untuk mendapatkan KPR. Lalu, apa yang menyebabkan status BI Checking buruk?

BI Checking dinilai buruk tergantung sejauh mana kolektibilitas atau kelancaran pembayaran cicilan, lancarkah atau macetkah? Melalui penelusuran riwayat kredit di BI Checking, Bank Indonesia (BI) akan memberikan penilaian atas status kredit Anda.

Antara Skor 1 hingga 5, status kredit Anda dinilai baik kalau diberi skor 1. Sementara bila diberika skor 5, itu artinya status kredit Anda buruk. Mungkin karena menunggak alias macet. Jadi, jangan lupa untuk mengecek BI Checking sebelum mengajukan KPR. Kalau kondisinya kurang baik, Anda bisa memperbaiki BI Checking kok.

5. Bank yang Selalu Punya Solusi Memudahkan Proses Pengajuan

Hampir semua bank menyediakan KPR, tapi apakah hampir semuanya sama dalam memberikan layanan? Nyatanya, tidak banyak bank yang baik dalam urusan layanan. Apalagi kalau saat mengurus keperluan pengajuan KPR, orang-orang bank terkesan acuh tak acuh. Kecewa, ya pasti walaupun sedikit.

Tenang, masih ada bank yang sudah dikenal OK dan dapat review positif banyak orang. Biasanya, bank yang satu ini orang-orangnya sudah dikenal baik developer. Seandainya ada sedikit kendala selama proses pengajuan KPR, bank ini siap membantu dan memberikan solusi. Banyak-banyak cari tahu entah itu lewat obrolan, postingan, atau forum mengenai bank-bank yang masuk kategori ini.

(dnb)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini