Image

KATA MEREKA: Nyonya Meneer Bisa Bangkit Lagi, asal...

Trio Hamdani, Jurnalis · Minggu 13 Agustus 2017, 08:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 08 12 320 1754836 kata-mereka-nyonya-meneer-bisa-bangkit-lagi-asal-n2IEOUmyHT.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Nyonya Meneer resmi mengajukan kasasi atas putusan Pengadilan Niaga Semarang yang membatalkan putusan Penangguhan Kewajiban Pembayaran Utang sehingga pabrik jamu tersebut dinyatakan pailit.

"Secara resmi pada 10 Agustus kami menyerahkan memori kasasi," kata kuasa hukum PT Nyonya Meneer La Ode Kudus di Semarang, Jumat 11 Agustus 2017.

Terdapat sejumlah alasan dalam memori kasasi yang diajukan. Dia menilai, putusan hakim pengadilan niaga tersebut bertentangan dengan fakta yang sebenarnya.

Putusan pengadilan pada 2015 tentang penundaan kewajiban pembayaran utang disepakati oleh para kreditor serta PT Nyonya Meneer sebagai debitor. Dalam putusan itu, Hendrianto Bambang Santoso sebagai salah satu kreditor yang menggugat putusan tersebut hingga Nyonya Meneer pailit juga turut menandatangi kesepakatan damai itu.

Sebelumnya, Pengadilan Niaga Kota Semarang mengumpulkan para kreditor Nyonya Meneer untuk mendata serta memverifikasi besaran utang yang harus dibayarkan perusahaan jamu tersebut usai diputus pailit.

Pertemuan yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri Semarang dipimpin oleh Hakim Pengawas Edi Suwanto. Menurut Edi, pertemuan kali itu merupakan rapat pertama kreditor yang digelar usai putusan pailit PT Nyonya Meneer pada 3 Agustus 2017.

Baru-baru ini pun berembus angin segar. Rachmat Gobel berencana membantu Nyonya Meneer yang diputuskan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang. Hanya saja, belum bisa diketahui langkah penyelamatan apa yang akan dilakukan mantan Menteri Perdagangan tersebut.

Saat dikonfirmasi, Rachmat masih enggan menjelaskan secara detail penyelamatan yang dia lakukan. Apakah akan dilakukan akuisisi perusahaan secara penuh atau Rachmat hanya menanamkan modal saja di perusahaan tersebut.

Lalu, bagaimana masyarakat menyikapi persoalan yang melilih Nyonya Meneer mengingat kiprahnya di Indonesia sudah begitu lama?

1. Fajar (25) Karyawan Swasta

Kenapa Nyonya Meneer bangkrut, saya lihatnya emang karena jamu sudah bukan menjadi kebutuhan masyarakat. Maksudnya masyarakat sekarang kalau lagi kurang enak badan, atau lagi sakit maunya pakai obat yang instan. Kalau dulu kan jamu masih dipercaya sebagai pilihan masyarakat untuk membantu nyehatin badan mereka. Itu yang menurut saya membuat Nyonya Meneer enggak mampu bertahan.

Peminat jamu kelihatannya emang sudah enggak sebanyak dulu. Dulu anak kecil aja suka jamu kan, minimal beras kencur. Kalau sekarang mungkin jamu cuma dikonsumsi sama orang-orang tua saja, itu pun jumlahnya sudah berkurang banget kalau yang saya lihat.

Saya sudah enggak pernah minum jamu lagi. Bukan karena enggak suka jamu tapi jenuh sama rasanya.

Bisa saja Nyonya Meneer diselamatin lagi. Tapi tergantung kesungguhan perusaahannya.

2. Nur Ajis (21) Mahasiswa

Saya agak kaget juga kenapa Nyonya Meneer bisa bangkrut. Saya pikir dia kan perusahaan jamu tertua di Indonesia. Harusnya kalau dia sudah bisa bertahan selama ini kan artinya dia punya kemampuan yang baik dari sisi perusahaannya.

Bisa juga karena peminat jamu udah sedikit, makanya dia bangkrut karena enggak punya banyak pemasukan.

Saya enggak ingat kapan terakhir kali saya minum jamu. Sudah lama banget enggak minum jamu. Sudah jarang lihat juga orang yang jualan jamu. Tapi kalau enggak salah ada yang jual sachetan gitu ya.

Iya yang saya tahu kan dia terbebani sama utang. Nah kalau mau jalan lagi usahanya gimana caranya Nyonya Meneer bisa ngelunasin dulu utangnya. Masalahnya, kalau pemasukan sudah dikit kan susah bayar utangnya.

3. Erwin Purnomo (41) Freelance

Kalau saya ngeliatnya bukan hal aneh sih Nyonya Meneer bangkrut. Namanya usaha kan ada waktunya dia di atas, ada waktunya dia di bawah. Kalau kata orang sih itu siklus bisnis.

Harus diakuin peminat jamu kayaknya emang udah mulai berkurang. Bahkan udah jarang banget mungkin khsususnya anak-anak muda. Sekarang kan anak muda lebih suka ngopi. Warung kopi, kafe-kafe kopi kan banyak. Sedangkan jamu udah jarang juga yang jualnya.

Saya sudah lama banget enggak minum jamu. Mungkin lama-lama bosen sama rasa jamu yang gitu-gitu saja. Padahal di sisi lain jamu bikin sehat.

Kalau kondisinya sudah parah banget sih ragu kalau Nyonya Meneer bisa bangkit lagi. Tapi kalau misalnya diambil alih orang yang punya banyak modal mungkin saja.

4. Ahmad Rizky (24) Karyawan Swasta

Sebagai perusahaan yang sudah setua Nyonya Meneer dan akhirnya bangkrut, mungkin dia minim inovasi. Dari dulu sampai sekarang mungkin produk dia gitu-gitu saja. Makanya konsumen lama-lama jadi jenuh.

Kalau saya enggak bisa disalahin juga ya kalau sekarang peminat jamu apalagi yang tradisional yang sudah semakin sedikit sebagai penyebab kebangkrutan Nyonya Meneer. Kalau dia mau inovasi pasti bisa tetap jalan usahanya.

Saya sudah jarang banget konsumsi jamu. Sekarang saya lihat juga sudah susah nemuin tukang jamu. Kalau dulu biasanya tiap pagi atau sore ada aja yang lewat. Tapi sekarang hampir enggak ada lagi.

Harusnya masih bisa ya Nyonya Meneer dihidupkan kembali usahanya. Tapi yang pasti enggak bisa sendiri. Dia harus melibatkan pengusaha lain. Kalau yang saya baca di berita kan ada pengusaha yang berniat mau nyelamatin Nyonya Meneer tapi kurang tahu juga dengan cara apa nyelamatinnya.

5. Dinda (27) Ibu Rumah Tangga

Iya, Nyonya Meneer itu udah terkenal banget di masyarakat. Bahkan sering dijadiin bercandaan sama orang-orang soal tagline perusahaannya itu. Kasian sih kalau akhirnya bangkrut.

Bisa jadi karena karena konsumen jamu udah sangat sedikit. Sekarang kan orang lebih suka sama yang modern. Jamu sudah kalah sama minuman yang aneh-aneh tapi laku banget.

Saya sudah enggak pernah konsumsi jamu. Mungkin kebawa gaya hidup juga ya. Padahal waktu kecil suka minum jamu kalau ada jamu gendong yang lewat. Sekarang kan kalau dilihat udah jarang banget tukang jamu.

Ya harusnya perusahaannya punya cara gimana supaya si Nyonya Meneer itu bisa bangkit lagi. Pahit-pahitnya dijual ke pengusaha lain. Itu pun kalau ada yang mau beli.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini