nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wah, Pendapatan Tower Bersama Nyungsep 39,5% Jadi Rp514 Miliar

Agregasi Kamis 24 Agustus 2017 15:53 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 08 24 278 1762282 wah-pendapatan-tower-bersama-nyungsep-39-5-jadi-rp514-miliar-lQrdYqEO1A.jpg Ilustrasi Pasar Saham Indonesia. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Sepanjang semester pertama 2017, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) membukukan pendapatan sebesar Rp1,94 triliun. Angka ini meningkat 6,75% bila dibandingkan dengan pendapatan pada periode yang sama tahun lalu yakni Rp1,81 triliun.

Sementara beban pokok pendapatan perusahaan pada semester pertama 2017 yakni Rp220,35 miliar. Ini meningkat 8,22% bila dibandingkan dengan beban pokok pendapatan periode yang sama tahun lalu yakni Rp203,6 miliar.

Sedangkan laba kotor TBIG pada semester 1-2017, yakni Rp1,72 triliun. Angka ini meningkat 6,57% bila dibandingkan dengan laba kotor periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp1,61 triliun.

Kemudian dari sisi laba bersih TBIG pada semester pertama sebesar Rp514,3 miliar. Dimana laba bersih ini menurun 39,53% dari Rp841,99 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Menurut Helmi Yusman, Direktur Keuangan TBIG, sebenarnya tidak tergerus. Tapi tahun 2016 ada efek laba pajak tangguhan atas revaluasi aset dan tahun ini tidak ada.

Helmi mengatakan bahwa laba pajak tangguhan dan revaluasi aset ini hanya dilakukan pada tahun 2016 yang lalu, sehingga laba semester pertama 2016 bisa terkerek. Asal tahu saja, selama ini, pendapatan TBIG berasal dari pelanggan pihak ketiga yakni operator telekomunikasi. PT Telekomunikasi Seluler atau Telkomsel menjadi kontributor terbesar pendapatan TBIG. Yakni 874,01 miliar atau setara dengan 45,03%.

Kemudian disusul oleh PT Indosat Tbk dengan Rp450,06 miliar atau setara dengan 23,19%. Lalu ada PT XL Axiata Tbk dengan Rp265,71 miliar atau setara 13,69%. PT Hutchison 3 Indonesia dengan Rp188,18 miliar setara 9,7%. Selain itu, PT Smartfren Telecom Tbk dengan Rp95,83 miliar setara 4,94%. PT Internux sebesar Rp50,14 miliar setara dengan 2,58% dan lainnya Rp16,85 miliar setara dengan 0,87%.

Genjarnya ekspansi bisnis perusahaan operator telekomunikasi di layanan 4G LTE, rupanya berkah bagi TBIG. Tengok saja, di kuartal pertama 2017, perseroan berhasil membangun 1.000 tower dari 2.400 tower yang ditargetkan, atau sudah mencapai 40% dari target.

Helmy Yusman Santoso, mengakui, perseroan merasakan manfaatnya dengan ekspansi jaringan 4G berbagai operator. Ini karena operator telekomunikasi harus memasang lagi antena 4G di menara. Apalagi saat ini pertumbuhan data lebih pesat dibandingkan voice dan sms, sehingga operator akan senantiasa meningkatkan teknologi terkait data.

Helmy juga bilang di semester kedua yang akan datang perusahaan bakalan fokus pada pertumbuhan organik dibandingkan melakukan akuisisi. Hal ini lantaran pertumbuhan organik biayanya lebih murah. Selain itu, saat ini sudah jarang perusahaan menara yang bisa diakuisisi. Sebagai informasi, tahun ini perseroan mengalokasikan dana belanja modal sebesar Rp2 triliun-Rp2,5 triliun.

Herman Setya Budi, Presiden Direktur Tower Bersam Infrastructure pernah bilang, perseroan menargetkan dapat menambah 1.250 tower baru dan 1.250 kolokasi. Pembangunan satu unit menara telekomunikasi, lanjutnya, menghabiskan dana sekitar Rp1 miliar-Rp1,2 miliar. Adapun biaya kolokasi jauh lebih murah yakni sebesar Rp150 juta.”Capex yang kami siapkan tahun ini sekitar Rp2 triliun-Rp2,5 triliun," ungkapnya.

(mrt)

Berita Terkait

Agregasi Harian Ekonomi Neraca

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini