nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BPH Migas Awasi BBM Satu Harga dan Realisasi Penjualan Premium di SPBU

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 18 Agustus 2017 21:07 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 18 320 1758668 wah-bph-migas-kaji-penghapusan-premium-zTlw5EB3gR.jpg Ilustrasi: Okezone

JAKARTA - Pemerintah tengah menyiapkan revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak (BBM). Tujuannya, SPBU wajib menyediakan Premium di seluruh wilayah Indonesia, sehingga masyarakat dapat menikmati program BBM Satu Harga.

Berdasarkan Perpres yang ada saat ini, untuk BBM penugasan dilakukan di luar Jawa Madura Bali (Jamali). Ada sekira 2.000 SPBU yang wajib menjual bensin jenis premium.

Baca juga: BBM Premium Dihapus secara Bertahap

Menurut Direktur Pemasaran Pertamina Iskandar, Pertamina akan menaati apapun hasil revisi Perpres 191. Namun yang perlu diketahui, kelangkaan bensin jenis premium di sejumlah wilayah utamanya di luar Pulau Jawa perlu diketahui sebabnya.

Baca juga: Pengusaha Lebih Takut Premium Dihapus

"Kemarin Kalimantan Timur, kejadian bukan semata-mata premium kosong, tapi ketidakadaan karena ada gangguan operasi setengah hari. Setelah itu kembali normal," ujarnya di kantor BPH, Jakarta, Jumat (18/8/2017).

Terlepas dari hal tersebut, Iskandar mengatakan, sebenarnya roadmap ke depan yang disepakati adalah bahwa produk bahan bakar minyak harus lebih bagus. Bukan bermaksud mengurangi pasokan bensin jenis premium, namun seperti produsen mobil yang akan mengeluarkan rekomendasi bahwa jenis mesinnya tidak akan menggunakan jenis premium.

Baca juga: Tak Ada Permintaan, Bensin Premium Dihapus

"Kami kan sesuaikan tuntutan teknologi motor mobil, kami komplain produk lebih bagus,"ujarnya.

Dalam prosesnya, Pertamina sebenarnya di awal tahun ini sempat berpikir bahwa akan ada migrasi pengguna ke premium lagi. Tapi ternyata kondisi sekarang justru yang meledak penggunanya adalah pertamax dengan pertumbuhan 25%.

"Berarti kesadaran customer lebih baik lagi. Langkah ini yang perlu disentuh terus supaya edukasi terhadap masyarakat terus dilakukan,"tandasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini