Image

Wih, Total Dana Himpunan Pasar Modal Capai Rp622 Triliun Dalam 5 Tahun

Dedy Afrianto, Jurnalis · Minggu 13 Agustus 2017, 12:10 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 08 13 278 1755035 wih-perusahaan-himpun-dana-dari-pasar-modal-capai-rp622-triliun-dalam-5-tahun-3rSkf1so85.jpg Wimboh Santoso Peresmian Banteng Wulung (Foto: Dedy/Okezone)

JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia hari ini memperingati 40 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia. Pasar modal sendiri saat ini terus berkembang dan menjadi salah satu sumber dana dari proyek infrastruktur di Indonesia.

Menurut catatan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), selama kurun waktu 5 tahun terakhir, jumlah dana yang berhasil dihimpun berbagai perusahaan dari pasar modal, baik melalui penerbitan saham maupun obligasi korporasi, telah mencapai Rp622 triliun. Sementara nilai kapitalisasinya hingga saat ini telah mencapai lebih dari Rp6.000 triliun.

 Baca juga: 40 Tahun Pasar Modal, Hebat! Kapitalisasi Pasar di Indonesia Meningkat 200.000%

"Peningkatan selama 5 tahun ini telah mencapai lebih dari 40% dan peningkatan ini sekaligus menunjukkan peningkatan peran pasar modal dan potensi perkembangannya dalam memenuhi kebutuhan pendanaan tidak hanya bagi banyak perusahaan di Indonesia namun juga bagi pemerintah," tutur Wimboh di depan Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Minggu (13/8/2017).

OJK pun terus mendorong agar berbagai perusahaan BUMN dan Non BUMN maupun perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia untuk memanfaatkan pasar modal Indonesia sebagai tempat untuk memobilisasi dana investasi. Dana investasi yang dimaksud bisa berasal dari dalam maupun luar negeri.

Baca juga: Ada Dana Desa, Sri Mulyani: Masyarakat Pedesaan Bisa Investasi di Pasar Modal!

"Kita buka kesempatan seluas-luasnya kepada investor domestik untuk menjadi pemegang saham dari berbagai perusahaan dimaksud," ungkap Wimboh.

Untuk mendukung hal tersebut, berbagai kebijakan di bidang pasar modal akan terus diluncurkan oleh OJK. Saat ini, telah terdapat beberapa kebijakan yang telah dan akan diluncurkan oleh OJK.

Dari sisi regulasi, OJK telah meluncurkan POJK Nomor 4 tahun 2017 tentang Dana Investasi Multi Aset Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif. Aturan ini telah diterbitkan dalam rangka mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak.

OJK juga telah menerbitkan POJK Nomor 53 dan 54 tahun 2017 yang diterbitkan untuk memberikan kesempatan bagi emiten dengan aset skala kecil dan menengah untuk memperoleh pendanaan melalui Pasar Modal.

"Belum lama ini kami telah menerbitkan POJK Nomor 52 tentang Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (POJK DINFRA), yang diterbitkan untuk menyediakan skema investasi kolektif bagi berbagai project infrastruktur," ungkap Wimboh.

OJK juga telah menetapkan kebijakan yang memungkinkan pembiayaan infrastruktur dapat dioptimalisasi melalui pemanfaatan beberapa instrument yang telah ada seperti kontrak investasi kolektif, maupun peluncuran beberapa instrumen baru seperti surat berharga perpetual, maupun project bond.

"Sementara itu, kami juga terus mendorong peningkatan jumlah investor (pemodal) domestik, baik yang retail dan institusi, khususnya industri keuangan non bank (asuransi dan dana pensiun). Selain mendorong mereka meningkatkan portofolio investasi, kami juga mendorong mereka untuk Go-Public memanfaatkan sumber pendanaan jangka panjang dari pasar modal," ujarnya.

OJK pun berharap upaya-upaya yang telah dilakukan tersebut dapat meningkatkan peran pasar modal dalam mendukung upaya peningkatan ekonomi nasional. Khususnya adalah pada sektor pembiayaan pembangunan infrastruktur yang sedang dan akan dilakukan pemerintah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini